
Nara kembali lagi ke hadapan ibunya.
"Bu, belum ada stock karena hari ini mengutamakan untuk pesanan yang sepuluh ribu itu. Misalkan lusa baru di kirim kira-kira mau nggak, coba ibu tanyakan ke Tante Hety," ucap Nara menjelaskan.
"Baiklah, nanti ibu akan hubungi Tante Hety lagi. Ya sudah lanjut lagi makanmu dan nanti secepatnya selesaikan pesanan jangan sampai telat," ucap Bu Resy mengingatkan.
"Siap bos, laksanakan tugas segera."
Nara menggoda ibunya dengan ia berlagak hormat padanya.
Bu Resy hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia pun berlalu pergi ke toko oleh-oleh Nara kembali untuk melanjutkan makan baksonya dan untuk mengirimkan chat pesan pada Hety.
"Sebaiknya aku kirim pesan dulu pada Mba Hety, supaya ia tak menunggu-nunggu kabar dari sini."
Saat itu juga Bu Resy mengirim chat pesan kepada Hety.
[Maaf mengganggu waktunya sejenak Mbak Hety, cuma ingin menginformasikan tentang stok cemilan yang ada di rumah produksi kami.]
[Setelah barusan saya cek ternyata stoknya itu tidak mencukupi untuk dikirim ke tempat Mbak Hety. Menurut perkiraan, kami bisa mengirim stoknya itu sekitar dua hari lagi setidaknya lusa baru bisa kami kirim.]
[Karena kebetulan hari ini kami juga sedang maraton mengejar stok untuk pesanan hari ini juga dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika hari ini kami tidak ada pesanan mungkin bisa hari ini juga kami mengirim ke rumah Mbak Hetty.]
[Tetapi ternyata kami mendapatkan pesanan yang begitu banyaknya jadi mohon maaf Mbak Hety, kami hanya bisa mengirimkan ke rumah Mbak Hety kira-kira lusa. Apakah sekiranya Mbak Hety bersedia jika menunggu sampai lusa?]
Empat chat pesan di kirim ke nomor ponsel milik Hety saat itu juga.
Drt drt drt drt
__ADS_1
Ponsel Hety bergetar tanda ada notifikasi chat pesan masuk dan ini nggak hanya satu tapi empat pesan dari Bu Resy.
Saat itu juga Hety membaca empat pesan yang di kirim ke nomor ponsel dirinya. Setelah ia selesai membacanya segera ia membalas chat pesan tersebut.
"[Iya, Mbak Resy. Tidak apa-apa jika lusa di kirimnya, nanti saya juga akan konfirmasi pada para pelanggan. Oh ya, jka bisa kirimnya di tambah ya, dia kali lipat karena kami juga banyak pesanan cemilan produksi Nara.]
Chat tersebut langsung sampai ke nomor ponsel Bu Resy, ia pun segera membalasnya kembali.
"[Siap, Mba Hety. Nanti akan saya konfirmasikan pada Nara.]
Setelah chat terakhir di balas, Hety sudah tidak mengirim chat pesan kembali.
Bu Resy segera menghabiskan baksonya yang sudah dingin, setelah itu ia kembali ke rumah produksi untuk menginformasikan kepada Nara mengenai jumlah pesanan dari Hety.
"Nara, ada kabar baik. Tante Heti sudah setuju jika lusa kita akan mengirimkan ke rumahnya, tetapi ia meminta dua kali lipat pengirimannya. Karena menurutnya di tokonya juga banyak pesanan cemilan produksimu, bagaimana menurutmu apakah kira-kira sanggup?" tanya Bu Resy.
"insya Allah sanggup, Bu."
"Kamu yakin Nara, karena pengirimannya tidak sedikit loh. Secara otomatis produksinya juga harus lebih banyak tiga kali lipat bukan hanya untuk pengiriman ke rumah Tante Hery tapi juga untuk stok kita sendiri."
