Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Bergosip Ria


__ADS_3

Rasa kecewa melanda di hati Andre, tapi ia tak bisa memaksakan Nara untuk menerima dirinya menjadi pacar.


"Aku ingin lihat, Nara. Apakah memang benar kamu itu mau fokus kuliah, atau hanya sekedar alasan untuk menolakku saja. Jika suatu saat nanti aku tahu kamu jadian sama pria lain, aku tidak akan memaafkanmu juga tidak akan membiarkanmu bahagia dengan pria pilihanmu itu," batin Andre.


*******


Beberapa hari kemudian, giliran Ara memberanikan diri mendekati Nara. Ia menyatakan rasa cintanya pada Nara.


"Nara, gwe ingin bicara sebentar saja. Tolong loe dengarkan aku ya? sebentar saja," pinta Ara khawatir belum sempat bicara sudah di usir oleh Nara.


"Baiklah, gwe kasih waktu loe lima menit saja tidak lebih loh ya," ucap Nara ketus.


"Nara, izinkan gwe untuk memperbaiki kesalahan gwe di masa lalu. Jadilah kekasih gwe lagi, Nara," ucap Ara memohon.


"Loe dasar keras kepala, sudah gwe katakan jika gwe takkan bersedia sampai kapanpun! sudahlah pergi sana dari hadapan gwe, percuma saja loe seperti ini," ucap Nara kesal.


"Nara, gwe mohon dengan sangat. Gwe janji kali ini benar-benar akan membuatmu bahagia," ucap Ara terus saja mencoba membujuk Nara.


"Waktu lima menit sudah cukup, pergilah sekarang juga," usir Nara kesal.


Nara bangkit dari duduknya dan pada saat ia akan melangkah pergi justru Ara mencekal lengannya membuat Nara semakin bertambah kesal padanya. Belum juga Nara mengatakan sesuatu, tiba-tiba datanglah Wildan menepis tangan Ara yang mencekal lengan Nara.


"Heh sopan sedikit dengan seorang wanita!" bentak Wildan yang pada saat itu masuk ke ruang kelas Nara dengan bertujuan mengambil buku yang tertinggal.


Sontak saja semua yang melihat kejadian itu melihat ke arah mereka. Karena bentakan Wildan begitu kerasnya. Ia benar-benar tak sadar dengan apa yang telah ia lakukan saat ini. Karena yang ada di dalam hatinya perasaan tak suka pada Ara dengan sikap kurang ajarnya pada tambatan hatinya.


"Pak Wildan" serentak Ara dan Nara berkata.


"Iya, Nara. Aku datang kemari karena ada buku yang tertinggal dan aku tak suka melihat sikap seorang lelaki kasar pada wanita," ucap Willdan.

__ADS_1


"Dan kamu, awas jika kamu bersikap seperti ini lagi pada Nara ataupun pada wanita yang lain!" ancam Wildan melotot pada Ara.


Mendengar ancaman dari Willdan, Ara pun hanya bisa tertunduk tak berani berkata apapun lagi. Lantas ia perlahan berlalu pergi begitu saja.


"Pak Wildan, terima kasih ya," ucap Nara menyunggingkan senyuman.


"Sama-sama, Nara. Lain kali kamu jangan pernah memberi celah sedikitpun pada pria seperti Ara." Ucap Wildan seraya berlalu pergi melangkah ke depan kelas ke meja guru mengambil buku yang tertinggal.


Semua teman wanita Nara yang ada di kelas tersebut begitu iri dengan apa yang telah di lakukan oleh Wildan untuk Nara.


"Nara, sepertinya Pak Wildan ada hati dech sama kamu."


"Iya, Nara. Terlihat sangat jelas sekali dari cara ia membelamu tadi."


"Nara, kami iri loh ingin juga di perhatikan oleh Pak Wildan seperti yang is lakukan padamu."


Terus saja para teman sekelas Nara yang wanita berkata macam-macam. Akan tetapi Nara hanya diam saja tak berkata apapun. Ia hanya menyunggingkan senyumnya.


