
Kala sore menjelang, Hety pun memutuskan untuk segera menelpon Nara. Tetapi ia mencari tempat yang aman sekiranya kalau tidak tahu dirinya akan menghubungi, Nara.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon masuk ke dalam ponsel Nara, segera ia berlari kecil meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja belajarnya. Karena dia saat ini sedang sibuk packing usaha cemilannya di ruang tengah.
"Halo Nara, ini Tante Hety."
"Iya Tante, ada yang bisa aku bantu? Oh iya bagaimana kabar tante sehat bukan?"
"Alhamdulillah, tante sekeluarga di sini sehat. Semoga Nara dan keluarga juga sehat selalu ya. Tante ingin tanya satu hal Nara, bisa kan?"
"Tanya aja Tante, tak usah sungkan."
"Nara, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Tara? karena selama ini Tante tidak melihat kalau Tara itu teleponan sama kamu."
"Memangnya Tara tidak mengatakan pada tante, jika kami itu telah putus sudah cukup lama, tante."
"Tara tidak mengatakan putus, katanya hubungan kalian itu baik-baik saja tetapi tante merasa curiga kalau boleh tahu siapa yang memutuskan terlebih dahulu apakah, Tara?"
"Aku yang memutuskan nya, Tante. Jujur saja aku tidak suka dengan sikap Tara ternyata diam-diam dia punya pacar di sekolahnya. Ia adalah murid baru, jika tidak salah namanya Laura.
"Ada seseorang yang kirim video padaku, nanti aku kirim ke Tante. Biar Tante tahu sendiri apa yang menyebabkan aku putus dengan, Tara. Kebetulan belum aku hapus."
Tak berapa lama, Nara pun mengirimkan video yang pernah dikirimkan
Ara olehnya.
Melihat video yang telah dikirimkan oleh Nara, Hety merasa tak enak hati pada Nara atas ulah Tara.
"Nara, Tante minta maaf ya atas apa yang telah dilakukan oleh Tara."
"Tante nggak salah, jadi nggak perlu minta maaf. Aku juga nggak apa-apa, nggak ada rasa marah hanya ada rasa kecewa dan sedikit kesal saja pada Tara. Tapi saat ini aku sudah baik-baik saja, akan anggap ini mungkin saja kami tidak berjodoh."
__ADS_1
"Ya sudah ya Nara, maaf telah mengganggu waktunya dan terima kasih selama ini telah menjadi gadis yang baik. Padahal tante berharap lebih padamu, tetapi malah anak tante yang selalu saja berulah. Sekali lagi Tante minta maaf atas segala kesalahan yang dilakukan oleh Tara padamu."
Setelah mengatakan hal itu keduanya saling menutup panggilan telepon. Hety mencari keberadaan Tara, yang ternyata saat ini ada di kamarnya sedang asyik bermain game kesukaannya.
"Mah, tumben kemari ada apa ya sepertinya kok wajah mamah serius sekali menatapku?" tanya Tara heran.
"Tara, Mamah ingin kamu jujur pada Mamah. Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Nara, coba katakan sekali lagi," pinta Hety menatap tajam Tara.
"Mah, harus berapa kali aku mengatakan pada mamah jika hubunganku dengan Nara itu tidak ada masalah kami baik-baik saja. Kenapa mamah masih tidak percaya dan bertanya berulang-ulang tentang hal ini," ucap Tara kembali berbohong.
"Tara, kamu jangan coba-coba membohongi Mamah, kalau tidak ingin mendapatkan hukuman. Mamah tanya sekali lagi, sebenarnya bagaimana hubungamu dengan Nara?" tanya Hety lagi supaya Tara berkata jujur.
"Mah, hubunganku dengan Nara itu baik-baik saja, mamahku sayang."
"Lantas jika hubunganmu dengan Nara baik-baik saja, siapakah Laura itu?" tanya Hety lagi seraya terus saja menatap tajam ke arah Tara.
