
Hari libur telah tiba, kini Nara sedang di sibukkan dengan usaha cemilannya. Pada saat ia sedang berada di toko oleh-oleh, datanglah Willdan seorang diri. Hal ini membuat kaget, Nara.
"Pak Willdan, silahkan pilih saja yang bapak suka. Di sini banyak sekali berbagai cemilan dan ini hasil kreasi sendiri," ucap Nara menyambut kedatangan Wildan di toko kuenya.
"Ini bener punya kamu, Nara?" tanya Willdan mulai penyelidikannya lagi.
Belum juga Nara menjawab pertanyaan Wildan datanglah Bu Resy dengan menyela pembicaraan tersebut.
"Iya nak, ini sebenarnya toko milik Nara. Dia yang memproduksi dan yang berinisiatif membuat beraneka rasa dan macam cemilan. Ibu di sini hanya membantunya saja menjaga toko ini," sela Bu Resy.
"Oh iya, Nak ini kenal dengan Nara?" tanya Bu Resy.
"Iya, Tante. Perkenalkan nama saya Willdan. Kebetulan orang tua saya juga langganan di sini. Tante kenal nggak dengan, Rifda dan Rendra?" tanya Willdan seraya tersenyum.
"Wah kenal dong, jadi kamu ini anak Mba Rifda dan Mas Rendra? perkenalkan saya Resy, ibu Nara." Resy tersenyum seraya mengulurkan tangannya ke arah Wildan.
Keduanya saling bersalaman satu sama lain. Nara tak lupa memperkenalkan juga pada ibunya bahwa Wildan adalah dosennya di kampusnya.
"Bu, Pak Wildan ini dosen aku di kampus," ucap Nara.
"Masa Allah, semua serba kebetulan seperti ini ya. Jangan-jangan kalian ini berjodoh dech," canda Bu Resy terkekeh.
"Ibu ngomong apa sih? maafkan ibu saya ya, Pak Wildan. Kadang suka bercanda seperti itu."
Nara merasa tak enak hati dengan apa yang di katakan oleh Bu Resy.
"Nggak apa-apa, Nara. Jika memang apa yang di katakan oleh ibumu menjadi kenyataan itu pun tak apa-apa kok, aku akan terima dengan senang hati. Tapi entah sih dengan dirimu," ucap Willdan tak sadar.
"Maaf tadi bapak bicara apa ya?" tanya Nara seolah tak mendengar apa yang dikatakan oleh Wildan.
"Aduh Nara, jangan pura-pura tak mendengar seperti itu. Nggak baik loh," sela Bu Resy terkekeh.
__ADS_1
"Iya Nara, aku tahu kamu sebenarnya mendengar apa yang barusan aku katakan. Ya jika memang Allah telah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, aku tidak akan pernah menolak bahkan aku akan merasa bahagia sekali," ucap Willdan sudah tak malu lagi mengatakan hal itu.
"Aku minta jika di luar kampus jangan memanggil ku pak ya? sepertinya kurang enak di dengar," ucap Wildan.
"Asik, panggil mas saja pada Nak Willdan. Iya kan, Nak Willdan," ucap Bu Resy terkekeh.
"Ibu, dari tadi ikutan bicara saja. Nggak enak kan sama Pak Wildan, eh Mas Wildan," tegur Nara tersipu malu Merina pipinya.
"Nara, nggak apa-apa kok. Aku malah suka sifat ibumu yang welcome padaku," ucap Willdan.
"Ya ampun, Nara. Masa iya dari tadi Nak Willdan nggak di persilahkan duduk."
Bu Resy meraih satu kursi untuk duduk Willdan.
"Eh iya, maaf ya mas." Nara celingukan malu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ibu tinggal dulu ya, silahkan kalian ngobrol saja. Kalau nggak ajak saja Nak Willdan ngobrol di ruang kerjamu Nara, supaya nggak terganggu dengan hilir-mudik pada pembeli," saran Bu Resy.
