Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Dosen Baru


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Andre di dalam panggilan telepon, Nara begitu ragu untuk menjawabnya.


"Nara kenapa kamu diam saja, jawab dong pertanyaanku?"


"Aku juga bingung, Ndre. Karena aku sudah cocok di universitas tersebut dan di kelas tersebut apalagi itu adalah jurusan yang telah lama aku impikan."


"Kalau menurutku juga sayang, jika kamu harus pindah kuliah hanya gara-gara pemuda itu."


"Iya juga sih ibuku juga memberikan saran supaya aku bertahan di universitas tersebut ribet juga sih kalau aku harus mencari universitas yang baru."


"Lantas apakah kamu mengurungkan niatmu untuk pindah, Nara?"


"Sepertinya itu, Ndre. Aku akan berusaha hadapi dia."


Setelah cukup lama Andre bercengkrama dengan Nara di panggilan telpon, kini keduanya sama-sama menutup teleponnya.


Kini Nara sudah tak ragu lagi untuk tetap menjalani studynya walaupun harus satu kelas dengan pria yang dulu pertama kalinya menyakiti dirinya.


"Aku bisa melawan rasa sakit hati ini, dan aku akan dengarkan apa yang ibu katakan. Supaya aku itu menganggap tak ada Ara di kelas itu, sehingga aku tak begitu memikirkan rasa sakit hati yang pernah di torehkan oleh Ara," batin Nara.


*****


Tak terasa pagi menjelang, Nara dengan penuh antusiasnya berangkat ke kampus.


"Ayah-ibun, aku berangkat ya."


Nara menyalami kedua orangtuanya.


"Ya Nara, hati-hati ya. Ingat pesan ibu, dan rajinlah belajar supaya tercapai segala cita-citamu itu," ucap Bu Resy.


"Iya, Bu. Pasti aku akan ingat pesan ibu juga ayah, aku tak ingin mengecewakan ayah dan ibu yang telah berkorban banyak demo untuk membahagiakan aku dan adik."


Nara langsung melajukan motor maticnya menuju ke kampus dengan penuh semangat. Dia akan mencoba melawan rasa kebencian yang ada di hatinya terhadap Ara. Dia ingin bisa mengendalikan dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak berapa lama Nara telah sampai di kampusnya dia bertemu dengan teman-teman baiknya begitu suka cita menyambut pagi hari yang cerah ini.


"Eh Nara, kamu udah tahu belum kalau di kampus kita ini bahkan di kelas kita ini nanti ada dosen baru loh, yang katanya masih muda dan tampan juga," ucap Rika.


"Rika mah seperti itu yang dipikirkan cuma cowok tampan aja. Padahal dia tuh udah resmi jadian loh sama Andi," ucap Andre.


"Memangnya salah jika seseorang kagum dengan orang lain yang penting kan hatiku cuma hanya untuk Andi seorang yang enggak sayangku." Rika bergelayut manja di lengan Andi yang dari tadi merasa cemburu mendengar perkataan Rika tentang dosen yang tampan tersebut.


Andi hanya diam saja tanpa berkata apapun pada Rika. Dia hanya melirik sinis pada pacarnya.


"Kamu tahu nggak kenapa aku mengatakan hal ini pada Nara, siapa tahu saja dosen itu jatuh cinta pada Nara yang belum punya pacar," ucap Rika seraya menaik turunkan alisnya pada Andre.


"Ih, aku ini kuliah untuk mencari ilmu bukan mencari pacar," ucap Nara mengerucutkan bibirnya.


"Noh, dengarkan apa kata Nara," ucap Andre membenarkan.


"Andre, kapan sih kamu nyatakan rasa cintamu pada Nara. Nanti kalau nggak lekas kamu ungkapin yang ada Nara di ambil orang loh," ucap Rika terkekeh.


Andre menjadi salah tingkah mendengar apa yang telah di katakan oleh Rika, ia memberikan kode dengan mengedipkan matanya pada Rika. Sementara Nara hanya bingung sendiri melihat apa yang di katakan oleh Rika, dan Andre juga terlihat salah tingkah.


Tak terasa bel tanda masuk berbunyi, dan semua mahasiswa serta mahasiswi langsung berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing. Dan apa yang di katakan oleh Rika benar adanya. Karena pada saat itu juga di jam pelajaran awal, datanglah seorang dosen yang masih amat muda dan sangat tampan rupawan.


Semua mata mahasiswi terpana dengan ketampanan dosen tersebut, akan tetapi tidak dengan Nara. Ia biasa saja tak punya rasa kagum pada dosen tersebut.


Sekilas Nara dan sang dosen tak sengaja saling bertatapan satu sama lain. Nara pun langsung menyunggingkan senyuman pada dosen tersebut.


"Selamat pagi semua, sebelum kita mulai pelajarannya. Di sini saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu."


"Nama saya, Willdan. Umur saya dengan kalian itu hanya selisih satu tahun saja. Lebih tua saya satu tahun."


Sang dosen terus saja berkata banyak hal tentang dirinya dengan sesekali tatapan matanya tertuju pada, Nara. Sepertinya dosen baru ini terpikat dengan pandangan pertamanya pada, Nara.


Setelah sang dosen selesai memperkenalkan dirinya sendiri. Kini ia pun penasaran dengan nama-nama mahasiswa dan mahasiswi di kelas tersebut hingga dia membuka buku absennya dan mengabsen satu persatu mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas tersebut.

__ADS_1


Pada saat Nara dipanggil dia pun langsung mengacungkan jari telunjuknya.


"Oh jadi gadis itu bernama Nara," batinnya senang.


Begitu banyak murid yang ada di dalam kelas tersebut hanya satu nama yang akan selalu dia ingat yakni Nara.


Setelah perkenalan selesai mengabsen siswa pun selesai dosen tersebut pun langsung memberikan pelajaran di kelas tersebut.


Hingga tak terasa bel tanda istirahat berbunyi. Semua berhamburan keluar untuk istirahat, tapi tidak dengan Nara. Ia tetap berada di tempat duduknya, karena ia sedang tak ingin ke kantin.


Sang dosen tanpa ada rasa ragu menghampiri Nara.


"Ehem, sedang baca buku apa Nara?" tanyanya basa basi.


"Baca buku tentang kinerja bisnis supaya suksek, Pak Dosen," ucap Nara seraya tersenyum ramah.


"Semua teman istirahat, kenapa kamu nggak istirahat?" tanya sang dosen lagi hanya untuk berbasa-basi saja.


"Kebetulan saya sedang tak ingin ke kantin, pak. Jika saya sedang ingin ke kantin ya ke kantin, jika tidak ya seperti ini," ucap Nara.


"Nara...aku belikan kamu ..


Ucapan Andre terhenti pada saat melihat ada sang dosen di depan bangku Nara.


Sang dosen pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Hey, siapa tadi namamu? saya lupa," tanya sang dosen tersenyum.


"Nama saya Andre, pak," ucap Andre.


"Oh iya, saya baru ingat namamu Andre. Entah kenapa yang saya ingat hanya nama Nara saja. Ya sudah ya, Nara. Selamat membaca semoga bacaanmu itu bermanfaat."


Sang dosen berlaku pergi dari hadapan Nara.

__ADS_1


Seperginya sang dosen, Andre merasa aneh dengan sikap dosen tersebut.


"Aneh, baru kali ini ada dosen muda mendekati Nara. Jangan-jangan dosen itu suka lagi sama Nara," batin Andre panik.


__ADS_2