Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Menjadi Idola Kampus


__ADS_3

Nara tergagap pada saat ia di minta untuk maju ke depan.


"Nara, kenapa kamu tak fokus dengan apa yang sedang saya terangkan?" tanya Wildan seraya menatap wajah ayu Nara.


"Aduh, bagaimana aku jawabnya ini?" batin Nara bingung.


"Aku sangat fokus kok, Mas eh Pak Wildan," ucap Nara gagap membuat seluruh teman yang ada di kelas itu bersorak sorai.


"Heh, kenapa kalian bersorak seperti itu? padahal kalian juga tak fokus kan? justru kalian hanya fokus menatap wajah Pak Wildan. Inilah yang membuat aku tertawa barusan, karena expresi wajah kalian yang sangat lucu," ucap Nara tanpa sadar.


"Apa maksud perkataanmu, Nara?" tanya Willdan penasaran.


"Hehehe nggak kok Pak Wildan, hanya saja aku geli tadi pada saat melihat teman-teman menatap ke arah Pak Wildan tanpa berkedip," ucap Nara.


"Nara, apa yang kamu katakan memang benar. Kami tak munafik dengan apa yang kami lihat. Maaf ya, pak. Karena kami ini mengagumi ketampanan anda, hingga kami selalu terpana melihat wajah anda," ucap salah satu teman Nara tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Hampir semua wanita yang ada di kelas ini terpesona dengan ketampanan anda, Pak Wildan. Hanya satu orang saja yang sepertinya tidak normal dan tidak punya rasa suka pada lelaki, yakni si Nara itu," ucap salah satu temannya seraya perkataannya itu membuat yang lain terkekeh.


Nara tak membantah, ia hanya tersenyum saja.


"Hem, kalian belum tahu saja. Jika suatu saat kalian tahu pasti akan kaget atau bahkan akan shock," batin Nara.


Wildan hanya menggelengkan kepalanya saja pada saat mendengar teman-teman Nara berkomentar karena perkataan Nara. Ia pun meminta Nara untuk duduk kembali dan dengan catatan untuk fokus belajar.


"Pak Wildan, saya mau dong di panggil ke depan."


"Saya juga mau, Pak Wildan. Selama pelajaran anda, saya mau kok di depan."


Mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa murid perempuannya lagi, Wildan hanya senyam-senyum saja.


"Kalian ini aneh ya, memang kalian mau dihukum di depan berdiri selama pelajaran saya?" tanya Wildan seraya terkekeh.


"Dengan senang hati kami rela, Pak. Walaupun kami tidak melakukan kesalahan apapun,' jawab salah satu murid mewakili murid yang lain.

__ADS_1


"Sudah kalian jangan bercanda terus sekarang kita lanjutkan lagi ya pelajarannya. Saya harap kalian fokus dengan materi pelajaran yang saya terangkan jangan kalian menatap saya terus itu namanya bukan fokus," ucap Wildan.


Di kampus tersebut selain Wildan dikagumi karena ketampanannya, ia juga dikagumi karena keramahtamahannya, kebaikannya, dan murah senyumnya, serta rendah hatinya.


Nakanya hampir semua murid wanita dan dosen wanita sangat menyukai dirinya bahkan mengidam-idamkan sosok Wildan menjadi pendamping hidup mereka.


Sejenak para murid wanita tadi menuruti apa yang dikatakan oleh Wildan. Kini mereka benar-benar fokus dengan mata pelajaran yang saat ini sedang diterangkan oleh Wildan.


Hingga mata pelajaran Wildan usai, mereka sangat murung dan kecewa karena bagi mereka waktu kebersamaan dengan Wildan terlalu singkat.


Sementara Nara saat ini iseng mengirimkan video dimana para teman wanitanya terperangah menatap Willdan ke nomor ponsel Wildan.


Sejenak Willdan membuat video kiriman dari Nara, dan ia pun senyam-senyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Hem, Nara-Nara. Ada-ada saja dech tuh anak, bukannya fokus belajar malah rekam teman-temannya," batin Wildan.


