
Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa kini Nara sudah lulus dari kuliahnya dengan mendapatkan peringkat nilai yang sangat memuaskan. Orang tuanya merasa bangga atas prestasi yang di dapat oleh Nara. Begitu juga Willdan.
"Selamat ya, Nara. Akhirnya kamu lulus juga dengan predikat mahasiswi terpintar. Kami sangat bangga prestasimu," ucap Ayah Bimo.
"Ya, Nara. Ibu juga bangga padamu, nak. Apakah langkah selanjutnya?" tanya Bu Resy penasaran.
"Hheee tanyakan pada Mas Wildan saja, ayah-ibu," ucap Nara tersipu malu.
Sejenak orang tua Nara menatap ke arah Wildan seraya memicingkan alisnya.
"Begini, tante-Om. Kami telah sepakat jika Nara sudah lulus kuliah, saya akan meresmikan hubungan kita berdua. Saya ingin tanya juga pada Nara, apakah kita akan segera menikah ataukah bertunangan dahulu? saya terserah pada Naranya saja, tante-Om," ucap Willdan.
"Ayah-ibu, aku juga tak ingin ambil keputusan sendiri. Aku juga ingin minta pendapat dari ayah dan ibu, langkah yang terbaik seperti apa? meresmikan dalam pertunangan atau meresmikan dalam pernikahan?" tanya Nara bingung.
"Baiklah, ayah dan ibu akan memberikan saran yang tepat untuk hubungan kalian berdua. Kalau menurut kami, sebaiknya di resmikan dalam pernikahan saja. Karena kalian kan sudah lama berpacaran, jadi tak perlu lagi bertunangan. Iya nggak Bu, atau pendapat ibu berbeda dengan ayah?" tanya Ayah Bimo menatap ke arah Bu Resy.
"Ibu setuju dengan pendapat, ayah. Memang sebaiknya begitu. Untuk apa berpacaran terlalu lama itu tidak baik. Apa lagi menurut ibu, masa pacaran kalian itu sudah cukup. Tiga tahun pacaran bukan, dari Nara awal masuk kuliah dahulu?' ucap Bu Resy.
Setelah mendengar saran dari kedua orang tuanya. Nara pun setuju dengan keputusan mereka berdua. Apalagi Wildan yang sudah cukup lama menanti moment seperti ini.
"Nak Wildan, kami sudah setuju jika kamu akan segera meresmikan hubungan kalian berdua dengan pernikahan," ucap Ayah Bimo.
"Alhamdulillah, akhirnya impianku selama ini terkabul juga. Pada akhirnya aku bisa mengakhiri masa pacaran dengan pernikahan. Terima kasih ya, tante-Om. Aku akan segera mengatur semuanya bersama orang tuaku," ucap Willdan sangat antusias.
"Sama-sama, Nak Wildan. Kami juga berterima kasih, selama ini kamu begitu sabar menghadapi Nara yang super duper bengal dan tomboy," canda Ayah Bimo.
"Ih ayah, kenapa bicara seperti itu sih?" rajuk Nara murung.
Sejenak mereka terus saja bercengkrama. Dan satu jam kemudian, Wildan pamitan pulang untuk memberitahu kabar baik ini pada orang tuanya.
"Pah-mah, ada kabar bagus untuk kita semua," ucap Wildan pada saat baru sampai di rumah.
"Duduklah dulu, baru cerita yang benar," pinta Papah Rendra.
__ADS_1
Wildan pun duduk di samping orang tuanya yang sedang bersantai di teras halaman rumah.
"Mah-pah, Nara sudah mau jika kita menikah," ucap Wildan.
"Bukannya ia baru lulus kuliah? apa ia tak ingin bekerja dulu?" tanya Papah Rendra.
"Pah, bekerja kan bisa nanti kalau sudah menikah. Apalagi kan Nara sudah punya usaha sendiri yang cukup besar. Dan ia tak ingin bekerja pada orang lain. Tapi ia akan membuat dua buah pabrik besar untuk usaha cemilannya," ucap Wildan meyakinkan orang tuanya.
"Syukurlah jika begitu, Nara memang gadis yang baik juga dewasa. Dari sekolah SLTA, ia sudah mandiri. Pantas saja saat ini sudah sukses," puji Mamah Rifda.
"Ya sudah, jika memang kalian sudah memutuskan untuk menjadi menikah. Papah dan mamah sangat sangat setuju. Hanya satu permintaan Papah," ucap Papah Rendra.
"Memangnya papah minta apa?" tanya Willdan penasaran.
