Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Di Bully


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepatnya, Tara sudah benar-benar pulih. Tapi dia belum siap untuk jalani operasi plastik.


"Mah-pah, mulai besok aku ingin berangkat ke sekolah ya."


Mendengar ungkapan dari Tara orang tuanya berpandangan satu sama lain.


"Apa kamu yakin dan sudah siap untuk berangkat ke sekolah lagi?"


"Iya Tara, apa nggak sebaiknya kita ke luar negeri dulu untuk kamu menjalani operasi wajahmu?"


Orang tuanya merasa ragu jika Tara berangkat ke sekolah kembali dalam kondisi wajahnya belum menjalani operasi plastik.


"Aku yakin kok mah-pah, aku sudah bisa menerima kenyataan ini. Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksi semua teman-temanku pada saat melihat wajahku ini."


Tara mencoba meyakinkan orang tuanya bahwa dia pasti akan sanggup menghadapi sikap teman-temannya dengan kondisi wajahnya yang tak setampan dulu.


"Ya sudah, jika seperti itu maumu. Tapi pesan kami jika terjadi sesuatu hal padamu yakni ada orang yang menghina atau mengejekmu tak perlu kamu ambil hati biarkan saja mereka bicara apapun intinya kamu fokus saja dengan sekolahmu," pesan Hesa.


"Baiklah, papah dan mamah nggak usah khawatirkan akan hal itu. Lagi pula ada Nara di sampingku aku pasti mampu menghadapi dunia ini karena tidak sendiri," ucap Tara merasa yakin.


Hingga tak terasa pagi pun telah datang. Tara sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahnya akan tetapi untuk sementara waktu dia tidak diizinkan untuk mengemudi mobilnya sendiri. Orang tuanya meminta seorang sopir pribadi untuk mengantar jemput Tara sekolah.


Tara tak lupa sebelum ke sekolah dia mampir ke rumah Nara untuk ikut serta berangkat ke sekolah bersamanya.


"Hay Tara, loe sudah sehat kembali? Gwe senang deh bisa melihat loe memakai seragam sekolah lagi," sapa Nara riangnya.


"Iya Nara, gue suntuk di rumah terus tapi gue minta maaf ya belum bisa menepati janji gue untuk kita ke sekolah naik sepeda bersama," ucap Tara sedih.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, gue udah bisa melihat loe mau sekolah lagi udah rasanya senang banget," ucap Nara sumringah.


Saat itu juga Tara mengajak Nara turut serta ke sekolah dengan mobilnya. Baru sampai pelataran sekolah, Tara sudah mendapatkan hujatan bulian dari teman-teman yang dulunya mengaguminya.


"Ih kok wajahnya si Ronald berubah menyeramkan seperti itu ya?"


"Iya nggak banget ya, dulu mah kita-kita selalu mengaguminya karena ketampanannya sekarang mah apa yang ingin dilirik apa yang ingin dikagumi ya kan?"


"Benar juga sekarang wajahnya seperti monster ngeri."


Mendengar cemoohan dari teman-teman sekolahnya, Tara hanya bisa menelan salivanya karena dia menyadari memang wajahnya yang sekarang ini tak setampan dulu melainkan sangat menyeramkan sekali.


"Tara, loe ingatkan pesan gue? biarkan anjing menggonggong kita berlalu," ucap Nara.


"Loe nggak usah khawatir Nara. Gwe sudah siap dengan konsekuensinya, gwe nggak akan kenapa-napa kok percaya aja sama gwe."


Tara mencoba tersenyum di hadapan Nara walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia merasakan sakit namun tidak berdarah.


Dia mencoba tegar dalam menghadapi segala bulian ejekan dan hinaan dari semua teman-teman sekolahnya. Dia akan menjadikan Nara sebagai motivasi supaya dia bisa menghadapi orang-orang yang menghinanya.


