Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Tak Jujur Pada Bu Resy


__ADS_3

Tak berapa lama, mobil Wildan telah sampai di pelataran rumah, Nara. Begitu pula anak buah Wildan yang membawa motor matic milik Nara juga telah sampai pula.


Bu Resy begitu terkejut pada saat melihat kondisi Nara yang wajahnya babak belur juga tangannya lebam-lebam serta bajunya berantakan tidak karuan.


"Astagfirullah aladzim, Nara. Apa yang terjadi padamu, apa kamu terjatuh dari motormu atau bagaimana? tetapi kalau ibu lihat dari luka di wajahmu dan di tanganmu itu sepertinya kamu habis dihajar orang?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Bu Resy seraya dia mengamati luka yang ada di tubuh dan wajah Nara.


"Ibu, nggak usah panik seperti itu. Aku tidak apa-apa hanya luka kecil saja. Tadi motornya itu sempat terpeleset begitu saja hingga aku jatuh dari motor," ucap Nara berbohong karena tak ingin ibunya khawatir.


"Nak Wildan, apa memang benar seperti itu!" tanya Bu Resy mengamati wajah Wildan.


Sejenak Nara menyikut lengan Wildan, memberi isyarat supaya ia mengiyakan apa yang barusan dikatakan oleh dirinya.


"Ya Tante, tadi Nara terjatuh dari motor. Motornya itu terpeleset, sepertinya Nara kurang hati-hati hingga motornya menginjak batu yang agak besar. Kebetulan aku sedang melintas akan ke kampus juga hingga aku bisa menolong Nara. Dan aku menelpon salah satu anak buahku untuk segera datang membawakan motor, Nara," ucap Wildan berbohong pula.


"Ya ampun, Nara. Bukankah tadi ibu sudah berpesan padamu supaya hati-hati dalam mengendara motor, jangan ngebut-ngebut pasti kamu ngebut ya?" Bu Resy menggelengkan kepalanya.


"Ya maaf, Bu. Karena aku takut kesiangan jadinya aku melajukan motor lumayan cepat eh tahu-tahu di depan ada batu yang lumayan besar. Aku berniat ingin menghindari batu tersebut malah terpeleset dan motornya jatuh aku pun jatuh," ucap Nara.


"Ya sudah, ayok masuk biar ibu obati semua lukamu dan lekas kamu ganti pakaian karena pakaian kotor seperti itu," perintah Bu Resy.


"Biar saya saja tante yang mengobati Nara," pinta Wildan.


"Memangnya Nak Wildan nggak jadi berangkat ke kampusnya?" tanya Bu Resy seraya memicingkan alisnya.


"Nggak, Tante. Karena saya tidak akan tenang meninggalkan Nara dalam kondisi seperti ini," ucap Wildan.


Bu Resy mengijinkan Wildan untuk mengobati luka-luka yang ada di tangan dan wajah Nara. Akan tetapi Nara memutuskan untuk berganti pakaiannya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mas Wildan, duduk dulu ya di ruang tamu karena aku akan berganti pakaian dulu sebentar."


Nara pun melangkahkan kakinya terlebih dahulu masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya untuk segera berganti pakaiannya yang kotor dan berantakan.


Sementara Wildan telah memerintahkan anak buahnya tersebut untuk kembali ke kantornya.


Wildan pun melangkah masuk menuju rumah Nara, ia duduk di ruang tamu menunggu Nara yang sedang berganti pakaian.


Tak berapa lama Nara telah datang dengan pakaian yang bersih. Ia pun tak sungkan duduk di samping Wildan. Di meja telah tersedia kotak obat pemberian dari Bu Resy.


Saat itu juga Wildan mengobati luka lebam yang ada di wajah dan juga dua lengan Nara.


"Sayang, kenapa kamu berbohong pada ibumu tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Wildan lirih kareba tak ingin Bu Resy mendengarnya.


