Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Kembalinya Sang Mantan


__ADS_3

Pagi menjelang, Wildan sudah siap dengan seragam kantornya dan ia membawa dua kardus besar yang berisikan cemilan untuk dibawanya ke kantor guna dibagikan pada seluruh karyawan yang ada di kantor.


Pagi ini Wildan tidak ada jadwal mengajar di kampus hingga dia akan mempergunakan waktunya untuk berada di kantor dari pagi hingga sore.


Perjalanan ke kantornya hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Dia pun telah sampai dan segera meminta security untuk membawakan dua kardus besar yang ada di dalam mobil. Tak lupa juga Wildan membagi security tersebut dengan dua bungkus cemilan yang dia bawa.


"Oh ya pak, ini ada sedikit cemilan untuk bapak semoga suka. Dan ini sisanya yang ada di dua kardus ini tolong dibawa ke bagian resepsionis, supaya mereka yang membagikan untuk seluruh karyawan yang ada di kantor ini. Tidak hanya terkecuali para staf tetapi bagian cleaning service, sopir pribadi semuanya dibagi supaya adil," pinta Willdan.


"Siap, Den."


Saat itu juga security membawa dua kardus besar yang berisi cemilan, melangkah menuju ke bagian resepsionis. Tapi terlebih dahulu dia mengambil dua bungkus cemilan yang sekiranya dia inginkan.


"Lega juga rasanya dua kardus cemilan sudah dibagikan kepada seluruh karyawan. Lain waktu pasti aku akan membelinya lagi untuk aku bagikan bukan hanya untuk karyawan tetapi untuk di panti asuhan atau orang-orang yang membutuhkan sekaligus aku ingin membantu usaha Nara," batin Wildan senang.


Willdan melangkah dengan pasti ke ruang kerjanya akan tetapi dia terhenyak kaget pada saat di ruang kerjanya ada seseorang di masa lalunya yang pernah membuatnya patah hati yakni mantan pacarnya yang bernama, Tya.


"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Willdan ketus.


"Maafkan Aku Wildan, aku datang kemari karena ingin meminta maaf padamu atas kesalahan yang pernah aku lakukan dahulu," ucap Tya memelas.


"Sudahlah tak usah kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu. Sekarang juga aku minta kamu pergi dari ruang kerjaku dan tak usah kembali lagi kemari karena aku sudah tak ingin lagi berhubungan denganmu walaupun aku telah memaafkan dirimu," ucap Willdan ketus.


"Nada bicaramu saja masih seperti ini, aku yakin kamu belum memaafkanku. Jika memang kamu telah benar-benar memaafkan segala kesalahanku, nada bicaramu akan lembut tidak seperti ini padaku," ucap Tya.


"Aku minta kamu keluar dari ruang kerjaku sekarang juga jangan sampai aku meminta security untuk menyeret paksa kamu keluar dari sini nanti kamu akan menjadi sakit hati," ucap lantang Wildan tak suka dengan kedatangan Tya.


"Wildan, aku minta dengan sangat padamu biarkan aku bicara sejenak dengan mu karena aku akan mengatakan hal penting," pinta Tya memelas hingga membuat Wildan tak tega.


"Ya sudah, duduklah dan katakan apa yang ingin kamu katakan. Tak usah bertele-tele dan tak usah banyak basa-basi karena waktuku tidak banyak," ucap Wildan.

__ADS_1


"Wildan, aku akui saat ini aku sedang menyesali perbuatanku dulu yang pernah menyakitimu dengan tiba-tiba aku menikah dengan pria lain."


"Asal kamu tahu, rumah tanggaku kini sudah berantakan dan kami telah berpisah beberapa hari lalu. Kami telah resmi bercerai dan itu pun suamiku yang telah menceraikanku karena dia telah memiliki wanita idaman lainnya."


"Aku yakin semua yang telah menimpaku ini karena karma dari apa yang pernah aku lakukan dahulu padamu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Tya, Wildan hanya tersenyum sinis.


"Sudah bicaranya kan? sekarang juga kamu angkat kaki dari ruang kerjaku dan jangan pernah kamu datang kembali. Karena aku tidak akan membeli deritamu itu. Kamu pikir dengan segala ceritamu itu aku akan iba padamu lantas aku menerimamu kembali menjadi kekasihku, kamu salah besar Tya."


Walaupun Wildan telah mengusir Tya beberapa kali akan tetapi dia tetap duduk tak bergeming sama sekali. Hal ini membuat Wildan menjadi kesal padanya, dan dia pun segera menelpon bagian security untuk segera datang ke ruang kerjanya.


"Willdan, kamu menelpon siapa?" tanya Tya penasaran.


Willdan tak berkata apapun setelah menelpon security ia hanya diam untuk menunggu security datang.


"Masuk saja, pak."


Security langsung masuk.


"Bawa wanita ini pergi dari sini, dan pastikan supaya ia jangan pernah datang lagi kemari," perintah Willdan.


Saat itu juga security menarik paksa Tya untuk pergi meninggalkan ruang kerja Willdan.


"Willdan, apa-apaan ini? kamu tidak bisa bertindak seperti ini padaku. Apa kamu benar-benar telah lupa dengan kisah kita? Wildan, aku mohon aku


masih ingin bicara denganmu," teriak Tya pada saat security membawa paksa Tya keluar dari ruang kerja Willdan.


"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri!" bentak Tya pada security.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya security melepaskan cekalsn tangannya pada Tya. Semua karyawan menatap tak suka pada Tya, karena mereka tahu siapa itu Tya.


"Apa kalian menatapku seperti itu, mau aku colok mata kalian!" bentak Tya akan tetapi tidak membuat para karyawan itu takut, mereka justru terus melotot dan berkata yang tak enak di dengar oleh Tya.


Hingga Tya tak bisa berkutik, ia tak bisa berkata apapun. Hanya diam saja seribu bahasa.


"Sialan, ini semua gara-gara Wildan hingga aku di permalukan seperti ini. Aku tidak akan .enterah begitu saja, Willdan. Aku yakin di hatimu masih ada cinta untukku. Dan aku akan kembali membuat cinta di hatimu bersemi seperti dulu lagi," batin Tya.


Namun tidak demikian dengan Willdan, ia justru sangat kesal melihat kedatangan Tya. Iaalsh teringat kembali luka lama yang pernah Tua toreh di dalam hatinya.


"Seenaknya saja datang kemari, seolah tak punya rasa salah sedikitpun! ia pikir aku ini apa, seenaknya seperti ini!"


"Ini hati dan bukan tempat persinggahan sementara di kala kamu suka, lantas setelah bosan kamu pergi. Dan di kala suka kamu datang lagi!"


"Aku ini seorang pria yang punya harga diri, tak ingin aku di injak-injak lagi olehmu setelah apa yang dulu kamu lakukan padaku!"


Willdan begitu kesalnya hingga ia tak konsentrasi dalam bekerja. Ia pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah.


Sesampainya di rumah, orang tuanya menjadi heran melihat raut wajah anaknya sulungnya yang terlihat jelas begitu bermuram durja.


"Willdan, kamu kok pulang? bukannya kamu akan berada di kantung hingga sore?' tanya Papah Rendra.


"Mood tiba-tiba hilang, pah."


Wildan menjatuhkan pantatnya di kursi dekat tempat duduk orang tuanya tepatnya di teras rumah.


"Loh, kok tiba-tiba mood hilang?" tanya Mamah Rifda memicingkan alisnya.


Willdan tanpa sungkan menceritakan kedatangan Tya baru saja.

__ADS_1


__ADS_2