Begitu Tara dan Nara sampai di kelasnya kembali lagi Tara mendapatkan ejekan dari teman-teman sekelasnya. Bahkan Ara yang melihat Tara masuk sekolah kembali dia sempat tersenyum sinis padanya.


"Lihat saja, Tara. Gwe akan buat Nara menjauh dari loe dan mendekat pada gwe. Gwe yakin Nara akan benci sama loe," batin Ara tersenyum sinis.


"Hay Ronald, bagaimana kondisi loe? Loe sudah bisa berangkat ke sekolah lagi rupanya. Gwe pikir loe selamanya tidak akan berani untuk menginjakkan kaki ke sekolah ini," ejek Ara tanpa sadar.


Dia telah melupakan janjinya pada orang tuanya untuk tidak berbuat jahat lagi. Tetapi hari ini dia malah mengulang kesalahan yang sama lagi dengan mengejek kondisi Tara.

__ADS_1


"Heh Ara, katanya loe itu sudah berubah ternyata perubahan loe hanya sementara saja buktinya loe hari ini telah berbuat kesalahan kembali!"


"Memang jika sudah watak seseorang itu buruk selamanya tidak akan bisa berubah menjadi lebih baik seperti loe ini! untung saja gwe tidak berteman lagi dengan loe!"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nara tidak membuat Ara sadar, dia malah tersenyum sinis padanya.


"Gwe sedang ngomong sama Ronald bukan sama loe, kenapa loe yang sewot?" ucap Ara melirik sinis pada Nara.


"Jelas gwe sewot lah. Karena Ronald itu cinta sejati gwe, kekasih gwe, belahan hati gwe. Makanya jika ada yang menyakiti Ronald, gwe ikut merasakan sakit. Jadi jika loe terus saja menghinanya, loe otomatis akan berhadapan dengan gwe! camkan itu!" ucap Nara ketus.


"Hhhaa sebegitu cintanya loe sama pria yang wajahnya seperti monster ini? kaya nggak ada pria yang lebih baik saja," Ara kembali lagi mengejek.


"Nara, biarkan dia mengejek gwe sepuasnya. Itu sama saja untuk mengurangi dosa-dosa gwe. Loe nggak usah melayani dia, lagi pula gwe nggak apa-apa kok,' ucap Tara meraih tangan Nara untuk duduk di bangku mereka.


"Loe nggak boleh begini, Ronald! Jika semua orang yang mengejek loe nggak di balas, mereka akan semakin menjadi-jadi seperti, Ara!"


"Kita harus berani, jangan mau di rendahkan orang. Kalau loe nggak berani biar gwe yang hadapi!'


Mendengar apa yang di katakan oleh Nara, Tara menjadi sangat terharu. Dia tak menyangka jika Nara benar-benar begitu membela dirinya tanpa ada rasa gentar sama sekali. Dia sempat berpikir jika apa yang pernah Nara katakan hanyalah sebagai kata penyemangat dan penghiburan saja. Ternyata Nara justru membuktikan semua ucapannya itu.


Tak berapa lama bel tanda masuk telah berbunyi. Tara mencoba untuk fokus belajar, begitu pula dengan Nara. Akan tetapi tidak dengan Ara, dia malah pikirannya traveling karena tak terima melihat Nara masih saja bersama Tara padahal kondisi wajah Tara sudah sangat menyeramkan.


"Aku heran sama, Nara. Padahal sudah sangat jelas jika wajah Tara itu jelek. Tapi dia masih saja mau dengannya. Bahkan dengan lantang membela Tara di depan semua teman kelas," batin Ara kesal.


"Aku pikir, Nara akan mau denganku lagi karena wajahku jauh lebih tampan di banding si jelek Tara. Tetapi ternyata apa yang aku pikirkan salah."


Terus saja Ara merutuki Tara di dalam hati. Dia sama sekali tak fokus dengan pelajaran yang sedang di terangkan oleh guru.

__ADS_1


__ADS_2