
Mendengar apa yang di katakan oleh Ara, papahnya benar-benar kesal sekali.
"Ara, itu bukan suatu candaan! itu suatu penghinaan buat, Nara. Papah benar-benar kecewa padamu! mulai besok papah tak izinkan kamu ke sekolah dengan naik mobil!"
"Kamu juga harus merasakan apa yang Nara rasakan. Mulai besok kamu ke sekolah dengan naik sepeda!"
"Jatah jajanmu papah kurangi dan juga semua kartu yang ada padamu papah sita! sampai Nara benar-benar tulus dalam memaafkan kamu!"
Mendengar apa yang di katakan oleh suaminya, istrinya merasa iba pada Ara.
"Pah, jangan terlalu keras pada Ara. Lagi pula ia telah mengakui kesalahannya, jadi jangan keterlaluan dalam menghukum, Ara," ucap Mamahnya.
"Ini yang buat Ara jadi ngelunjak, kamu itu terlalu memanjakannya!" bentak papahnya kesal.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah. Papahnya lekas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Ara dan istrinya. Dia benar-benar sangat kecewa dan malu atas apa yang Ara lakukan pada Nara.
"Mah, bagaimana ini? masa iya aku harus berangkat ke sekolah naik sepeda? semua kartuku di sita lantas jika aku beli kebutuhan sekolah bagaimana? mah, aku benar-benar nggak sanggup jika seperti ini," rengek Ara supaya mamahnya mau membujuk papahnya.
"Itu karena salah kamu sendiri yang telah menghina profesi ayah dan ibunya, Nara. Itu suatu tindakan yang tak terpuji. Jelas saja papahmu marah sekali. Dengan apa yang kamu lakukan itu," ucap Mamahnya.
"Mah, aku mohon sekali ini saja. Bantu aku membujuk papah, please mah."
Kembali lagi Ara merengek.
Mamahnya hanya menggelengkan kepalanya seraya berlalu pergi begitu saja. Dia sama sekali tak mau membantu anaknya bukan berarti tak sayang, tetapi dia tak ingin anaknya semakin bertambah manja dan seenaknya pada orang.
"Jika aku berangkat ke sekolah dengan naik sepeda, aku akan semakin di buly oleh teman-teman di sekolahan. Sudah kakiku pincang saja di buly apa lagi ke sekolah dengan naik sepeda."
Terus saja Ara menggerutu sendiri seraya membayangkan jika dirinya mengayuh sepeda.
Sementara saat, Nara juga sedang di nasehati oleh orang tuanya.
__ADS_1
"Nara, seharusnya tadi kamu jangan bersikap tak sopan pada orang tua Ara. Bagaimana pun mereka sudah berniat baik kemari untuk meminta maaf atas kesalahan anaknya," tegur ayahnya.
"Aku nggak sopan bagaimana, ayah? aku hanya tak suka saja dengan sikap Ara yang telah menghina pekerjaan ayah dan ibu. Dan aku sengaja mengatakan hal itu supaya orang tua Ara tahu bagaimana sifat Ara di sekolah," ucap Nara menva diri.
"Nara, ayah tahu kamu sakit hati pada Ara. Tapi tidak sepantasnya kamu tunjukkan hal itu pada orang tua Ara."
Nara merasa di pojokkan oleh ayahnya, dia pun menghentikan aktifitas membuat cemilannya. Dan berlari pergi ke kamarnya tanpa sepatah katapun.
"Ayah, seharusnya ayah tak terlalu keras pada Nara. Dia itu tidak salah, cobalah mengerti bagaimana jika ayah yang di posisi Nara. Di sekolahan dibuly di hina di caci. Dia masih bisa tahan, dia marah karena kita yang di hina. Dia justru membela kita, ayah," ucap Bu Resy.
"Bu, aku itu nggak enak sama paoshnya Ara. Kami kan sudah bertemsn cukup lama," ucap ayahnya.
