Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Bertemu Kembali


__ADS_3

Bimo merasa lega karena anaknya selalu patuh padanya dan tak pernah membangkangnya.


"Nah begitu, Nara. Ayah kan jadi senang punya anak gadis yang baik." Bimo mengusap pucuk rambut anaknya.


"Iya, ayah. Ternyata apa yang ayah katakan benar, saat ini Tara di rawat inap di rumah sakit karena sakit kepalanya itu," ucap Nara sedih.


Dia tak memungkiri masih ada sejuta rasa cinta untuk Tara.


"Nah kan, apa yang ayah katakan tadi ada benarnya. Tara sakit, jika terjadi hal yang lebih buruk lagi pada Tara apa kamu tak kan merasa bersalah nantinya?" ucap Ayah Bimo.


"Ya ayah, jangan sampai hal buruk terjadi padanya. Nanti seumur hidup aku akan merasa bersalah padanya," ucap Nara.


Sementara saat ini Tara sudah bisa tersenyum lega.


"Asik, anak mamah sudah bisa senyum," canda Hety terkekeh.


"Hheee mamah suka sekali goda aku ya," ucap Tara.


"Mamah senang, Tara. Jika kamu ceria lagi seperti ini, dan mamah harap ke depannya lagi kamu harus bisa lebih bersikap dewasa ya. Jangan seperti ini, bukan hanya mamah yang khawatir dengan kondisimu, tapi papah juga," pinta Hety.


"Iya, mah. Insa Allah aku tidak akan seperti ini kok. Aku akan berusaha tabah dan tegar. Tapi entah kenapa, mah. Aku begitu sayang pada Nara, jadi aku takut kehilangan dia. Nara sudah memaafkan aku, mah. Tetapi sayangnya saat ini dia jauh di kota lain jadi aku susah untuk bisa bertemu dengannya," ucap Tara sedih.


"Tara, kan ada ponsel. Kamu bisa setiap hari video call dan chatingan kan," Hety mencoba menghibur Tara yang sedang bersedih.


"Beda, mah. Biasa kan kita ke sekolah bersama dan jalani hari-hari bersama," ucap Tara.


"Tara, jika kamu ingin cepat bertemu Nara ya lekas sembuh. Nanti kita bersama-sama ke rumah Nara yang baru."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Hety, wajah Tara semakin sumringah. Dia senang sekali karena Hety akan mengajak ke rumah Nara di kota lain.


"Mamah serius kan?" Tara masih belum percaya dengan apa yang harus di katakan oleh Hety.


"Memangnya pernah mamah berbohong padamu?" Hety malah balik bertanya.


"Hhee nggak sih, mah. Mamah selalu tepati perkataan mamah."


Beberapa hari kemudian, pada saat liburan sekolah. Hety dan Hesa mengajak Tara ke luar kota untuk bertemu dengan Nara. Hatinya sangat riang gembira.

__ADS_1


"Tara, kamu nggak memberitahu pada Nara kalau kamu akan datang ke rumahnya?" tanya Hesa.


"Nggak pah, aku ingin kasih surprise padanya."


"Kalau kamu nggak ngomong khawatirnya Nara malah tidak ada di rumah. Sebaiknya kamu katakan saja sekarang padanya, dari pada nanti kita sudah jauh-jauh datang tapi tak bertemu," punya Hesa.


Tara sejenak diam seolah berpikir, Dalam hati dia menentang kemauan Hesa karena dia ingin membuat surprise untuk Nara. Tetapi setelah dia berpikir ulang, apa yang di katakan oleh Hesa ada benarnya.


Tara lekas mencet nomor ponsel Nara, dan langsung tersambung.


"Hallo, Nara. Loe sedang apa?"


"Hallo juga, gwe sedang berkemas akan pergi."


"Hah, pergi kemana?"


"Ke hati loe lah, ya ke kota B jenguk loe dan sekalian jenguk rumah lama kami."


"Sebentar jangan di tutup dulu ya, Nara.".


