Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Resmi Pacaran


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang, Ara terus saja murung, dia masih saja memikirkan tentang perkataan Nara.


"Kenapa gwe merasa jika Nara telah berbohong pada gwe? sepertinya dia itu belum berpacaran sama Tara. Jika benar wajah Tara rusak, ini bisa menjadi kesempatan gwe untuk bisa mendapatkan hati Nara kembali bagaimana pun caranya. Batu saja yang keras bisa terkikis jika terus keba tetesan air. Apa lagi hati manusia, aku tidak akan parah semangat untuk terus mendekati Nara. Karena tidak ada gadis yang baik bagi gwe selain, Nara."


Terus saja Ara bergumam seraya melajukan mobilnya arah pulang. Sementara Hety sudah lega melihat kondisi Tara yang sudah sadar, dia pun ingin pulang sejenak guna membersihkan badannya.


'Tara, mamah pulang dulu sebentar nggak apa-apa kan? mamah gerah ingin segera mandi," ucap Hety agak ragu.


Belum juga Tara menjawab, Nara sudah menyela.


"Tante kalau mau pulang, nggak apa-apa. Tara kan nggak sendirian, ada aku yang menjaganya," ucap Nara tersenyum ramah.


"Terima kasih ya, Nara. Kamu memang gadis yang sangat baik. Jika begitu Tante pulang dulu. Tara, mamah pulang dulu ya."


"Iya mah, hati-hati."


"Hati-hati Tante, nggak usah terburu-buru."


Hety menyunggingkan senyuman lantas keluar ruang rawat anaknya. Seperginya Hety, Tara mengatakan banyak hal kepada, Nara.


"Nara, apakah yang tadi loe katakan itu benar adanya pada saat di sini masih ada


Ara?" tanya Tara lirih.


"Perkataan gwe yang mana ya, karena pada saat ada Ara di sini, gwe berkata banyak?" Nara malah balik bertanya.


"Gwe tak sengaja dengar samar-samar jika loe mengatakan jadian sama gwe dan kangen sama gwe juga," ucap Tara menatap sendu Nara.

__ADS_1


Sejenak Nara terdiam m, dia tak bisa berkata. Hingga akhirnya Tara pun berkata lagi.


"Gwe tahu, sebenarnya loe berkata seperti itu hanya untuk membuat Ara cemburu dan tak mendekati loe lagi. Mana mungkin loe mau jadian sama gwe, apa lagi kondisi gwe sekarang ini seperti ini. Pasti wajah gwe tak seperti dulu lagi bahkan mungkin loe juga bakal jijik melihat wajah gwe jika perban ini sudah di lepas," ucap Tara lirih.


"Tara, kenapa loe berprasangka buruk sama gwe. Secara tidak langsung loe itu menuduh gwe cewe yang nggak bener dong. Gwe nggak mungkin jijik atau menjauh dari loe."


"Justru gwe akan selalu ada dekat loe, itu pun jika loe berkenan. Karena gwe sadar diri, bukan anak orang kaya."


"Makanya pada saat loe nembak gwe, gwe nggak langsung jawab."


Mendengar apa yang di katakan oleh Nara, Tara pun agak senang tapi juga agak bimbang.


"Nara, gwe nggak akan memaksa loe untuk balas rasa cinta ini apa lagi di tengah kondisi gwe yang seperti ini. Dulu gwe pede mengatakan cinta sama loe. Tetapi setelah kecelakaan ini, rasanya gwe tak pantas lagi untuk mendapatkan cinta loe, Nara," Tara merasa sedih dengan kondisi yang menimpa dirinya saat ini.


"Tara, justru di saat seperti ini. Gwe akan menjawab pertanyaan loe waktu itu. Gwe terima kok cinta loe, gwe benar-benar mau jadi pacar loe," ucap Nara.


"Astaghfirullah aladzim, Tara. Gwe ini bukanlah seorang cewek yang suka berbohong. Selama ini kita berteman, masa iya loe belum hapal juga dengan sifat gwe." Nara merasa sedih dengan ketidak percayaan dari Tara.


Nara pun langsung murung, membuat Tara merasa bersalah.


"Nara, gwe minta maaf. Bukan maksud gwe membuat loe bersedih seperti itu. Gwe hanya minder saja dengan diri gwe sendiri, ucap Tara sedih.


"Tara, apa yang menimpa loe itu karena kecelakaan. Dan loe seharusnya bisa ambil hikmah di balik musibah ini, di mana loe masih di beri umur panjang. Loe jangan. memikirkan luka di wajah, loe. Gwe sama sekali tak mempermasalahkannya. Gwe cinta dan sayang loe tulus, seperti loe cinta dan sayang gwe kan?" ucap Nara berusah menghibur Tara.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Nara. Tapi gwe benar-benar tak memaksa loe. Jika waktunya perban ini di buka lantas loe nggak mau jadi cewek gwe lagi juga nggak apa-apa, gwe nggak akan memaksa loe. Gwe juga sadar diri dan loe pantas untuk bahagia," ucap Tara.


"Loe bilang gwe pantas bahagia? loe ingin nggak melihat gwe bahagia?" tanya Nara.

__ADS_1


"Gwe sangat ingin melihat loe selalu berbahagia," ucap Tara.


"Baiklah, jika loe ingin gwe bahagia maukah loe turuti permintaan gwe?" tanya Nara lagi.


"Katakan saja, apapun yang loe mau selama gwe mampu pasti akan gwe lakukan untuk loe. Karena gwe cinta dan sayang sama loe sudah dari gwe masuk sekolah, pertama kalinya gwe lihat loe, gwe sudah cinta dan sayang," ucap Tara.


"Baiklah, bahagia gwe itu sama loe. Dan gwe ingin loe nggak usah lagi minder dengan kondisi loe sekarang ini. Gwe ingin loe tetap menjadi Tara yang dulu selalu mensupport gwe. Dan gwe juga ingin kita bareng-bareng hadapi dunia ini," ucap Nara yang membuat Tara tiba-tiba melelehkan air matanya.


"Tara, kok loe malah nangis sih? gwe minta maaf ya jika ada kata-kata gwe yang sudah menyinggung perasaan loe," Nara langsung panik dan menghapus air mata Tara dengan ibu jarinya.


Tak berapa lama, orang tua Tara telah datang. Mereka sangat senang melihat kebersamaan Tara dan Nara.


"Mah-pah, aku sedang bahagia sekarang ini. Aku dan Nara benar-benar sudah jadian," ucap Tara senang.


"Alhamdulillah, benarkah itu Nara?" tanya Hesa.


"Iya, om. Benar sekali masa bohong sih. Minta doanya ya om-tante, supaya hubungan kami langgeng jangan sampai putus di tengah jalan," ucap Nara tersipu malu.


"Pasti kami akan doakan kalian berdua. Justru Tante ingin hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan," ucap Hety.


"Amin, Insa Allah Tante. Jika kira berdua benar-benar yakin dan saling percaya pasti keinginan Tante bisa terwujud," ucap Nara.


"Jadi kamu benar-benar mau jika kelak menjadi menantu, kami?" tanya Hety ragu.


"Hhee..Insa Allah, Tante. Tapi untuk saat ini karena kita masih sekolah, ya kita fokus ke sekolah dulu, iya kan Tara?"


"Iya lah, jalan kita masih panjang masa iya kita baru kelas dua SLTA sudah menikah?" Tara pun terkekeh.

__ADS_1


Orang tuanya sangat senang melihat keceriaan Tara di tengah sakitnya.


__ADS_2