Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Mengaku Juga


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Willdan tentang masa lalunya bersama Tya, hati Bu Resy lega dan sudah tidak penasaran lagi.


"Terima kasih ya Nak Wildan, ats kejujurannya dan kesediaannya menceritakan tentang masa lalu Nak Wildan. Dan sekali lagi Tante minta maaf ya," ucap Bu Resy seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Iya Tante sama-sama, nggak usah minta maaf karena tidak ada yang salah di sini jadi bersikaplah seperti biasa saja, tante," ucap Wildan menyunggingkan senyuman.


"Ya sudah silakan saja kalau kalian bercengkrama atau ingin melakukan aktivitas yang lainnya ibu tidak akan mengganggu." Saat itu juga Ibu Resy keluar dari ruang kerja Nara, ia kembali ke ruang utama yakni ke toko oleh-oleh.


"Mas Wildan, sekali lagi aku minta maaf atas sikap ibuku dan segala pertanyaannya yang tidak bermutu tadi. Sebenarnya hal itu tidak perlu dipertanyakan," ucap Nara merasa tidak enak dengan Wildan.


Sudahlah sayang, kamu jangan ikut-ikutan seperti ibumu meminta maaf terus menerus. Karena di sini tidak ada yang salah, apa yang ibumu lakukan bagiku wajar saja," ucap Wildan.


"Oh iya sayang, dari pada kita berdiam diri seperti ini bagaimana kalau kita ke rumah produksi cemilan dirimu? aku juga ingin loh melihat bagaimana para pekerja membuat cemilan-cemilan tersebut penasaran juga," ajak Wildan.


"Baiklah Mas Wildan, kebetulan rumah produksinya sekarang sudah dipindah di samping toko oleh-oleh ini. Karena untuk mempermudah para pelayan mengambil stok, karena jika masih berada di dekat rumahku kasihan juga mereka. Harus menyeberang jalan dan kadang jalan raya begitu ramainya sehingga akan memakan waktu lama," ucap Nara.


Nara pun melangkah keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh Wildan dan keduanya berjalan berdampingan keluar dari toko oleh-oleh tersebut menuju ke samping toko di mana ada sebuah rumah minimalis yang digunakan untuk sebagai rumah produksi cemilan tersebut.


Lantas mereka masuk ke dalam rumah produksi tersebut. Wildan sangat menikmati dirinya berada di dalam dengan mengamati para pelayan yang begitu cekatan dalam mengolah segala jenis cemilan. Bahkan Wildan mengajak Nara untuk berada di bagian packing, dia pun iseng ingin sejenak membantu para pelayan yang ada di bagian packing dengan memaking beberapa produk cemilan Nara.


Mereka berada di rumah produksi tersebut dalam waktu yang lumayan lama hingga pada akhirnya menjelang makan siang barulah mereka keluar dari rumah produksi tersebut.

__ADS_1


Pada saat mereka keluar dari rumah produksi tersebut tak sengaja mereka melihat ada Andre di depan toko oleh-oleh Nara.


"Untuk apa sih pemuda itu datang kemari? mengganggu acara diriku saja dengan Nara, membuat mood aku yang tadinya oke menjadi berantakan seperti ini," batin Wildan menatap tak suka ke arah Andre.


Tak sengaja Andre pun melihat ke arah Nara dan wildan. Apa yang dirasakan oleh Wildan juga dirasakan oleh Andre, dia begitu kesal melihat kebersamaan dirinya dengan Nara."


"Kenapa sih dosen itu selalu saja ada di hadapanku? bagaimana aku bisa meluluhkan atau mendapatkan cinta Nara jika seperti ini caranya? karena bagiku tidak ada celah sedikitpun sejak adanya dosen tersebut," gerutu Andre di dalam hati.


Nara melangkah pasti bersama dengan Wildan dan spontanitas wildan menuntun tangan Nara, ia pun hanya tersenyum dan tak menolak kelakuan Wildan tersebut.


Mereka menghampiri Andre yang dari tadi terpaku melihat kebersamaan mereka tanpa mengedipkan matanya sama sekali.


"Andre, ada apa kamu datang kemari?" tanya Nara menyelidik, ia juga tak suka dengan kedatangan Andre.


"Itu cuma perasaanmu saja Andre, jujur saja aku tidak ingin kamu salah paham jika aku masih bersikap seperti biasa padamu. Sejak kamu mengatakan tentang isi hatimu padaku aku memang sengaja sedikit menjauh darimu, karena tak ingin nantinya aku dikatakan memberikan harapan palsu padamu."


"Bukankah aku sudah mengatakan berkali-kali padamu jika hubungan kita itu hanya sebatas teman saja aku sama sekali tidak merasakan adanya getar cinta sedikitpun padamu. Jadi aku mohon kamu mengertilah dengan segala konsekuensinya."


"Apakah masih kurang jelas jika aku ini hanya ingin fokus dengan kuliahku saja aku tidak ingin memikirkan untuk masalah hati. Lagi pula aku selama ini tidak ada rasa padamu. Jadi jangan menunggu untuk hal yang tak kan mungkin terjadi di dalam hidupmu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nara justru Adre malah tersenyum.

__ADS_1


"Kamu itu terlalu munafik, Nara! kamu katakan tidak ingin menjalin kasih dan fokus dengan kuliahmu tetapi aku rasa itu hanya omonganmu belaka untuk menolak diriku."


"Aku lihat hubunganmu dengan Pak Wildan begitu dekat bahkan aku lihat kamu bergandengan tangan seperti tadi tanpa ada rasa sungkan sedikitpun. Aku melihat raut wajahmu begitu bahagia dan tersenyum."


"Apakah yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan Pak Wildan?"


Sejenak Nara menjadi panik dan cemas karena dia tidak sadar akan apa yang barusan dia lakukan dengan membiarkan Wildan menggandeng tangannya di depan mata, Andre.


"Aduh mampus, aku aku melupakan jika akan merahasiakan hubungan kasihku dengan Mas Wildan di hadapan para mahasiswa dan mahasiswa yang ada di kampus. Tetapi kenapa hari ini justru aku memperlihatkan kemesraanku di hadapan Andre yang adalah salah satu mahasiswa di kampus?" batin Nara panik dan cemas.


"Kenapa kamu diam saja Nara dan tak menjawab pertanyaanku?" tanya Andre kembali.


"Biarkan aku yang jawab ya Andre, memang kami telah menjalin kasih jadi kamu harus tahu diri saja tak perlu mendekati Nara lagi," ucap lantang Wildan.


"Yang aku tanya itu Nara bukan anda Pak Wildan, jadi aku hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya apakah memang Anda dan Nara benar-benar telah merajut kasih,' ucap Andre seraya menatap tajam mata Nara.


"Baiklah Andre, aku akan jujur padamu. Memang aku telah merajut kasih dengan Mas Wildan," ucap Nara singkat.


"Aku pikir kamu ini gadis yang sangat baik Nara, tetapi kamu tak ubahnya seperti gadis lain pada umumnya yang mempunyai sifat munafik.".


"Sekarang aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya, aku benar-benar kecewa dengan dirimu yang tak bisa berkata jujur."

__ADS_1


"Seharusnya kamu tak perlu mengatakan bahwa kamu akan fokus dengan kuliahmu dan tidak memikirkan tentang percintaan, jika pada akhirnya saat ini pun kamu telah menjalin kasih dengan dosen kita sendiri. Apakah itu bukan namanya seorang yang munafik?"


Ejekan demi ejekan di lontarkan oleh Andre karena sangat terpukul dan terluka mendengar pengakuan Nara barusan.


__ADS_2