
Sore menjelang, Nara gelisah menanti kedatangan Tara.
"Biasanya jam segini Tara sudah sampai di sini tetapi kenapa hingga detik ini belum sampai juga ya? kenapa perasaan gwe mendadak nggak enak seperti ini ya?"
Nara pun menghampiri ibunya untuk menceritakan rasa gelisah memikirkan Tara yang tak juga datang.
"Bu, tumben ya jam segini kok Tara belum sampai di sini. Biasanya kan beberapa menit yang lalu dia sudah ada di sini," ujarnya cemas.
"Mungkin dia sedang kelelahan bisa jadi sedang tidur atau sedang ada kesibukan yang lain juga bisa kan. Kalau kamu masih merasa gelisah sebaiknya kamu telepon saja Taranya," saran Bu Resy.
"Oh iya-ya Bu, kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke situ ya? malah aku cerita sama ibu seperti ini," ucapnya manyun.
Saat itu juga di hadapan ibunya, Nara menelpon nomor ponsel Tara. Tetapi nomor ponselnya tak aktif. Berkali-kali Nara menelpon nomor ponsel Tara tetap tak aktif.
"Bu, nomor ponselnya malah nggak aktif," ucapnya kecewa.
"Ya sudah telpon lagi nanti, mungkin saja ponselnya sedang di isi daya baterai habis," ucap Bu Resy.
Malam pun menjelang pada saat Nara akan menelpon Tara terlebih dulu ponsel milik Nara berdering. Nara langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo Tara, loe ke mana aja sih? dari tadi gwe teleponin loe ponsel loe nggak aktif-aktif?"
"Nara, ini bukan Tara tapi ini Tante."
"Oh maaf Tante, aku nggak tahu memang Tara nya di mana Tante ?"
"Saat ini Tara ada di rumah sakit, pulang sekolah dia mengalami kecelakaan. Sebenarnya tadi tante nggak ingin memberitahumu, tapi kata Om Yoga alangkah baiknya tante memberitahumu."
"Astaghfirullah aladzim, pantas saja dari tadi pikiran aku nggak pernah tante. Sekarang Tara dirawat di rumah sakit mana Tante? biar aku datang ke sana untuk menjenguk."
Tante Yosi segera memberitahu pada Nara di mana saat ini Tara dirawat setelah itu dia pun menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Nara langsung memberi tahu pada orang tuanya jika saat ini Tara ada di rumah sakit.
"Ayah-ibunya, barusan Tante Yosi menelpon memakai ponsel Tara dan memberi tahukan bahwa saat ini Tara ada di rumah sakit. Sepulang sekolah dia alami kecelakaan," ucap Nara cemas.
"Astaghfirullah aladzim, ya sudah sekarang juga kita jenguk dia," ajak Ayah Bimo.
"Sebaiknya ibu dan Ade di rumah saja, biar ayah dan Nara yang kesana. Gampang besok gantian jenguknya," ucap Ayah Bimo.
"Iya ayah nggak apa-apa, kalian yang hati-hati ya,' pesan Bu Resy.
Sejenak Nara dan Ayah Bimo berganti pakaian setelah itu mereka berangkat menuju ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor secara berboncengan.
Hanya beberapa menit perjalanan mereka telah sampai di rumah sakit yang elit di mana saat ini Tara dirawat. Ayah Bimo dan Nara melangkah cepat mencari ruangan di mana saat ini Tara dirawat.
Saat melihat kondisi Tara yang tak sadarkan diri dan wajahnya dibalut dengan perban entah kenapa Nara tak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes di pipinya.
"Astaghfirullah aladzim, Tara bagaimana hal ini bisa terjadi sama loe," ucapnya lirih.
"Tante-Om, bagaimana ceritanya kok Tara bisa alami kecelakaan seperti ini?" tanya Nara cemas.
"Lantas dari kecelakaan itu sampai detik ini belum sadar juga, om?" tanya Nara lagi.
