Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Sedikit Lega


__ADS_3

Akhirnya Wildan pun jujur kepada Nara tentang apa yang membuatnya murung dan resah hati.


"Aku minta maaf, sayang. Karena hubungan kita harus dihantui oleh masa laluku. Aku minta maaf karena masa laluku ini terus saja mengikuti kita."


"Kamu lihatlah ke belakang, di mana ada mobil Tya dari tadi mengikuti kita pada saat mobil ini keluar dari toko oleh-olehmu itu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Wildan, Nara pun sejenak melihat dari dari kaca spion ke arah belakang mobil. Ia pun melihat mobil Tya yang memang sedang mengikuti laju mobil yang ia tumpangi saat ini.


"Biarkan saja Mas Wildan tak usah dipikirkan dan tak usah diambil pusing. Selama ia tidak mengganggu kita untuk apa kita menghiraukannya, kecuali jika ia telah mengganggu kita barulah kita bertindak kepadanya," ucap Nara menenangkan Willdan yang saat ini sedang panik dan gelisah.


"Sayang, aku bangga mempunyai kekasih sepertimu. Aku pikir di usiamu yang masih muda belia pikiranmu juga masih labil, ternyata penilaianku terhadapmu salah. Justru kamu ini bersikap dewasa dan bijaksana dalam mengambil segala keputusan," puji Wildan seraya sejenak mengusap surai hitam Nara.


"Mas Wildan, tak usah begitu menyanjung diriku. Nanti kalau aku dipuji dan disanjung bisa terbang tinggi melayang dan pada saat jatuh akan terasa sakit," canda Nara terkekeh.


"Bisa aja deh kamu sayang, kamu itu selalu saja bisa membuat aku tersenyum bahagia. Bahkan di tengah aku memiliki segudang permasalahan ada saja caramu untuk bisa membuatku lepas bebas dari beban pikiranku," puji Wildan kembali.


"Mas Wildan, hidup ini hanyalah satu kali saja jadi untuk apa kita terlalu banyak merenung terlalu banyak berpikir dan terlalu banyak berkeluh kesah. Cukuplah permasalahan hari ini untuk satu hari ini saja karena besok pasti ada permasalahan lagi."


"Mulai sekarang belajarlah untuk tidak terlalu memikirkan suatu masalah itu karena pada dasarnya masalah itu terlihat besar atau kecil tergantung pada diri kita cara menyikapinya."


"Dekati orang-orang yang berdampak positif pada kita dan jauhilah orang-orang yang berdampak negatif. Hempaskan saja mereka semua yang hanya bisa membuat onar di dalam kehidupan kita."


Sekali lagi Wildan dibuat terkekeh oleh kata-kata Nara.


"Kamu ini lebih pantasnya menjadi seorang guru saja atau dosen jika perlu, bukan menjadi seorang murid seperti sekarang ini." Canda Wildan terkekeh seraya mencolek hidung Nara.

__ADS_1


"Kalau aku menjadi seorang dosen bisa jadi semua murid akan menjadi barbar, karena dosennya aja barbar seperti aku," ucap Nara terkekeh.


Kini Wildan sudah tidak menghiraukan lagi adanya Tya yang saat ini sedang mengikuti laju mobilnya, tetapi dia fokus dengan Nara yang ada di sampingnya.


Gelak tawa dan canda ria yang saat ini sedang terjadi di antara Nara dan wildan sempat terlihat pula oleh Tya dari balik kemudi. Dia terus saja memandang ke arah mobil yang ada di depannya itu yakni mobil Wildan.


"Aku baru pernah melihat Wildan seceria itu bahkan tertawa terbahak-bahak seperti itu. Padahal dulu pada saat bersamaku dia tidak pernah tertawa seperti itu paling hanya tersenyum sekilas. Apakah kebersamaannya dengan gadis itu benar-benar membuatnya bahagia?" batin Tya merasa iri melihat kebahagiaan Wildan.


