Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Sibuk Di Rumah Produksi


__ADS_3

Setelah pulang ke rumah, Wildan lekas berganti pakaian. Hari ini ia memutuskan untuk tidak ke kantor karena sedang ingin bermalas-malasan di toko oleh-oleh Nara.


"Wildan, kamu tumben tidak berangkat ke kantor?" tanya Rendra.


"Ingin sesekali bersantai, pah. Rasanya tuh penat pikiran lelah memikirkan urusan kantor," ucap Bagas.


"Papah, sudah paham kalau seseorang sedang jatuh cinta itu malas untuk mengerjakan segala macam yang diutamakan itu bisa berdua dengan sang pujaan hati," canda Rendra terkekeh.


"Papah tau aja deh," ucap Wildan terkekeh.


"Papah kan pernah muda, dulu pun Papah melakukan hal yang sama seperti yang saat ini kamu lakukan. Papah lebih suka di rumah mamah bahkan hampir setiap hari sampai Mamah ini merasa bosan," ucap Mamah Rifda terkekeh seraya melirik ke arah Papah Rendra.


"Ooooo jadi seperti itu, haaa.."


Wildan mengedipkan mata genit ke arah Papah Rendra.


"Mah, kenapa buka kartu sih? kan jadi ketahuan dech sama Willdan," celetuk Rendra manyun ke arah Rifda.


"Kan papah dulu yang cerita, ya secara otomatis mamah jadi ingat masa lalu dong," ucap Rifda terkekeh.


"Silahkan berselisih paham, karena aku akan pergi ke rumah Nara."


Wildan tak lupa menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati, nggak usah pakai acara ngebut segala," pesan Mamah Rifda.


Saat itu juga Wildan melangkah pergi ke pelataran rumah dimana mobilnya masih terparkir. Ia pun langsung melakukannya arah ke toko oleh-oleh Nara.


Hanya beberapa menit saja telah sampai di depan pelataran toko oleh-oleh Nara. Kebetulan sekali Nara saat ini ada di rumah produksi samping tokonya sendiri. Ia sedang menpacking cemilan-cemilan.

__ADS_1


"Tante, Nara mana?" tanya Willdan sudah tidak canggung lagi dengan Bu Resy.


"Nara ada di rumah produksi sedang bantu pekerja. Packing beberapa cemilan karena kebetulan hari ini ada pesanan banyak, tetapi stok di toko sudah habis. Jadi sedang packing yang baru di produksi," ucap Bu Resy.


"Terima kasih Tante, informasinya. Saya mau bantu Nara juga ya, Tante."


Saat itu juga Wildan masuk ke rumah produksi dan mencari keberadaan Nara yakni di ruang khusus pengepakan cemilan.


"Eh Mas Wildan, mau bantuin juga ya? asyik nih jadi kerjaanku cepat selesai deh kalau Mas Wildan mau bantu-bantu," sapa Nara.


"Pastinya dong, memangnya untuk apa coba kalau aku datang ke sini bukan untuk bantu, ya jelas untuk bantu kekasih hatiku ini dong," canda Willdan terkekeh membuat suasana di ruang packing pun menjadi riuh ramai.


Saat itu juga, Wildan membantu Nara dengan sangat antusias dan bersuka cita selalu. Ia begitu senangnya ada di rumah produksi tersebut. Hingga ia terlupa jika belum makan siang, sampsi perutnya bunyi keruyuk-keruyuk.


"Sepertinya ada yang belum makan nech, siapakah kiranya ya?" Nara pun melirik genit ke arah Wildan.


Wildan yang sadar akan hal itu sejensk merasa malu," hheee iya aku belum makan siang makanya cacing di perutku bunyi berdemo minya jatah makan mereka."


Ting ting ting ting...


Buntu tulang bakso lewat tepat di depan pelataran toko oleh-oleh Nara. Wildan pun juga mendengarnya dan ia lari ke luar ruangan, tetapi terlebih dahulu ia menghitung semua pekerjaan yang ada di rumah penduduk tersebut.