"Yang dua kali lipat untuk di kirim ke rumah Tante Hety, yang satu kali lipat untuk stok toko kita sendiri. Yakin kamu sanggup?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Resy, Nara tersenyum.
"Aku yakin sanggup, Bu. Kalau perlu sekarang juga kita tarik beberapa orang yang ada di kota V untuk kembali kerja di sini. Pasti mereka mau, nanti permasalahan tempat tinggal kita akan carikan tempat kost untuk mereka. Jika orang yang sudah berpengalaman di bidang ini kan kita tidak usah repot-repot untuk mengajarinya," ucap Nara.
"Nara, aku bisa bantu kamu dech. Nanti aku yang akan menemani kamu ke kota B, kerumah para pekerjamu yang dulu," ucap Wildan siap sedia selalu.
__ADS_1
"Ibu dengar sendiri kan, sudah ada sopirnya nih. Aku tidak perlu memesan taksi online ataupun naik kendaraan umum ke kota B. Mas Wildan juga bersedia dengan senang hati bukan dengan keterpaksaan kan, mas?" Nara menarik turunkan alisnya.
"Jelas dengan sangat senang hati lah," ucap Wildan terkekeh.
"Teman-teman semua, sekiranya besok untuk dua hari lembur apakah kalian bersedia? untuk uang lemburnya pastinya ada, jadi kalian jangan khawatir," ucap Nara.
Serentak semua pekerja yang ada di rumah produksi bersorak bersedia, jika besok selama dua hari lembur. Bahkan hari ini pun lembur mereka tak bermasalah. Karena mereka telah kerasan bekerja dengan Nara. Di sampimg supel musah bergaul, Nara juga tak segan-segan rela berbagi rela membantu pekerja yang sekiranya butuh uluran tangan.
"Ya sudah ibu tenang mendengar nya," ucap Bu Resy lega.
"Bu, bagaimana kalau sekarang saja aku dan Mas Wildan ke kota B untuk menjemput para pekerja yang dulu pernah bekerja bersama kita?" tanya Nara.
"Apa kalian tidak cape, perjalanan ke kota B memakan waktu tidak cuma satu jam loh, bisa tiga jam perjalanan," ucap Bu Resy.
'Tante, nggak usah khawatir. Kalau cape kita bisa berhenti sejenak untuk istirahat," ucap Wildan.
"Hem ya sudah dech, terserah kalian saja. Yang terpenting hati-hati di jalan," pesan Bu Resy.
"Lantas apakah ibu sanggup mengurus pesanan ini? semua sudah siap, Bu. Tinggal di hitung ulang dan di packing ke dalam kardus besar saja. Lalu siap kirim," ucap Nara.
"Percaya saja, ibu pasti bisa kok. Lagian ibu jhda sering jam terima pesanan sab urus sendiri kalau kamu sedang sibuk urus kuliahmu?" ucap Bu Resy meyakinkan Nara supaya ia tak tahu lagi dengan kemampuan dirinya.
"Ya sudah, ksu begitu kami pamit pergi sekarang juga ya Bu. Barusan aku sudah hubungi mereka semua dan katanya msy kok kerja lagi dengan kita," ucap Nara.
Saat itu juga Nara dan wildan berlalu pergi meninggalkan rumah produksi tersebut. Dan mereka melangkah mad ke mobil Willdan. Segera Wildan melajukan mobilnya menuju arah kota B.
"Mas Wildan, aku minta maaf ya. Mas pacaran sama aku malah seperti ini ya? selalu saja aku Bokir repot, mas. Pacaran kita nggak kaya anak muda yang lain, yang nonton yang healing dan lain-lain," ucap Nara merasa tak enak hati.
__ADS_1
"Sayang, kamu ini bicara apa sih? justru aku sangat bangga dengan kekasihku ingin yang masih muda tapi sudah sukses dalam berbisnis," puji Wildan.