Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Mengajak Kerja Sama Kembali


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Hety, Hesa sejenak diam seolah sedang berpikir, lantas ia pun berkata.


"Mah, tak usah malu niat kita kan baik. Tara tak usah kita ajak biarkan saja dia suruh jaga mini market dan toko snack," ucap Hesa meyakinkan istrinya.


"Apa Mamah nggak sebaiknya menelpon Nara dulu?" tanya Hesa memberikan saran.


"Nggak usahlah, pah. Apa lagi sepertinya nomor ponsel Nara juga sudah ganti," ucap Hety.


"Ya sudah sebaiknya kita ke sana sekarang saja tapi tak perlu kita mengatakan hal ini pada Tara, nanti malah ia ingin ikut," ucap Hesa.


Setelah mendapatkan kesepakatan bersama akhirnya Hesa dan Hety saat itu juga pergi ke rumah Nara. Akan tetapi dia tak mengatakan pada Tara, dia hanya berpamitan padanya akan menyambangi rumah seorang teman.


Perjalanan dari kota


B ke kota J membutuhkan waktu beberapa jam barulah mereka sampai. Nara sempat kaget melihat kedatangan orang tua Tara.


"Bu, untuk apa lagi orang tua Tara datang kemari ya?" tanya Nara merasa tak suka melihat kedatangan mereka.


"Kamu nggak boleh bersikap acuh tak acuh pada mereka itu tidak baik, walaupun kamu tak suka pada mereka jangan kamu perlihatkan rasa tak sukamu itu, ingatlah pesan ibu," ucap Bu Resy.


"Iyalah, Bu. Aku juga tahu kok akan hal itu, tak perlu dinasehati aku sudah mengerti," ucap Nara.


Nara dan ibunya menyambut kedatangan orang tua Tara dan mempersilakannya duduk di ruang tamu.


"Bagaimana kabar mba sekeluarga?" sapa Mamah Hety terus mencoba untuk tersenyum walaupun di dalam hatinya dia merasa tidak enak hati setelah apa yang dilakukan oleh Tara pada Nara.


"Alhamdulillah kami sekeluarga kondisi baik bagaimana sebaliknya Mbak Hety?" tanya Bu Resy tersenyum ramah.


"Alhamdulillah kami juga baik. Maksud kedatangan kami di sini ingin menanyakan tentang produksi cemilan. Apakah Nara masih menjalankan usaha tersebut atau sudah berhenti?" tanya Mamah Hety seraya menatap sendu ke arah Nara.


"Alhamdulillah masih berjalan tante, dan bahkan saya sudah memiliki toko ya walaupun cuma satu. Itu tante di seberang jalan ini." Nara menunjuk ke seberang jalan dimana ada toko oleh-oleh Nara.


"Lantas apakah Nara melanjutkan kuliah?" tanyanya menyelidik.

__ADS_1


"Alhamdulillah saya kuliah, sementara yang menjaga toko tersebut ibu saya beserta beberapa karyawan yang lain," ucap Nara mencoba tersenyum.


"Ini orang kenapa tanyanya mendetail sekali sih, padahal aku tak suka," batin Nara kesal.


"Oh ya syukurlah. Begini Nara, di toko snack dan mini market tante terus saja menanyakan tentang produk-produk Nara yang pernah disetok di sana. Apakah kiranya Nara bersedia menyetok kembali, dikirimnya bisa lewat ekspedisi," tanya Mamah Hety.


"Untuk hal ini terserah ibu saya saja tante, jika ibu saya tidak keberatan dan berkenan serta banyak waktu luangnya ya mungkin bisa saja untuk mengirim ke tempat tante," ucap Nara tak bisa memutuskan.


"Kalau misalkan Mbak Resy atau Nara keberatan dikirim ke mini market atau toko snack kami secara langsung, kalian bisa kirim saja ke alamat rumah kami juga nggak apa-apa. Untuk ongkos ekspedisinya biar kami yang tanggung juga nggak apa-apa," ucap Mamah Hety.


"Begini Mbak Hety, saya tidak bisa memutuskan secara langsung. Saya dan Nara akan memikirkannya terlebih dahulu nanti kami akan memberikan kabar kepada Mba lewat nomor ponsel," ucap Bu Resy.


