
Dalam perjalanan pulang mengantarkan Nata, Tara hanya diam saja. Dia sedang fokus menyetir dan juga melafalkan lagu kesukaan dia. Sementara Nara tak sadar tertidur. Dia bagaikan terkena ajian penyirep yang membuatnya ternyenyak dalam mobil.
Sekilas Tara melirik ke arah samping di mana Nara tertidur pulas. Dia pun tersenyum puas, dan sangat senang. Tak terasa sudah sampai di depan pelataran, Nara. Tara pun segera membangunkan Nara.
"Nara, bangun. Sudah sampai di depan rumah loe." Tara mengusap lengan Nara secara perlahan.
Nara pun terkesiap seraya mengusap matanya," hheee maaf ya gwe ketiduran."
Nara lekas keluar dari mobil di ikuti oleh Tara yang langsung membuka pintu mobil bagian belakang guna mengambil sepeda, Nara.
"Nara, gwe lekasan ya. Titip salam saja buat orang tua loe," ucap Tara berpamitan.
"Ya dech, thanks ya. Hati-hati pulangnya," pesan Nara.
Tara langsung melangkah menuju ke mobilnya, dia pun melakukannya arah pulang.
"Nara, kamu dari mana saja kok lama sekali?" tanya Bu Resy.
Nara bercerita panjang lebar pada ibunya tanpa ada yang di tutupinya sama sekali.
"Oalah, berarti feeling ayah dan ibu ternyata benar ya? jika Ronald itu adalah Tara? ada-ada saja dech pake acara menyamar segala. Aduh kelakuan anak muda sekarang semakin tak bisa di Selami ya," ucap Bu Resy terkekeh.
"Hheee ibu bisa saja dech. Aku juga keasikan ngobrol di rumah Tara hingga lupa jika akan melanjutkan membuat cemilannya."
Nara menepuk jidatnya sendiri.
"Untuk cemilan step satu sudah ibu selesaikan. Tinggal tiga macam lainnya yang belum, karena belum ada adonannya," ucap Bu Resy.
"Wah, berarti adonan yang semalam aku buat sudah semuanya di buat cemilan ya, Bu. Thanks ya Ibuku terkasih."
__ADS_1
Nara sangat senang hingga tiada hentinya menciumi ibunya.
"Nara, sudah. Malu tahu, apa kamu nggak malu jika ada yang melihat tingkahmu yang kekanak-kanakan ini!" sindir ibunya terkekeh.
"Nggak lah, untuk apa mesti malu?" ucap Nara manja.
*******
Rasa bahagia kini sedang di rasakan oleh Tara. Dia sudah lega tak perlu lagi menyembunyikan jari dirinya pada, Nara.
"Alhamdulillah, leganya hatiku karena Nara bisa mengerti dan tak marah. Semoga tidak ada lagi halangan dalam hubungan kami berdua," ucapnya seraya tersenyum riang.
Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Ara. Wajah murung selalu terlihat pada wajahnya. Dulu dia begitu terkenal bukan hanya di kelasnya dengan sebutan Babang Le Minho, tetapi seluruh sekolah memujanya.
Tetapi kini Ara sudah tak punya teman sama sekali, semua menjauh pada saat Ara alami kecelakaan dan kakinya kini pincang satu untuk berjalan.
"Gara-gara kaki pincang ini, aku di jauhi oleh semua teman-temanku! kini sudah tidak ada lagi satu pun yang mau berteman denganku."
Selagi Ara menggerutu sendiri, tiba-tiba orang tuanya datang menegurnya.
"Ara, kenapa akhir-akhir ini kamu sering murung dan menggerutu sendiri seperti ini?" tegur papahnya.
"Iya, Ara. Seharusnya kamu cerita pada mamah atau papah jika sedang ada suatu masalah supaya kami bisa sedikit membantumu memecahkan permasalahanmu," ucap mamahnya.
"Mah-pah, sejak aku alami kecelakaan. Tidak ada satupun yang mau berteman denganku. Apa karena ini karmaku ya, yang pernah menyakiti seorang wanita?" ucap Ara.