"Pah, benar apa yang dikatakan oleh papah. Untung kita belum pergi, tapi baru rencana. Ini Nara katanya sedang siap-siap akan ke kampung sini jenguk aku dan jenguk rumah lamanya. Bagaimana ini, pah?"


"Berarti kita tak jadi pergi kalau begitu, tunggu saja Nara datang ke sini. Nanti kalau Nara sudah sampai kita bisa main bareng dengannya ke rumah barunya," ucap Hesa.


"Eh, good idea lah."


Tara pun melanjutkan obrolannya sejenak dengan Nara karena dia tak ingin mengganggu waktunya Nara yang sedang sibuk berkemas.


"Ayah-ibu, tadi Tara telpon. Katanya hampir saja dia mau kemari, tapi untuk telpon aku dulu. Kalau tidak mungkin kita sudah di kota B, dia di sini. Dan dia katanya ingin kesini, yah-bu."


"Hem ya sudah begini saja, nanti kita tak usah lama di sana jadi kita bisa ajak Tara di sini untuk waktu yang lama. Toh kamu liburan sekolah lama juga kan?" ucap Hesa memberikan suatu keputusan.


*****"****


Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah lama di kota B yang suasananya seperti di kampung karena udaranya masih asri dan belum padat penduduknya.


Orang tua Nara tak lupa membawa oleh-oleh untuk lara tetangga dan keluarga Tara yakni makanan khas kota J. Dimana saat ini Nara dan keluarganya tinggal.

__ADS_1


Tara sangat senang pada saat bertemu dengan Nara.


"Nara, gwe ingin ajak loe keluar sebentar mau kan?" tanya Tara.


"Eh, kamu izin dulu sama Tante Resy dan Om Bimo," ucap Hesa.


"Om-tante, aku pinjem Nara sebentar ya."


"Ya, Tara. Kalian hati-hati ya."


Tara mengajak Nara pergi untu sesaat. Sementara orang tua Nara asik ngobrol bersama orang tua Tara di rumah Nara yang lama.


"Tara, loe mau ajak gwe kemana?" tanya Nara heran.


"Ada dech, oh iya loe kan belum komentar dengan wajah baru gwe? tampan nggak?" tanya Tara menaik turunkan alisnya.


"Tata sayang, bagi gwe ketampanan bukan tolak ukur. Gwe suka sama loe dari sini." Nara menempelkan satu tangannya di dada Tara.


"Walaupun loe tak jalani operasi plastik, gwe akan tetap sayang sama loe. Yang gwe lihat itu hati bukan wajah," ucap Nara.


Tara menggenggam jemari tangan Nara yang ada di dadanya.


"Nara, gwe minta maaf ya."


"Tara, sudahlah tak perlu di bahas lagi nanti gwe bisa marah lagi bagaimana? sekarang kita mau kemana?" tanya Nara penasaran.


"Ke tempat yang biasa kita singgahi, Curug."


"Wah, iya kita sudah lama nggak kesana. Gwe juga kangen suasana sejuk dingin udara di sana."


Saat itu juga Tara melajukan mobilnya dengan sangat pelan ke arah Curug yang kebetulan tak jauh dari rumah Nara. Tara sengaja tak pergi jauh-jauh karena tak enak dengan orang tua Nara. Sesampainya di curug, mereka asik berfoto ria bersama.


Nampak terlihat jelas raut wajah bahagia pada diri Tara dan Nara. Mereka benar-benar sudah saling mencintai satu sama lain.


Hingga satu jam lamanya, barulah mereka pulang dengan rasa puas dan wajah berseri. Orang tua Tara dan Nara ikut merasakan bahagia melihat anak-anak mereka akur dan riang.


Berbeda situasi di rumah Ara, dimana orang tuanya sama sekali tak peduli padanya lagi. Orang tuanya sengaja tak bicara padanya untuk menghukum Ara atas apa telah dilakukan oleh Ara pada Nara dan Tara.

__ADS_1


__ADS_2