"Di ruangan ini ada yang tidak suka dengan bakso nggak? jika memang ada nanti biar saya ganti mentahnya saja. Karena kebetulan saya ada rezeki lebih jadi ingin mentraktir semuanya dengan bakso dan minuman dingin," tanya Willdan.


Semua bersorak kegirangan mendengarnya, bahkan tidak ada satupun yang mengatakan tidak ada bakso. Hampir seluruh pekerja yang ada di rumah produksi suka dengan bakso. Hingga Willdan memesan untuk semuanya pekerja yang ada di rumah produksi juga yang ada di toko oleh-oleh Nara.


Semua pekerja merasa senang dan sangat antusias pada saat mendapatkan traktiran dari Wildan. Ia memuji Wildan orang yang ramah, tidak sombong dan sangat baik hati.


Terhadap para pekerja pun membaur, tidak membedakan kasta atau derajat. Hal ini membuat Wildan cepat akrab dengan para pekerja baik yang ada di rumah produksi Nara atau pun di toko oleh-oleh Nara.

__ADS_1


Semuanya merasa senang gembira makan bakso bersama-sama.


"Ya Allah semoga hubuman anakku dengan Wildan berjalan langgeng hingga mereka melangkah ke jenjang pernikahan. Sudah cukup kegagalan dalam berpacaran yang dialami oleh Nara ataupun Wildan. Keduanya sama-sama pernah merasakan sakit hati dan semoga kali ini mereka merasakan kebahagiaan yang seutuhnya," doa Bu Resy di dalam hatinya.


Selagi asyik menikmati bakso pemberian dari Wildan, tiba-tiba ponsel Bu Resy berdering.


Kring kring kring kring kring


Bu Resy langsung saja mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari Mamah Hety.


"Selamat siang Mbak Resy?"


"Selamat siang juga Mbak Hety, apakah ada yang bisa saya bantu?".


"Begini Mbak Resy, stok cemilan di mini market dan di toko snack kami ini yang diproduksi dari Nara telah habis. Bisakah segera dikirim kembali? ya seperti biasa kirimnya ke rumah saya."


"Sebentar ya Mbak Hety, saya tanyakan dulu pada Nara apakah kami telah memproduksi kembali atau belum karena kebetulan hari ini juga kami sedang banyak sekali pesenan dari kota ini saja."


"Baiklah kalau begitu Mbak Resy, saya tutup dulu teleponnya. Silakan Mbak Resy konfirmasi dulu sama Nara, nanti kalau sudah jelas tinggal berkabar saja lewat chat pesan."


Saat itu juga Hety menutup panggilan teleponnya kepada Resy. Dan segera Resy beranjak dari duduknya, ia melangkah ke rumah produksi di mana saat ini Nara sedang ada di sana bersantai sejenak untuk makan bakso bersama-sama dengan Wildan dan semua pekerja yang ada di rumah produksi tersebut.


"Nara, apakah hari ini semua stok cemilan kita yang ada di sini cukup banyak atau tidak ya?" tanya Bu Resy.


"Memangnya di tiko kita telah kehabisan stok ya Bu?" Nara malah balik bertanya.


"Nggak Nara, kalau di toko stok masih cukuplah untuk dua hari ke depan. Barusan mamahnya Tara menelpon, katanya dia minta dikirim dengan segera untuk di mini market dan toko. Karena stok cemilan kita di sana sudah habis," ucap Bu Resy.


"Sebentar aku cek dulu ke bagian pengolahannya ya Bu."

__ADS_1


Nara bangkit sejenak melangkah ke bagian pengolahan cemilan yakni di dapur untuk mengeceknya. Dan ternyata stok tidak mencukupi, semua hanya untuk pesanan hari ini saja dan besok.


Cemilan milk Nara selalu produksi tiap harinya. Selalu baru dan baru, tidak pernah ada cemilan yang sampai kadaluarsa.


__ADS_2