"Iya, Nara. Menurut dokter, di dalam kepalanya darahnya menggumpal karena benturan yang amat keras. Dan Tara juga harus segera jalani operasi untuk mengambil gumpalan darah yang membeku di kepalanya, dan operasi baru bisa di lakukan besok pagi," ucap Om Hesa terlihat sangat sedih.
"Ya Allah, Tara. Kenapa ini semua harus terjadi pada loe," batin Nara seraya terus meneteskan air matanya.
Dia sungguh tak menyangka orang sebaik Tara akan mengalami hal mengenaskan seperti itu. Nara juga merasa khawatir dengan kondisi Tara. Mendengar kata-kata operasi kepala, Nara sudah sangat ngeri.
"Nara, sudahlah jangan menangis. Kami minta doanya saja supaya besok operasi berlangsung lancar dan Tara bisa pulih lagi seperti sediakala," ucap Tante Hety memeluk Nara.
Dia sudah menganggap Nara layaknya seperti anak sendiri. Hingga tak sungkan untuk memeluknya. Tante Hety juga tak kuasa menahan tangisnya. Begitu pula dengan Om Hesa, akan tetapi Om Hesa lekas keluar ruangan.
__ADS_1
"Mas Hesa, yang sabar ya. Pasti Tara akan pulih kok."
Ayah Bimo mencoba menghiburnya seraya sesekali menepuk bahunya.
Om Hesa hanya mengangguk perlahan, seraya dia mengusap air matanya. Setelah cukup lama, Nara dan Ayah Bimo berada di rumah sakit. Mereka berpamitan untuk pulang.
"Tante-Om, kami pulang dulu. Besok pagi aku akan datang lagi kemari."
Nara menyalami orang tua Tara.
"Tak usah pagi, Nara. Bukannya besok kamu harus sekolah?" ucap Bu Hety.
"Nggak apa-apa, Tante. Besok aku izin nggak masuk sekolah lagi pula hanya pelajaran olah raga. Aku ingin dampingi Tara pada saat operasi," ucap Nara.
"Ya sudah terserah kamu saja, kalian yang hati-hati pulangnya ya," pesan Om Hesa.
"Mas-Mba, kami pulang dulu ya. Kalian yang sabar dan positif thinking saja, pasti Tara akan segera pulih kok," ucap Ayah Bimo seraya menyalami orang tua Tara.
Sebenarnya Nara masih ingin di rumah sakit untuk menemani Tara, tapi diajuga tak enak hati pada orang tua Tara.
Selama dalam perjalanan pulang, Nara terus saja menangis. Dia masih ingat betul kata-kata terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Tara, loe harus sehat kembali karena loe punya janji pada gwe. Kita akan mengayuh sepeda bareng menuju ke sekolah," batin Nara sedih.
Sesampainya di rumah, Nara langsung berlari menuju ke kamarnya. Dan dia menelungkupkan wajahnya di pembaringan seraya terus menangis. Ibunya yang sempat melihat Nara berlari dengan wajah masam menjadi penasaran dia pun bertanya pada suaminya.
"Ayah, bagaimana kondisi Tara? kok ibu perhatikan raut wajah Nara begitu sedih?" tanya Bu Resy penasaran.
Ayah Bimo menceritakan semua tentang kondisi Tara saat ini. Bu Resy begitu iba pada Tara mendengar kondisinya.
"Ya Allah, kasihan sekali Tara. Padahal dia anak yang sangat baik. Semoga besok operasi nya berjalan lancar ya, ayah," ucap Bu Resy.
__ADS_1
"Iya, Bu. Semoga besok operasi berjalan lancar dan kondisi Tara lekas pulih kembali seperti sediakala," ucap Ayah Bimo.
Sementara Nara terus saja menangisi kondisi Tara. Bahkan dia terus saja ingat pada masa kebersamaannya dengan Tara.