
Pagi ini suasana hati Wildan sedang senang karena ia akan mengajar di kampus. Rasa senangnya ini karena ia akan mengajar di kelas Nara.
"Wah, anak gantengnya mamah ini cerita sekali jika akan mengajar di kampus," canda Papah Rendra.
"Jelas dong, papah. Kan aku akan bertemu dengan pujaan hati, belahan jiwaku yang paling ku sayang," ucap Willdan seraya terkekeh.
"Hem, tapi ngomong-ngomong sudah jadian belum sama Mba Naranya?" tanya Mita sang adik.
"Mita, kamu jangan seperti itu pada kakakmu," tegur Mamah Rifda.
"Mah, aku kan cuma bertanya masa nggak boleh? aku juga ingin tahu dong," ucap Mita manyun.
"Hem, Mita suka kepo dech. Pah-mah, aku berangkat ya ke kampus."
Pamit Wildan seraya mencium punggung tangan orang tuanya. Ia berlari kecil menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di pelataran rumah, karena batu saja di panaskan mesinnya oleh Mamang.
Ia melajukan mobilnya ke arah kampus dengan suasana hati yang sangat bersuka cita, tanpa ia tahu lagi-lagi Tya mengikuti laju mobilnya. Tya masih penasaran dimana saat ini Wildan mengajar sebagai dosen.
"Heran dech aku, padahal Wildan kan seorang direktur utama di sebuah perusahaan besar. Untuk apa juga ia masih harus bekerja sampingan menjadi dosen di sebuah kampus," gumam Tya memicingkan alisnya.
Tak berapa lama Wildan telah sampai di kampus, ia pun langsung memarkirkan mobilnya. Sementara Tya yang sedari tadi mengikuti laju mobilnya, hanya bisa parkir di tepi seberang jalan kampus.
"Oh ternyata Wildan mengajar di kampus itu, kurang kerjaan amat sih dia. Memangnya uang yang dihasilkan menjadi seorang direktur utama itu kurang banyak, sehingga dia harus mencari kerja sampingan hanya menjadi seorang dosen," cibir Tya merasa tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Wildan.
"Jika saja orang tua Wildan mau bekerja sama denganku, pasti aku akan lebih mudah untuk kembali ke pelukannya. Tetapi orang tuanya juga sudah tidak bisa menerimaku kembali, hingga akan sulit bagiku untuk bisa meluluhkan hati Wildan secara instan. Aku harus melalui proses seperti awal mula aku kenal dengan dirinya dulu, proses yang cukup melelahkan dan lama," batin Tya.
Tya pun melajukan kembali mobilnya menuju ke arah pulang karena ia sudah tidak penasaran lagi untuk mengetahui di mana saat ini Wildan bekerja menjadi seorang dosen.
__ADS_1
Berbeda situasi di dalam kampus seperti biasa semua mata para wanita baik itu dosen maupun mahasiswi selalu saja tertuju pada Wildan. Akan tetapi Wildan hanya tersenyum sekilas saja tanpa menanggapi semuanya, justru ia mencari-cari keberadaan Nara.
"Biasanya kalau pagi seperti ini Nara pasti melintas lewat sini tetapi kenapa ia belum juga datang ya? apakah pagi ini tidak ke kampus?" batin Wildan mulai gelisah menunggu kedatangan si pujaan hatinya.
Selagi asyik duduk dan pura-pura membaca buku muncullah sang pujaan hati yakni Nara melangkah pasti akan masuk ke ruang kelasnya.
"Nah itu dia pujaan hatiku yang selalu membuat jantungku ini berdetak begitu kencang dan ingin melompat keluar dari dadaku ini," batin Wildan saraya terus menatap ke arah Nara yang semakin mendekat ke arahnya.
"Selamat pagi Pak Wildan, pagi sekali bapak sudah sampai di kampus ini," sapa Nara menyunggingkan senyum khasnya yang membuat Wildan tergila-gila padanya.