Wildan tidak marah sama sekali dengan ulah Nara, ia mengirimkan pesan pada Nara.


Drt drt drt drt drt drt


[Nara sayang, lain kali kamu yang fokus belajar ya. Jangan seperti tadi, masih asik senyam senyum sendiri yang ternyata malah asyik membuat video.]


Nara terkekeh melihat chat pesan yang di kirim oleh Wildan. Ia pun lantas membalas chat pesan tersebut.


[Iya, bos ku.]


Kali ini balasan chat pesan dari Nara tidak di balas lagi oleh Wildan karena jika balas berbalas tidak akan selesai.


Wildan melangkah menuju ke ruang khusus dosen, ia pun mengambil segala peralatan mengajarnya karena dia akan lepas pulang untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor.


Namun langkahnya terhenti pada saat ia akan keluar dari ruang dosen dengan membawa peralatan mengajarnya. Tepat di depan pintu ruangan dosen, berdiri seorang dosen wanita dengan senyum genitnya.


"Maaf, Pak Wildan. Bisakah luangkan waktu sedikit untuk saya karena saya ingin berbicara hal penting dengan anda," pintanya memelas.

__ADS_1


"Baiklah Bu, tapi saya tidak bisa berlama-lama ya karena ada urusan penting yang harus segera saya selesaikan," ucap Wildan dengan rasa sungkan ia kembali masuk ke ruang dosen dan duduk di ruang tamu.


Dosen wanita itu pun ikut duduk di hadapan Wildan.


"Pak Wildan, sebenarnya saya ingin mengatakan hal penting ini tidak di sini loh. Karena ini adalah hal yang sangat pribadi," ucap dosen wanita tersebut.


"Lantas dimana, Bu? karena kebetulan saya benar-benar sedang banyak urusan yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja," ucap Wildan.


"Pak Wildan, bisa nggak ya nanti malam kita bertemu dan kita ke cafe. Nanti saya yang traktir dech," bujuk rayunya.


"Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak bisa, sebaiknya lewat ponsel saja jika tidak ingi ada orang yang tahu kan bisa, Bu," saran Wildan.


Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang ingin di katakan oleh dosen wanita itu pada Willdan.


"Baiklah, jika begitu Pak Wildan. Nanti saya akan kirim chat pesan pada nomor telepon anda."


Saat itu juga Wildan bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan dosen tersebut.


Dan pada Willdan sedang fokus berjalan menuju ke parkiran mobil, ponselnya bergetar tanda ada chat pesan masuk.


Drt drt drt drt drt


Satu notifikasi chat pesan masuk ke nomor ponsel Wildan.


"Pak Wildan, maafkan saya mengganggu ya. Tapi saya benar-benar sudah tidak bisa memendam rasa ini. Jujur saja sejak saat pertama kali saya melihat anda, ada getaran cinta pada diri saya. Pak Wildan, sudikah merajut kasih dengan saya?]


Wildan terkekeh pada saat membaca chat pesan dari salah satu dosen wanita yang tadi sempat ia temui. Wildan pun lekas membalas chat pesan tersebut.


[Terima kasih ibu sudah suka pada saya. Tapi maaf, saya tidak bisa membalas perasaan ibu terhadap saya. Jujur saja, saya sudah punya seorang calon istri. Sebaiknya ibu mencari pria yang lain saja ya, sekali lagi saya minta maaf.]


Chat pesan balasan dari Willdan langsung sampai ke wanita itu. Dan ia begitu kecewa pada saat membacanya. Tetapi ia tak menyerah begitu saja, ia pun mengirimkan chat pesan lagi.


[Pak Wildan, saya mau kok menjadi yang kedua. Saya ikhlas jika saya menjadi cadangan.]

__ADS_1


Wildan memicingkan alisnya membaca chat tersebut. Kali ini ia tak membalasnya lagi.


__ADS_2