"Astaga bagaimana mamah bisa tahu tentang Laura ya? jangan-jangan Mamah juga sudah tahu kalau aku itu sudah putus dengan Nara, makanya mamah baru saja bertanya seperti itu."
Tara mulai panik dia pun tak bisa menjawab pada mamahnya tentang Laura.
"Tara, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mamah siapakah Laura itu?" kembali lagi Hety bertanya.
"Laura itu anak baru yang ada di kelasku, mah. Memangnya Mamah tahu Laura itu dari siapa ya?" Tara malah balik bertanya pada mamahnya.
"Kamu tak perlu tahu, Mamah tahu dari mana tentang Laura yang pastinya apa yang barusan kamu katakan itu semuanya adalah sebuah kebohongan yang kamu rekayasa selama ini."
"Kamu tega ya berbohong pada mamahmu sendiri. Apa kamu tidak takut dosa? Mamah sangat kecewa padamu, Tara.
Hety sudah tidak bisa lagi meredam emosinya.
"Mah, dimana letaknya aku berbohong? apa yang aku katakan adalah kebenaran bukan kebohongan semata," Tara masih saja berkilah.
"Kamu ingin tahu dimana letak bohongmu, yakni kamu sudah putus dengan Nara dalam waktu yang cukup lama. Tapi kamu katakan pada mamah jika hubungan kaliam itu baik-baik saja," ucap Hety ketus.
__ADS_1
"Mah, dari mana mamah tahu jika aku ini bohong?" tanya Tara penasaran.
"Mamah tahu segalanya tentang kebohongan yang kamu lakukan pada mamah. Bangkai ditutupi serapat apapun juga lama-lama juga akan tercium baunya."
"Kamu kembali lagi melakukan kesalahan yang fatal pada Nara, dan jangan harap mamah akan membantumu untuk memperbaiki kesalahanmu itu. Mamah sudah terlanjur malu dengan sikapmu itu."
"Mamah pikir kamu telah benar-benar berubah dalam bersikap dan bertutur kata tetapi ternyata Mamah salah menilaimu."
"Kamu telah menyia-nyiakan seorang gadis yang benar-benar tulus mencintaimu apa adanya. Pengorbanannya begitu besar padamu tetapi kamu tidak pernah menganggap akan hal itu."
"Mamah yakin suatu saat nanti kamu akan menyesali segala perbuatanmu terhadap Nara. Dan di saat itu Nara telah bahagia bersama pemuda lain yang lebih baik darimu."
Mendengar segala perkataan yang dilontarkan oleh Hety, Tara bisa berkata apapun lagi dia hanya diam saja.
"Kenapa kamu hanya diam saja Tara? di mana pembelaanmu, kamu sudah kalahkan? tidak bisa membela lagi tidak bisa berbohong lagi pada mamah," ucap Hety memojokkan Tara.
"Aku diam karena aku tak tahu ke mana arah pembicaraan mamah, makanya aku hanya mendengarkan saja," ucap Tara masih saja tak mengaku.
"Ya Allah, kenapa aku punya anak semata wayang tetapi sifatnya seperti ini? bukannya dia mengakui kesalahannya, malah dia semakin membangkang dan berkilah," batin Hety.
"Jika kamu tidak mengakui semua kesalahanmu, mulai detik ini mamah akan angkat tangan dengan segala urusan dirimu. Kamu urus saja dirimu sendiri jangan pernah melibatkan mamah untuk segala apapun di dalam kehidupanmu."
Setelah mengatakan hal itu Hety terlalu pergi dari kamar Tara.
********
Sejak saat itu, Hety tidak bertegur sapa dengan Tara. Dia diam saja bahkan segala kebutuhannya, Hety pun tak mau menyiapkannya.
"Mah, aku berangkat ke sekolah dulu ya."
Pamit Tara dan pada saat ia mengulurkan tangannya, Hety malah beranjak pergi begitu saja.
Hal ini menjadi pertanyaan bagi suaminya.
__ADS_1