"Jika ibu tahu yang sebenarnya, ia pasti akan khawatir dan akan selalu cemas memikirkanku," ucap Nara lirih.


"Sepertinya ada yang tidak wajar dengan apa yang telah terjadi pada Nara, aku harus menyelidiki lebih lanjut tentang kejadian ini," batin Wildan seraya fokus mengobati luka di wajah Nara.


"Terima kasih ya Allah atas pertolonganMu. Memberitahukan padaku jika aku harus melewati jalan itu sehingga aku bisa menyelamatkan, Nara."


Wildan terus saja menggerutu di dalam hatinya, ia memang penasaran dengan empat preman yang telah menyerangnya secara tiba-tiba tersebut.


"Aku rasa ada yang sengaja ingin melukai Nara, lantas siapa orang itu? tetapi yang aku dengar jalanan yang barusan aku lewati bersama Nara itu memang rawan dengan tindak kejahatan."


"Aku jadi semakin bingung apakah memang ini kecelakaan ataukah memang ada seseorang yang ingin mencelakai Nara dengan memerintah empat preman tersebut?"


"Mas Wildan, apa nggak sebaiknya Mas berangkat ke kampus saja?" saran Nara.

__ADS_1


"Nggak sayang, aku nggak akan tega meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini. Biarlah aku hari ini libur tidak ke kampus juga tidak ke kantor," ucap Wildan.


"Ya sudah terserah mas saja, apakah tadi Mas terluka?" tanya Nara.


"Nggak, sayang. Sama sekali tidak ada luka di tubuhku, tetapi luka di hati ini melihat kondisi kamu seperti ini," ucap Wildan iba melihat kondisi Nara.


Dalam waktu yang cukup lama Wildan berada di rumah Nara, sejenak mereka mengobrol. Tak terasa waktu menjelang siang, Wildan pun pamit pada Bu Resy.


Dalam perjalanan pulang, ia terus saja memikirkan kejadian yang baru saja menimpa Nara.


Sesampainya di rumah, ia langsung duduk di teras halaman rumah seraya termenung.


"Loh Wildan, kamu kok pulang sih?" tanya Mamah Rifda memicingkan alisnya.


"Aku tidak jadi ke kampus, mah. Perasaanku tidak enak gelisah dan juga penasaran," ucap Wildan jujur.


"Memangnya apa yang membuatmu menjadi tak karuan seperti itu, apakah kamu berantem dengan Nara?" tanya Mamah Rifda seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.


Wildan pun menceritakan apa yang barusan dialami oleh Nara di depan matanya. Mamahnya sampai terperangag mendengar cerita dari anak sulungnya tersebut.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa bisa terjadi seperti itu? lantas bagaimana kondisi Nara saat ini?" tanya Mamah Rifda penasaran.


"Kondisi Nara baik-baik saja, mah. Hanya saja aku nggak tega melihatnya. Wajahnya itu penuh lebam juga kedua lengannya juga penuh luka terus di sudut bibirnya sempat berdarah. Ngeri kalau diingat kejadian tadi, Nara melawan empat preman sendirian. Untung saja aku melintas lewat jalan sepi itu, mah. Jika tidak ya Allah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada, Nara," ucap Wildan panjang lebar seraya menghela napas panjang.


"Lantas, apa langkah selanjutnya yang akan kamu tempuh Wildan?" tanya Mamah Rifda.


"Aku akan menyelidiki kejadian ini, mah. Karena sepertinya ini adalah suatu unsur kesengajaan, ada yang tidak suka pada Nara dan ingin mencelakai dirinya," ucap Wildan.

__ADS_1


"Lantas bagaimana caramu menyelidiki kejadian yang telah menimpa Nara? karena tidak ada barang bukti yang kuat kecuali di sekitar lokasi kejadian ada kamera CCTV nya," ucap Mamah Rifda.


"Nah itu, mah. Aku belum menyelidiki apakah di lokasi kejadian ada kamera CCTV-nya atau tidak," ucap Wildan.


__ADS_2