"Sungguh bahagia gadis yang saat ini bisa menjadi kekasih dari Willdan. Sepertinya memang aku harus mengikhlaskan semua ini," batin Tya.


Tak berapa lama kemudian akhirnya sampai juga mobil Willdan di alun-alun di kota tersebut. Mereka pun lantas keluar dari mobil dan berjalan berdampingan mengitari alun-alun tersebut.


Sementara Tya memutar balikkan mobilnya untuk kembali ke rumah setelah ia tahu jika Wildan benar-benar ke alun-alun bersama dengan, Nara.


"Sepertinya Tya baru percaya jika aku benar-benar telah menikah dengan Nara. Tunggu saja, aku pasti akan kirim undangan ke rumahmu Tya. Jika kelak aku menikah dengan Nara. Seperti apa yang pernah dulu Papahmu lakukan."


Terus saja Willdan menggerutu di dalam hatinya. Ia merasa kesal karena Tya bagaikan hantu yang terus saja mengikuti dirinya.


Selama cukup lama berada di alun-alun dan sejenak sarapan berdua, pada akhirnya mereka pun kembali pulang ke rumah. Akan tetapi pada saat telah sampai di toko oleh-oleh Nara, Bu Resy ingin sejenak mengobrol bersama, Wildan.


"Kalian sudah pulang, apakah sudah sarapan ataupun belum?" tanya Bu Resy.


"Sudah Bu, kami sarapan lontong sayur di alun-alun,' jawab Nara singkat.


"Oh iya nak Wildan, bisakah kita bicara sebentar saja?" tanya Bu Resy agak sedikit ragu.

__ADS_1


"Lama pun tidak apa-apa tante, karena ini kan hari libur aku banyak waktu luang," ucap Wildan.


Saat itu juga Wildan, Nara, dan Bu Resy melangkah menuju ke ruang kerja Nara karena tidak nyaman jika ngobrol di luar bisa didengar oleh para pelayan toko.


"Nak Wildan, sebelumnya Tante minta maaf ya jika kali ini perkataan tante menyinggung perasaan tolong jangan diambil hati," ucap Bu Resy sebenarnya ragu pada saat ingin bertanya tentang Tya pada Willdan.


"Aku pastikan tidak akan tersinggung tante, katakan saja apa yang mengganjal di hati dan pikiran tante biar tidak menjadi beban perasaan," ucap Wildan seraya tersenyum.


"Nak Wildan, kalau Tante lihat-lihat mantan pacarnya tadi sepertinya masih menyimpan sejuta rasa cinta bisa dilihat dari wajahnya itu," ucap Bu Resy.


"Ibu kenapa berkata seperti itu pada, Mas Wildan?" tegur Nara merasa tak enak hati pada Willdan, ia khawatir Wildan akan tersinggung.


"Nara, tak usah seperti itu pada ibumu. Aku sama sekali tidak tersinggung kok, jadi jangan risau," ucap Wildan menegur sikap Nara.


"Tante, biar aku ceritakan bagaimana aku bisa putus dengan Tya ya. Kami putus itu, bukan aku yang memutuskan hubungan, tetapi Tya."


"Pada saat itu, tiba-tiba Tya memutuskan hubungan tanpa ada alasan jelas. Dan esok harinya papahnya datang ke rumah dengan memberikan sebuah undangan pernikahan padaku yang ternyata Tya menikah."


"Tya sama sekali tak mengatakan apapun jika dirinya akan menikah, ini yang membuat aku sakit hati."


"Dan sampai aku trauma untuk dekat lagi dengan seorang wanita. Hingga satu tahun lamanya, baru aku bisa mengikhlaskan semuanya."


"Dan hingga aku bertemu dengan Nara. Aku mulai ada rasa cinta padanya, di saat pertama kali aku melihat di kampus, tepatnya saat aku mengajar di kelas Nara."


Panjang lebar Wildan tanpa ragu menceritakan masa lalunya bersama Tya. Ini semua ia lakukan supaya Bu Resy tidak penasaran lagi.

__ADS_1


__ADS_2