Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Bantuan Wildan


__ADS_3

Setelah cukup lama Wildan makan siang, kini ia fokus membantu Nara untuk packing cemilan-cemilan tersebut.


Sembari packing, ia pun mengutarakan saran yang tadi di katakan oleh orang tuanya.


"Nara, apa nggak sebaiknya kamu buka satu rumah produksi lagi dan juga mencari para pekerja lagi, supaya pekerjaan segera terselesaikan dan tak memakan waktu lama," saran Wildan.


"Kamu juga tidak begitu cape, kadang aku tak tega melihatmu sepertinya terlalu kelelahan," saran Wildan lagi.


"Itu memang sudah terpikirkan olehku Mas Wildan, tetapi dananya yang belum ada. Sebenarnya sebelah ruko toko oleh-oleh, akan dijual tapi dana yang aku punya belum cukup untuk membeli ruko tersebut," ucap Nara lirih.


"Bagaimana kalau kita berbicara di ruang kerjamu saja Nara, biar lebih nyaman. Karena banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Wildan.


Nara pun menyanggupi keinginan Wildan, mereka melangkah keluar dari rumah produksi tersebut menuju ke toko oleh-oleh Nara dan masuk ke dalam ruang kerja Nara.


"Nara, memangnya berapa dana yang dibutuhkan untuk membeli ruko sebelah tokomu ini?" tanya Willdan.


"Lumayan banyak Mas, kalau nggak salah waktu ayah tanya-tanya pada pemilik ruko tersebut mereka meminta harga lima ratus juta. Sebenarnya sih bisa diangsur tapi kalau melalui sistem angsuran harganya lebih mahal," ucap Nara.


"Lantas berapa dana yang kamu punya untuk saat ini?" tanya Willdan menyelidik.


"Aku sebenarnya sudah ada mas, dana lima ratus juta, tetapi jika semua dipakai untuk membeli ruko itu lantas aku sama sekali tidak punya simpanan. Dan juga biaya untuk merenovasi ruko juga butuh biaya banyak bukan" ucap Nara.


"Begini saja, Nara. Biar ruki itu aku yang beli, dan juga biaya untuk renovasinya aku yang mengurusnya. Uangmu jangan di pergunakan, simpan saja baik-baik," ucap Wildan


"Jangan, mas. Kita kan baru pacaran masa iya kamu sudah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk aku? walaupun misalkan itu sebagai pinjaman juga aku takkan bisa melunasi dalam waktu singkat," ucap Nara menolak gakus bantuan dari Willdan.


"Nara, kamu jangan menganggapku sebagai orang lain. Lagi pula ini kesempatan bagus untuk dirimu, untuk mengembangkan usahamu. Dan kebetulan ruko ini tepatnya juga sangat strategis bukan? samping toko oleh-olehmu ini," ucap Wildan.


Sejenak Nara terdiam seolah sedang berpikir tentang niat baik dari Willdan.

__ADS_1


'Mas Wildan, aku tidak bisa memutuskan sendiri. Aku harus membicarakan hal ini dengan ayah dan ibuku terlebih dahulu ya. Nggak apa-apa kan, jika aku tidak langsung menjawabnya sekarang?" tanya Nara untuk memastikan.


"Nggak apa-apa, sayang. Santai saja, kamu berikan saja nomor ponsel pemilik ruko itu supaya ia tidak menjual rukonya pada orang lain," ucap Wildan.


Nara pun bersedia memberikan nomor ponsel pemilik ruko di samping toko oleh-oleh Nara.


Malam harinya, Nara pun mengajak bicara kedua orang tuanya.


"Ayah-ibu, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ucap Nara merasa ragu.


"Ada apa Nara, sepertinya kok serius sekali?" tanya Ayah Bimo.


"iya Nara, raut wajahmu terlihat sangat serius sekali sebenarnya ada apa sih?" tanya Bu Resy.