"Pagi juga Nara, iya aku sengaja datang lebih awal karena ingin mengoreksi tugas para mahasiswa yang belum sempat aku koreksi di rumah, dan supaya aku tidak tergesa-gesa. Bukankah lebih baik jika berangkat lebih awal?" ucap Wildan menahan rasa gugupnya.
"Iya juga sih Pak, aku juga lebih suka berangkat lebih awal karena jadi tidak gugup dan lebih rileks," ucap Nara.
"Maaf ya Pak, saya permisi. Mau masuk ke kelas dulu karena kebetulan saya juga akan meneliti tugas yang sudah saya kerjakan di rumah siapa tahu ada yang salah dalam mengerjakannya," pamit Nara seraya kembali tersenyum.
Saat itu juga Wildan beranjak bangkit dari duduknya dan ia melangkah ke ruangan khusus para dosen.
Nara merasa heran melihat sikap Wildan yang menurutnya aneh.
"Untuk apa sih Pak Wildan sengaja duduk di depan teras kelasku ini? sementara ruangan dosen jaraknya juga lumayan jauh dari sini, aneh itu orang," batin Nara.
Sementara Wildan di ruangan dosen merasa lega karena sudah berhasil bertemu dengan pujaan hatinya di pagi hari. Dan dia pun mulai mengoreksi semua tugas yang dia terlupa tidak dikoreksi di rumah, hingga terpaksa ia koreksi di kampus.
Selagi fokus mengoreksi satu persatu tugas dari para muridnya datanglah seorang dosen wanita menghampiri dirinya.
"Pak Wildan, pagi sekali sudah ada di ruangan dosen," sapa seorang dosen wanita yang statusnya perawan tua.
__ADS_1
"Iya ini Bu Nia, kebetulan saya terlupa belum mengoreksi tugas para murid di kelas A. Hingga saya sengaja datang lebih awal ke kampus ini," ucap Willdan seraya tetap fokus pada kertas yang ada didepannya.
"Bagaimana kalau saya bantu mengoreksinya Pak Wildan, biar tugas anda cepat terselesaikan," Bu Nia menawarkan dirinya.
"Nggak usah, Bu Nia. Ini juga sebentar lagi akan selesai kok, cuma tinggal beberapa soal lagi," tolak Wildan secara halus.
"Oh ya sudah kalau begitu, selamat mengoreksi tugas para murid."
Dengan sangat kecewa Bu Nia berlalu pergi dari hadapan Wildan, ia pun duduk di kursinya. Tetapi tatapannya terus saja tertuju pada Wildan yang maaih saja menunduk sibuk dengan koreksi tugas para muridnya.
"Ya ampun, pangeranku sangat tampan sekali. Kapankah kiranya aku bisa bersanding dengan seorang pemuda tampan seperti Wildan ini?" batin Bu Nia seraya senyum-senyum sendiri tanpa ia sadar.
"Alangkah bahagianya wanita yang bisa bertahta di hatinya dan yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya."
"Jika saja Wildan mau menjadi pendamping hidupku, alangkah bahagianya diriku ini setiap hari aku pasti akan merasa bergembira selalu."
Terus saja Bu Nia berkhayal tentang Wildan, bahkan ia membayangkan jika saat ini dirinya sedang duduk di pelaminan bersanding dengan Wildan.
Hingga tak terasa bel masuk terdengar bunyinya, membuatnya terhenyak kaget dari lamunannya.
"Sialan, kenapa bel cepat sekali berbunyi padahal aku sedang asyik melamunkan kebersamaanku dengan Wildan?" batin Bu Nia sangat kesal.
Dia pun lekas menata bukunya dan bangkit dari duduknya seraya berlalu pergi dari ruangan dosen tersebut untuk menuju ke ruang kelas di mana saat ini ia akan bertugas mengajar.
Hal serupa juga dilakukan oleh Wildan.
"Alhamdulillah di saat bel berbunyi, semua tugas dari murid telah selesai aku koreksi."
__ADS_1