"Baiklah, Mbak. Ini nomor ponsel saya," ucap Mamah Hety memberikan nomor ponselnya.


Setelah cukup lama berada di rumah Nara, Hesa dan Hety berpamitan pulang. Tetapi Bu Resy tak lupa memberikan bingkisan untuk oleh-oleh mereka berdua.


Seperginya Hesa dan Hety, Nara mulai berbicara pagi dengan Bu Resy.


"Misalkan kita nggak bersedia juga nggak enak, Nara. Lagi pula mereka sanggup membayar ongkos ekspedisinya. Jadi kita tidak akan merugi. Dan bukankah dulu mereka selalu menyetok dalam jumlah banyak?" ucap Bu Resy.


"Iya sih, Bu. Mereka selalu menyetok dalam jumlah besar. ya sudah terserah ibu saja dech," ucap Nara pasrah.


"Oh ya, Nara. Ada yang ingin ibu bicarakan padamu, sebenarnya beberapa hari yang lalu. Tapi karena ibu banyak sekali orderan di toko, hingga lupa untuk bicara hal ini," ucap Bu Resy.


"Bicara apa sih Bu, sepertinya kok serius sekali?" tanya Nara menjadi penasaran.


"Nara, kamu sadar nggak kalau dosen mu itu suka padamu?" tanya Bu Resy menyelidik.


"Maksud ibu, Mas Wildan?" tanya Nara untuk memastikan.


"Iya lah, siapa lagi sih kalau bukan Willdan. Waktu itu Wildan datang dan mengatakan pada ibu jika ia suka dan ingin menjalin hubungan serius denganmu. Intinya dia minta izin dulu sama ibu, apakah boleh ia akan serius denganmu. Ya ibu bilang, boleh banget."


"Apakah Wildan sudah mengungkapkan rasa cintanya padamu, Nara?"

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Nara saksh tingkah dan iya bingung.


"Nara, kenapa diam?"


"Mas Wildan nggak mengatakan apa pun, Bu. Apa iya dia suka sama aku?" Nara seperti tak percaya.


"Astaga Nara, masa iya kamu tidak bisa merasakan jika Wildan suka padamu? seharusnya kalau seorang wanita yang pernah berpacaran, akan peka kalau ada seorang pria yang suka padanya," ucap Bu Resy.


"Aku itu khawatirnya cuma perasaan aku saja. Mas Wildan baik nggak cuma sama aku, tapi nanti aku baper atau GEER. Aku nggak akan tahu isi hati seseorang jika orang itu tak mengatakannya padaku, Bu," ucap Nara.


"Lantas bagaimana perasaan kamu sendiri terhadap, Willdan?" tanya Bu Resy menyelidik menatap tajam pada Nara.


Narapun hanya diam sejenak dia bingung juga malu jika mengatakan yang sebenarnya pada ibunya.


"Nara, ibu sedang bertanya padamu kenapa kamu diam saja tidak menjawab pertanyaan ibu," tegur Bu Resy mengagetkan lamunan Nara.


"Sebenarnya....gimana ya Bu..... tahu ah,"


Nara tersipu malu.


"Ibu sudah tahu jawabannya dari raut wajahmu itu, kalau sebenarnya kamu juga punya rasa suka sama Willdan kan," goda Bu Resy terkekeh.


"Iiiihhh....ibu apaan sih."


Wajah Nara berubah merah bagaikan kepiting rebus.


"Hem, jujur saja kenapa? ibumu ini kan pernah muda juga dan kita kan sesama wanita jadi tak perlu menutupi rasa malumu itu," goda bu Resy kali ini ngakak.


"Nara, ibu dan ayah tidak akan melarang jika memang kamu dan Willdan saling mencintai. Namanya orang normal dan masih muda."


"Lagi orang kakek nenek juga masih banyak yang pacaran, mereka tidak merasakan malu walaupun sudah sama-sama tua."


"Jadi untuk apa kamu malu, pada saat ini ibu tanya tentang perasaanmu pada Wildan?"

__ADS_1


__ADS_2