"Ayah-ibu, usaha produksi cemilan aku kan semakin hari semakin berkembang dan aku rasa juga memerlukan rumah produksi lagi karena rumah produksi yang satu terlalu sempit dan butuh satu rumah produksi lagi serta beberapa karyawan lagi apakah kiranya kalian setuju?" tanya Nara.


"Kami setuju saja selama itu suatu hal yang baik dan positif, bukankah waktu itu ayah juga sempat menanyakan harga ruko yang ada di toko yang ada di toko sebelah toko oleh-oleh mu Nara? tetapi kan kamu mengatakan jika dana yang kamu miliki belum cukup dan kebetulan juga ayah punya dana tetapi untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk sekolah adikmu yang saat ini akan masuk ke jenjang SLTP," ucap Ayah Bimo.


"Misalkan dana tersebut dipinjamkan padaku itupun aku agak keberatan ayah, karena pasti kan aku tidak bisa melunasinya hanya dalam waktu singkat. Karena uang lima ratus juta beserta untuk renovasi ruko itu jumlahnya tidaklah sedikit."


"Tetapi jika hanya mengandalkan satu rumah produksi juga sepertinya kurang efektif apalagi usaha aku kan sedang berkembang pesat makanya aku ini sedang galau sekali Ayah-Ibu."


Mendengar kejujuran yang dikatakan oleh Nara, ayahnya merasa terharu dan iba.


"Nara, kalau menurut ayah.


Kamu terima saja niat baik dari Wildan, lagi pula ini untuk usahamu supaya kedepannya lebih maju lebih berkembang. Nanti ayah akan membantu mengangsur uang yang dipinjamkan oleh Wildan padamu. Ayah tidak akan tinggal diam jadi kalau menurut ayah terima saja niat baiknya," ucap Ayah Bimo dengan sangat yakin.


"Baiklah, ayah. Jika itu keputusannya, aku akan menyanggupi dan menerima bantuan dari Mas Wildan," ucap Nara bisa bernapas lega.

__ADS_1


Ia pun besok pagi akan mengatakan hal itu pada Willdan.


***********


Tanpa sepengetahuan Nara, Wildan mengajak bertemu pemilik ruko tersebut. Dan ia bahkan menawar harga rukonya.


"Alhamdulillah, aku berhasil membeli ruko itu bahkan dengan menawar nya. Aku yakin orang tua Nara akan menyetujui keputusan dan saran dariku. Demi berkembangnya produksi usaha cemilan Nara," batin Willdan.


Pagi benar Wildan telah menemui pemilik ruko tesebut dan mengadakan perjanjian jual beli. Satu jam lamanya mereka, Wildan dan pemilik ruko itu bernegosiasi.


Setelah itu Wildan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia dan lega. Ia sangat yakin jika rumah produksi di tambah satu lagi, usaha Nara akan semakin luas.


Tiba-tiba ponsel Wildan berdering yang ternyata adalah panggilan telepon dari Nara. Wildan pun lekas mengangkatnya.


"Ada apa, sayang? pasti sepagi ini kamu sudah kangen padaku kan?"


"Hhee Mas Wildan, pagi-pagi sudah merayu-rayu seperti itu?"


"Nah loh, ngaku saja dech. "


"Mas, aku ingin mengatakan hal yang waktu itu Mas Wildan katakan."


"Yang mana, sayang?"


"Tentang tawaran bantuan dari Mas Wildan untuk membeli ruko sebelah samping toko oleh-olehku."


"Oh ya, bagaimana keputusan orang tuamu?"


"Mereka setuju, Mas. Dengan syarat kelak kami akan mengangsurnya padamu, mas."

__ADS_1


Mendengar akan hal itu, Wildan sangat senang. Ia sudah yakin jika orang tua Nara pasti akan setuju, makanya ia sudah membelinya dahulu tanpa sepengetahuan Nara.


"Ya Allah, semoga dengan bertambahnya rumah produksi Nara. Kelak usahanya juga bertambah maju," doa Wildan di dalam hatinya.


__ADS_2