Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Kebahagiaan Nara


__ADS_3

Sore menjelang, waktunya pulang sekolah. Tara merasa kesal karena ia harus menunggu ojek pesanannya datang.


"Wah, sekarang seorang Ronald yang tampan ke sekolahnya diantar jemput tapi sama tukang ojek online ya," ejek Ara tersenyum sinis.


"Berisik loe, ngapain sih loe selalu ganggu gue nggak ada kerjaan banget!" bentak Tara kesal.


"Siapa juga yang ganggu loe, gue kan cuma ngomong bukan ingin mengganggu loe. Lagi pula untuk apa ganggu loe nggak ada untungnya."


Ara pun berlalu pergi dari hadapan Tara seraya mengacungkan ibu jarinya tetapi terbalik.


"Sialan tuh orang, selalu saja bikin senewan gue! awas aja kalau gue udah dapat ide yang cemerlang untuk memberi pelajaran sama loe pasti loe akan gue kasih pelajaran dan tak akan berani ganggu gue lagi!" batinnya kesal.


Tak berapa lama ojek online pesanan Tara telah datang ia pun langsung diantar pulang oleh tukang ojek tersebut.


Tak berapa lama Tara telah sampai di depan rumahnya, ia langsung masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Saat ini ia sedang merasakan kebosanan yang sangat mendalam.


"Gwe merasa bosan dengan hidup ini, sejak jauh dari Nara. Hanya ia yang mampu membuat hari-hari gwe lebih berwarna. Tanpanya hidup gwe serasa hampa, apa lagi Laura telah mutusin gwe begitu saja," keluh kesah Tara seraya merebahkan badannya di pembaringan.


"Dasar para wanita hatinya susah sekali ditebak. Gampang sekali mengucapkan kata putus, baik Nara atau Laura sama sombongnya. Mereka pikir gue ini nggak bisa cari perempuan yang lebih cantik yang lebih hebat dari mereka."


Baru saja berkeluh kesah memikirkan Nara, sekarang sudah berubah lagi kata-katanya membenci sikap Nara dan Laura. Pikiran Tara sedang tidak karuan hingga ucapannya pun ngelantur.


Tak terasa Tara perlahan-lahan memejamkan matanya dan ia pun tertidur pulas di sore hari, masih dengan mengenakan seragam sekolahnya.


"Jam segini tidak ada suara Tara, apakah dia belum pulang ya atau dia sudah pulang tetapi aku tak tahu." Hety pun melangkah menuju ke kamar Tara untuk mengecek apakah anaknya itu sudah pulang atau belum.


"Hem..ternyata si Tara sudah pulang, belum juga makan dan ganti pakaian serta mandi tapi dia udah tertidur," ucap Hety seraya menggelengkan kepalanya melihat Tara tertidur pulas.

__ADS_1


Hingga menjelang habis Isa, Tara baru bangun dari tidurnya. Ia lekas mandi dan menuju ke meja makan karena sudah merasakan lapar yang teramat sangat.


Orang tuanya malah telah makan terlebih dahulu pada saat Tara masih tertidur dengan pulasnya.


Setelah selesai makan, Tara melanjutkan dengan belajar. Tetapi ia tak bisa konsentrasi, pikirannya terus tertuju pada Nara.


"Ah Nara, kenapa sih kamu selalu saja bermain di benak gwe ini? padahal loe sudah mutusin gwe begitu saja, tapi kasih saja betah di otak ini!" batinnya kesal.


Terus saja Tara berkeluh kesah tentang hubungan dengan Nara. Berbeda dengan Nara yang saat ini sedang bahagia di samping usaha cemilannya semakin hari semakin bertambah banyak, pekerjaan ayahnya semakin sukses dan di dalam sekolahnya dia punya banyak teman baik entah itu pria atau wanita.


"Bu, Alhamdulillah. Kira sudah bisa menyelesaikan permasalahan tentang karyawan untuk usaha cemilan kita. Walaupun tetangga kita yang ada di kota B keberatan untuk datang kemari. Tapi tetangga desa di sini mau kok,' ucap Nara.


"Iya, Nara. Ibu juga senang banget karena usaha cemilan kita di kota J ini malah semakin rame melebihi ramainya usaha cemilan di kota B," ucap Bu Resy tersenyum bahagia.


"Wah, jika sudah punya karyawan berarti ayah sudahtak perlu bantu-bantu lagi dong," ucap Ayah Bimo terkekeh.


"Maafkan aku ya, ayah. Gara-gara usaha cemilanku ayah malah bertambah repot," ucap Nara merasa bersalah.


"Nara, kamu itu tak salah jadi tak perlu minta maaf. Justru ayah sangat bangga denganmu.Tak kenal lelah, bahkan kamu jugatak pernah keluyuran seperti gadis seumuran dirimu. Kamu gunakan waktu luang mu untuk halyang positif," ucap Ayah Bimo.


Pagi menjelang kebetulan hari libur, Ayah Bimo menemani Nara ke desa sebelah untuk menyambangi para wanita yang berminat bekerja menjadi karyawan di usaha cemilan Nara.


"Nara, kiranya kamu akan mempekerjakan berapa orang sih?" tanya Ayah Bimo.


"Kira-kira sepuluh orang dulu ayah, karena mungkin kita juga butuh tempat yang khusus untuk memproduksi usaha cemilanku," ucap Nara.


"Tanpa sepengetahuanmu, ayah membuat tempat untuk khusus produksi usaha cemilan mu, yakni rumah seberang jalan rumah kita Nara," ucap Ayah Bimo.

__ADS_1


"Maksud ayah rumah besar dan mewah itu sudah ayah sewa?" tanya Nara seakan belum percaya.


"Bukan di sewa, tapi sudah ayah beli satu bulan yang lalu. Karena ayah ingin punya beberapa aset dari hasil jeri payah dan kerja keras ayah," ucap Ayah Bimo.


"Wah ayah, terima kasih ya."


Tak berapa lama mobil Ayah Bimo telah sampai di desa sebelah dan keluarga Nara langsung menemui para wanita yang akan bekerja di usaha cemilannya.


Semuanya telah sepakat esok hari akan berangkat dan akan pulang ke rumah bergilir dari sepuluh orang tersebut, satu Minggu sekali.


Dua jam berada di desa tersebut dan selesailah sudah tugas Nara menemui para karyawan batunya tersebut.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya hingga esok hari telah menjelang. Nara dengan antusias berangkat ke sekolah. Dan di sekolah ia bertemu dengan teman-teman baiknya.


"Hy Nara, kenapa hari ini loe datang terlambat? apa karena usaha cemilan loe itu? boleh dong gwe bekerja pada loe," ucap salah satu teman wanitanya.


"Kalau loe kerja sama gwe, lantas bagaimana dengan sekolah loe?" tanya Nara.


"Itu bisa di atur, loe saja bisa melakukannya bukan? gwe itu bangga punya teman seperti loe. Masih muda tapi sudah sukses dengan membuka suatu usaha dan memiliki beberapa karyawan juga," pujinya seraya mengacungkan dua ibu jarinya.


"Nggak usah terlalu memuji gwe, karena gwe belum sehebat yang loe kira," ucap Nara merendah.


"Wah, lagi pada obrolin apa ini? kokgwe nggak di ajak ngobrol?" tegur Andre.


"Loe telat, Ndre. Kami sedang ngobrol banyak dech," ucap temen Nara seraya mengedipkan mata ke arah Nara.


Sementara Nara hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2