"Ayah lebih membela teman ayah yang anaknya telah merendahkan profesi kita? dari pada membela anak sendiri yang mati-matian membela kita pada saat profesi kita di hina?"
Bu Resy ikut kecewa dengan sikap suaminya. Dia justru iba pada anak gadisnya. Bu Resy menyusul Nara di dalam kamarnya.
Untung saja tidak di kunci, dan Nara sedang melamun di meja belajarnya.
"Aku heran saja pada ayah, Bu. Kenapa justru dia membela orang yang telah menghinanya bukan membela anak sendiri yang membelanya mati-matian," ucap Nara sangat kesal.
"Nara, sudahlah. Tak usah kamu pikirkan hal itu, nanti yang ada kamu nggak konsentrasi dalam sekolahmu," ucap Bu Resy mengingatkan.
"Tenang saja, Bu. Aku bukan gadis yang pemalas dan juga cengeng. Aku tidak akan mencampur adukkan antara masalah rumah dengan sekolah aku," ucap Nara meyakinkan ibunya seraya mencoba tersenyum.
*******
Pagi menjelang, Nara pun beraktivitas seperti biasanya. Pada saat dia akan berangkat sekolah, dia pun tetap berpamitan pada ayahnya. Walaupun semalam sempat berselisih paham.
Seperti biasa, Tara menjemputnya untuk berangkat bersama. Nara bisa menyembunyikan perasaan kecewanya pada ayahnya di hadapan Tara.
"Nara, bagaimana buat cemilannya sudah selesai belum?" tanya Rara disela mengemudi mobilnya.
__ADS_1
"Sedikit lagi kelar, hhee maaf ya terlalu lama. Atau nanti di bawa yang sudah jadi dulu ya, supaya bisa lekas di jual di mini market,' ucap Nara.
"Boleh dech, nanti sepulang sekolah gwe ambil ya. Eh, bukannya itu Ara? kok dia berangkat naik sepeda ya?" ucap Tara menatap ke arah Ara yang sedang kelelahan mengayuh sepeda.
"Masa sih, gwe kok nggak lihat?" Nara celingukan mencarinya.
"Ntar di sekolah juga loe bisa lihat kok."
Tak berapa lama, mobil Tara sudah sampai di parkiran sekolah. Dia pun langsung keluar bersama dengan Nara.
Apa yang di katakan oleh Tara ada benarnya. Nara sempat melihat Ara masuk ke sekolah dengan menuntun sepeda. Bahkan dia sempat di ejek oleh teman-teman sekolahnya.
"Loh kenapa sih kok Ara bisa naik sepeda ya?" batin Nara di penuhi tanda tanya.
Pada saat ada di dalam kelas, tiba-tiba Ara mendekati Nara dengan jalan terpincang-pincang.
"Nara, gwe minta loe maafkan gwe supaya gwe tak mendapatkan hukuman seperti ini," ucap Ara memelas.
"Loe ngomong apa sih? gwe nggak paham, tolong jangan ganggu gwe, berapa kali gwe katakan sama loe," ucap Nara ketus.
"Nara, gwe mendapatkan hukuman dari nyokap gara-gara loe ngadu kemarin itu. Jika gwe pernah ngebuly pekerjaan orang tua loe," ucap Ara.
"Oh, jadi loe sedang di hukum? bagus deh kalau begitu, biar loe nggak seenaknya lagi sama orang. Jangan mentang-mentang loe itu kaya seenaknya menghina profesi orang tua gwe," ucap Nara kesal.
"Gwe mau ke kantin, loe mau ikut nggak?" tanya Nara pada Tara.
Tara pun mengangguk dan mereka berdua pergi dari hadapan Ara. Sementara Ara begit sedih karena tak bisa membujuk Nara.
"Ya Allah, begini amat nasibku? apa begitu besarnya salahku ini sehingga harus menderita seperti ini?" batin Ara penuh dengan keluh kesah.
Dia sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa. Hingga kini dia pasrah dengan keadaannya yang sekarang.
__ADS_1