Hingga pada akhirnya Nara mengajak Wildan ke ruang kerjanya, supaya enak di ajak ngobrol karena dari tadi para pembeli baik ibu-ibu atau para gadis terus saja menatap ke arah Wildan. Mereka sangat terpesona dengan paras tampannya itu.
"Nara, aku salut dan kagum padamu loh. Jarang ada gadis seusiamu yang bersikap dewasa seperti ini. Bahkan sudah memiliki usaha sendiri seperti ini. Mau kan cerita sedikit awal mula kamu mendirikan toko oleh-oleh ini?"
Willdan sengaja berkata seperti itu, supaya ia lebih banyak kesempatan untuk bisa berdua dengan Nara.
"Sebenarnya awal mula, aku iseng karena aku suka bereksperimen dan berkutat di dapur. Jika ada menemukan cemilan di channel YouTube atau di acara televisi, aku iseng mempraktekkan. Dan saat itu aku mulai iseng membuatnya."
"Awal mula aku usaha ini saat di kota B, waktu itu aku masih kelas dua SLTA. Dan sempat pula sih semua cemilan buatanku ingin di pasarkan di salah satu mini market dan toko Snack milik seseorang."
"Pada saat pindah di sini, aku mencoba lagi mas. Karena ibu kan di sini nggak ada kegiatan jadi sekalian buat kegiatan ibu."
"Dulu waktu di kota B, ibu punya usaha laundry. Di sini ibu tidak buka laundry karena pada saat aku memasarkan cemilan buatanku banyak yang suka."
__ADS_1
"Hingga ayahku memutuskan membangun tempat ini untuk menjadi toko oleh-oleh. Dan ibu malah memberi nama toko ini dengan namaku."
"Begitulah cerita awal mula aku mendirikan toko oleh-oleh ini, mas."
Setelah mendengar cerita dari Nara, Willdan semakin menaruh hati padanya dan ia sudah bertekad akan meluluhkan dan mendapatkan cinta, Nara.
"Wah hebat kamu, Nara. Di samping sibuk sebagai seorang pelajar, kamu juga sibuk sebagai seorang pengusaha cemilan."
Willdan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Nara.
"Biasa saja, mas. Masih banyak wanita yang lebih hebat dariku, aku ini bukan apa-apa di bandingkan mereka semuanya," ucap Nara merendah.
Tak berapa lama, Bu Resy datang dengan membawakan dua gelas minuman dingin serta dua mangkok bakso.
"Nara, ajak Mas Wildan makan dulu sejenak. Masa iya di biarkan ngobrol terus."
Bu Resy meletakkan nampan berisi dua mangkuk bakso dan minuman di atas meja, setelah itu ia berlalu pergi dari ruang kerja Nara.
Entah kenapa Bu Resy begitu menyukai Wildan hingga sebegitunya.
"Mas, silahkan makan dulu."
"Masa cuma aku saja, ayok kita makan bersama. Dan biar nggak kagok, nyalain saja televisinya," pinta Willdan.
Ia bisa melihat gelagat Nara yang salah tingkah dan malu-malu padanya. Hingga menyarankan supaya menyalakan televisi yang ada di ruang kerja Nara.
Keduanya asik makan bakso seraya melihat acara televisi yang ternyata mereka sama-sama suka sekali dengan acara lawakan.
"Nara, kamu suka acara lawakan ini?" tanya Willdan.
"Wah ini nggak suka lagi, mas. Pokoknya jika tahu jam tayang acara ini langsung saja aku pantengin dech. Karena aku memang dari kecil suka acara lawakan," ucap Nara.
__ADS_1
"Hem, kok sama ya seperti aku. Aku juga suka acara televisi hanya acara lawakan dan musik. Tidak suka dengan acara yang lain," ucap Willdan.
"Wah kalau musik jangan di tanya, mas. Aku juga suka bahkan suka berkaraoke walaupun suaraku fals dan memekakkan telinga yang mendengarnya tapi kalau aku sedang ingin bernyanyi aku cuek saja," Nara terkekeh.