"Asik dech kalau memang Nara telah berhasil mendapatkan hati Pangeran tampan setampan Pak Wildan."


Terus saja semua teman wanitanya berkata pada saat melihat Nara hanya tersenyum. Mereka malah semakin salah paham dengan arti dari senyuman Nara. Padahal Nara sengaja tak berkata karena tak ingin menjadi panjang lebar. Hingga pada akhirnya Nara pun berkata supaya tidak terjadi salah paham lagi.


"Kalian ini berhalunya terlalu, masa iya seorang dosen jatuh cinta pada mahasiswinya. Pak Wildan itu hanya ingin menolongku saja, tak lebih dari itu. Bahkan ia juga tadi berkata jika gadis lain yang ada di posisiku juga ia akan menolong," ucap Nara menggelengkan kepalanya.


"Jangan salah, Nara. Di dunia ini tidak ada yang tak mungkin. Banyak kok kisah percintaan antara dosen dengan muridnya. Jika memang kamu berjodoh dengan Pak Wildan, lantas apa kamu akan menolaknya?"


"Aduh...jangan dong Nara sayang.."


"Apa buatku saja Pak Wildan juga aku takkan menolak. Tapi justru ia yang menolakku."

__ADS_1


Sejenak gelak tawa riuh terdengar di kelas mendengar perkataan salah satu teman Nara tersebut. Nara pun ikut tersenyum mendengarnya.


Semua teman di kelasnya baik pada Nara, tidak ada satupun yang memusuhinya. Lain seperti dulu disaat ia sekolah di SLTA tepatnya di kota B.


Hal serupa juga sempat terpikir oleh Andre yang sempat melihat kejadian itu.


"Apakah memang benar ya yang dikatakan semua teman kelas, jika Pak Wildan suka pada Nara? tapi jika di lihat dari cara ia berkata seperti ada rasa cemburu," batin Andre kesal.


Ara juga merasa kesal dan merasa di permalukan oleh Wildan.


"Kenapa dosen itu turut campur urusanku saja sih? aku sangat malu di buatnya. Untuk apa pula dosen itu bertindak kasar padaku dan terlihat jelas ia tak suka aku mendekati Nara. Mungkin saja ia juga suka pada Nara. Ih, apa nggak malu sih! kenapa nggak cari sesama dosen saja sih!" batin Ara kesal.


Sejenak Nara pun berpikir tentang semua yang dikatakan oleh teman-temannya.


"Masa iya seorang dosen suka pada muridnya, sepertinya itu mustahil dech. Ada-ada saja apa yang dikatakan teman-teman. Mentang-mentang mereka suka pada, Pak Wildan. Aneh banget dech, kaya nggak ada pemuda yang seumuran saja, mereka berebut suka pada, Pak Wildan," batin Nara.


"Tapi aku heran juga sih, kenapa Pak Wildan bertindak seperti tadi ya? sok turut campur begitu?" batin Nara lagi.


Ketermenungan saat ini sedang melanda Willdan. Ia terus saja memikirkan tindakan yang ia lakukan tadi.


"Kenapa pula aku bisa bertindak spontanitas membela Nara, padahal banyak sekali murid yang saat itu ada di dalam kelas."


"Dan kenapa aku sangat kesal dan marah pada Ara yang kurang ajar banget sama Nara."


"Ya Allah, aku sama sekali tak bisa menahan amarahku pada saat melihat Nara di cekal lengannya oleh pemuda itu!"


"Aku yakin sekali, pasti semua murid yang ada di kelas Nara sedang bergosip tentangku."


"Ah, biarkan saja. Bodoh amat dengan semua itu dech. Jika aku pikirkan hanya akan membuat sakit kepalaku ini."

__ADS_1


Terus saja Willdan menggerutu di dalam hatinya sendiri. Ia terus saja memikirkan kejadian tadi yang sempat membuatnya cemburu. Bahkan ia sudah tak sabar ingin mengungkapkan saja rasa cintanya kepada Nara.


__ADS_2