"Papah minta kalian kelak memberikan cucu yang banyak ya?" ucap Oah Rendra terkekeh.
"Astaga, aku pikir Papah minta apa? aku sudah sangat serius ingin mendengarnya ternyata cucu."
Wildan menepuk jidatnya sendiri.
"Jelaslah, mah. Aku akan mengundang semua orang dan akan aku tunjukkan pada dunia ini siapa yang berhak menjadi istri seorang Pangeran tampan ini."
Wildan berdiri dengan berapi-api tangannya di gerakkan kesana kemari membuat orang tuanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dirinya ini.
***""*""
Esok harinya, Willdan dan Nara mulai mempersiapkan segalanya untuk pernikahan mereka. Dan bahkan Willdan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membantu segalanya. Karena ia tak ingin terlalu lama mengatur segalanya seoranh diri.
Orang tua Willdan dan juga orang tua Nara juga turut andil dalam rencana pernikahan Wildan dan Nara.
Masing-masing mennsgi tugasnya supaya tidak berbenturan dan teratur rapi. Orang tua Nara yang mengatur untuk mencaru jasa catering karena kebetulan mereka itu banyak kenalan di bidang tersebut.
Orang tua Willdan mengatur untuk hotel dan lain sebagainya.
__ADS_1
Semua berbagi tugas hingga segalanya telah siap dalam waktu satu bulan. Acara pernikahan akan diadakan sangat mewah, karena baik Wildan dan Nara akan mengundang banyak orang.
*******
Satu bulan berikutnya, pesta pernikahan pun terlaksana. Semua tamu undangan bersuka cita di acara pernikahan mereka. Semuanya datang dari para dosen, dan semua rekan bisnis Willdan.
Dari pihak Nara juga banyak tabg datang, dari para pelanggan cemilannya juga teman-teman semasa kuliahnya.
Mereka semua kaget pada saat tahu siapa mempelai prianya. Begitu pula para dosen wanita yang tahu akan hal itu masih saja tidak percaya.
"Nara, kami sama sekali tidak menyangka kamu bisa menikah dengan dosen yang selalu kami gosipkan."
"Bagaimana ceritanya kamu bisa meluluhkan hatinya?"
"Iya Nara, apa kamu guna-guna Pak Wildan ini?"
Wildan pun mendengar apa yang dikatakan oleh teman-teman Nara. Karena ia masih ada di samping Nara.
"Kalian tidak tahu ya? selama ini kami pacaran secara diam-diam. selama Nara kuliah hingga lulus, kami menyembunyikan hubungan kasih kami. Dan telah berjanji, akan membongkar semua ini jika sudah waktunya. Yah waktunya ya sekarang ini," ucap Wildan terkekeh.
"Astaga, Pak Wildan-Nara. Kok bisa ya kalian jalani hubungan diam-diam hingga beberapa tahun lamanya, tidak terbongkar sama sekali," ucap salah satu teman Nara merasa heran dan kagum.
Semua hadir di acar pernikahan Nara, begitu juga dengan Tara dan kedua orang tuanya. Dan juga Ara dan kedua orang tuanya.
Baik orang tua Ara maupun Tara, sama-sama menyayangkan kenapa dulu anak-anak mereka menyakiti Nara hingga hubungan putus di tengah jalan. Apa lagi mereka tahu, jika saat ini Nara sudah menjadi seorang pengusaha cemilan yang sangat sukses.
Nara sedang membangun dia pabrik sekaligus. Mereka tahu akan hal itu pada saat melihat acara televisi dimana Nara di wawancarai sebagai salah satu pengusaha muda yang sukses.
"Kamu lihat kan, Tara? seseorang yang pernah kamu sakiti kita telah berbahagia bahkan dengan seorang pengusaha tamlan ternama yang ternyata adalah rekan bisnis papah," ucap papah Hesa pada Tara.
"Sudahlah, lah. Jangan seperti itu. Anggap saja mereka itu tidak berjodoh," ucap Mamah Hety.
Hal yang serupa juga di alami oleh Ara, dimana Papahnya juga kecewa dengan Ara.
__ADS_1
Kini Nara benar-benar hidup bahagia dengan pria yang sangat baik. Akan tetapi tidak dengan Ara dan Tara. Hingga saat ini mereka masih saja melajang dan tak ada satu wanita yang mereka cintai.
Lain halnya dengan Andre, yang sempat di tolak oleh Nara. Kini ia ada di luar negeri bersama orang tuanya, hingga tak bisa datang di acara pernikahan Nara. Walaupun Nara juga sempat mengundangnya.