"Memangnya kamu pernah menyakiti siapa, Ara?" tanya mamahnya penasaran.
"Nara, mah. Aku menyakiti dia, dulu aku permainkan dia dengan aku pura-pura suka padanya, dan meminta dia jadi pacarku. Setekah satu bulan pacaran, aku putusin dia. Aku memacari dia karena supaya aku menang taruhan, mah-pah."
__ADS_1
"Waktu itu aku ikut gengs motor, dan aku menang taruhan. Tetapi aku telah membuat Nara malu di depan banyak siswa. Karena pada saat aku memutuskan dia di depan anggota gengs motor itu."
"Aku ingat betul saat itu, Nara menjadi bahan tertawaan bagi semua anggota gengs."
Sejak saat itu, Nara marah padaku. Bahkan sudah berpuluh kali aku minta maaf padanya, tetapi dia katakan selamanya takkan memaafkan dia. Nara benar-benar marah sama aku hingga sampai sekarang sama saja sekali tak mau mereposponku."
Panjang lebar Ara curhat pada orang tuanya.
"Ara, pantas saja jika gadis seperti Nara itu tersinggung seperti itu. Padahal kami tidak mengajarkan hal buruk padamu. Tetapi kamu malah seperti ini, hingga membuat Nara sangat marah," ucap Papahnya.
"Iya, Ara. Kenapa sih kamu bersikap seperti itu, Nara itu gadis yang sangat baik dan pintar. Bukannya dia Seung membantumu jika kamu kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah," ucap mamahnya.
"Iya, mah-pah. Aku menyesalo semuanya tapi Nara sama sekali sudah tak mau memaafkan aku bahkan untuk berteman denganku dia juga tak mau," ucap Ara tertunduk lesu.
"Makanya jika akan bertindak kamu berpikir terlebih dahulu. Papah selalu memberikan uang lebih untuk dirimu kan? lantas untuk apa juga kamu ikut taruhan yang nggak ada gunanya itu? malah kamu tega mengorbankan Nara, supaya kamu menang taruhan," papahnya begitu kesal.
"Kamu baru sekarang kamu cerita, kamu itu sudah buat malu papah. Ikut taruhan seperti itu, sampai kamu belain juga persahabatanmu dengan Tara dan Nara hancur. Kamu malah bertemsn dengan anggota gengs motor."
"Lantas apa mereka peduli di saat kamu alami kecelakaan, tidak kan? mereka justru menjauh darimu kan?"
Terus saja papahnya berkata pada Ara karena rasa kesal dan marahnya. Papahnya benar-benar kecewa akan perilaku anaknya tersebut. Padahal mereka dari keluarga terpandang dan dari segi materi itu sungguh berkelimpahan, tetapi Ara malah ikut taruhan segala. Ini yang sangat membuat murka Papahnya Ara.
"Pah, aku minta maaf. Awalnya aku iseng saja, pah. Aku pikir asik bermain keseruan taruhan seperti ini, pah. Bukan uangnya yang aku inginkan pah. Jika uang memang aku tak pernah kurang di beri dari papah selalu lebih," ucap Ara.
"Sudahlah, pah. Jangan lah kamu memarahi Ara terus, toh dia itu sudah meminta maaf kan?" lerai mamahnya.
"Iya, mah. Papah tahu Ara sudah meminta maaf, lantas di taruh dimana muka papah jika suatu saat nanti kita bertemu dengan orang tua, Nara. Pasti mereka sudah tahu kan tentang hal ini?"
"Papah ini sangat bersahabat dengan papahnya Nara walaupun dia itu cuma bekerja di staf biasa. Itu bukan masalah buat papah, karena hati ayahnya Nara sangat baik."
__ADS_1
Mendengar akan keluh kesah suaminya, lantas istrinya memberikan satu solusi yang menurutnya tepat.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Nara, dan kita meminta maaf atas nama Ara. Siapa tahu, Nara lantas mau memaafkan anak kita dan mau bersahabat lagi dengannya," saran Mamahnya.