Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Taktik Wildan


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di toko oleh-oleh Nara, Wildan pun berpamitan pulang dan pada saat akan membeli beberapa cemilan, Bu Resy enggan menerima uang pembayaran dari Willdan.


"Nggak usah, Nak Willdan. Ambil lagi uangnya, anggap saja ini untuk oleh-oleh orang tuamu. Salam ya dari kami untuk Mba Rifda dan Mas Rendra. Semoga kalian sekeluarga selalu di beri kesehatan, keberkahan dalam segala hal. Dan jangan jera main kemari," ucap Bu Resy.


"Aminn, doa yang terbaik pula untuk keluarga Tante ya."


"Wah, saya jadi nggak enak nech, Tante. Masa iya gratisan seperti ini?" Wildan tetap tak mau mengambil kembali uangnya.


Hingga pada akhirnya Nara yang mengambil uang itu dan di selipkan pada kantung keresek yang berisi cemilan tersebut.


"Mas, bawa saja uangnya. Nggak semua harus di nilai dengan uang," ucap Nara tersenyum.


"Terima kasih ya Nara-Tante Resy. Kalau begitu saya pamit pulang, saya pasti akan sering datang kemari. Itupun kalau di izinkan oleh Nara," ucapnya seraya melirik ke arah Nara.


"Silahkan saja, mas. Aku tidak akan melarang kok," ucap Nara.


Saat itu juga Wildan menyalami Bu Resy dan melangkah akan keluar dari toko oleh-oleh Nara. Akan tetapi langkahnya terhenti pada saat ia melihat siapa yang baru saja datang.


"Pemuda ini pasti ingin PDKT dengan Nara, bagaimana ya caranya supaya aku ada diantara mereka. Karena aku tak ingin membiarkan ada celah sedikitpun untuk pria lain bisa mendekati Nara," batin Willdan.


"Aduh, Nara-Tante. Maaf nech, ada yang terlupakan dech." Wildan pura-pura menepuk jidatnya sendiri.


"Ada apa, Mas Wildan?" tanya Nara memicingkan alisnya.


Mendengar sebutan Nara pada Willdan membuat pemuda yang baru datang tadi, merasa heran.


"Nara, kamu panggil apa pada Pak Wildan?" tanya Andre menyelidik.


"Mas, memangnya kenapa? toh Mas Wildan sendiri yang memintaku memanggilnya mas jika di luar kampus. Masalah buatmu?" ucap Nara ketus.

__ADS_1


"Heee nggak apa-apa kok, aku kan kaget. Baru tahu kamu memanggil Pak Wildan seperti itu," ucap Andre menahan rasa cemburunya.


"Hem, pemuda ini kan satu kelas dengan Nara. Aku yakin selain Ara, Ia juga suka pada Nara. Wah, aku nggak akan tinggal diam jika seperti ini. Pokoknya aku tidak akan memberi celah sedikitpun pada pria lain untuk bisa mendekati Nara atau bahkan berduaan dengannya," batin Willdan.


"Nara, bisa bantu aku kan?" ucap Wildan.


"Bantu apa ya, mas. Katakan saja, jika aku mampu pasti bantu kok," ucap Nara menyunggingkan senyuman.


"Nara, kebetulan aku butuh banyak cemilan buat oleh-oleh. Karena di rumah saat ini sedang ada saudara datang. Barusan mamah chat pada saatku tapi aku lupa," ucap Willdan berbohong.


Bu Resy tahu gelagat Willdan dan kebetulan ia tak begitu suka pada Andre.


"Nara, temani saja Nak Willdan berkeliling memilih cemilan yang akan ia jadikan oleh-oleh untuk saudaranya," pinta Bu Resy.


Hal ini tentu saja membuat Andre salah tingkah karena ia di cuekin oleh Nara dan juga ibunya. Nara berlsku pergi tanpa menghiraukan adanya Andre. Nara kini sudah tak bisa bersikap seperti biasa lagi pada Andre sejak tahu Andre suka dirinya.


Nara tak ingin Andre menjadi terlalu berharap pada dirinya jika ia masih saja bersikap akrab dengan Andre. Makanya pada saat Bu Resy memerintahkan dirinya untuk menemani Wildan. Ia sangat antusias, karena ini juga satu cara untuk bisa menjauhi Andre secara perlahan.


Terus saja Andre menggerutu di dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk pergi dari toko oleh-oleh Nara, karena ia cuekin oleh Nara bahkan tak di sapa sama sekali oleh Bu Resy.


Bu Resy terus saja melayani para pembeli tanpa memperdulikan adanya Andre. Tanpa mempersilahkan Andre untuk masuk apa lagi duduk.


"Aku harus berbuat apa ya, karrna sainganku ini bukan sembarang orang melainkan dosenku sendiri? masa iya Nara lebih memilih pria yang lebih tua dariku dari pada memilihku?" gumam Andre seraya memukul kemudinya karena kesal.


Awalnya ia mengira dengan mengatakan isi hatinya, Nara akan dengan senang hati menerima dirinya. Tetapi prasangkanya selama ini salah. Ia salah telah menafsirkan sifat baik dan keakraban dirinya bersama Nara.


"Astaga, kenapa otak ini selalu saja tertuju pada kebersamaan Pak Willdan dan Nara? apakah aku harus menyerah saja atau aku harus memperjuangkan cintaku ini? tapi percuma saja jika aku memperjuangkan cintaku tapi Nara tak cinta sama sekali padaku," gumam Andre.


Sementara Wildan bisa tersenyum senang di dalam hatinya, karena usahanya telah berhasil.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya pergi juga tuh cowok. Dengan begini aku lega karena ia tak jadi mendekati Nara," batinnya senang.


"Nara, aku rasa sudah cukup cemilannya."


"Oh ya sudah, mas. Aku pikir masih kurang banyak," ucap Nara terkekeh.


Saat itu juga Wildan membawa semua cemilannya ke kasir untuk di total jumlah pembayaran yang harus ia bayar. Dan setelah itu barulah ia benar-benar pulang dengan hati yang penuh rasa bahagia.


Tak berapa lama sampai juga di pelataran rumah. Orang tuanya heran pada saat Wildan membawa dua kardus besar keluar dari mobilnya.


"Wildan, apa kamu membeli cemilan lagi dari toko oleh-oleh Nara? yang kemarin saja masih banyak loh?" tegur Mamah Rifda.


"Iya, mah. Ini karena terpaksa," ucap Willdan seraya meletakkan dua kardus besar berisi cemilan di meja dan satu kantong kresek.


"Terpaksa bagaimana?" tanya Papah Rendra memicingkan alisnya.


Wildan tak sungkan menceritakan apa yang barusan terjadi di toko oleh-oleh Nara. Mendengar cerita dari Willdan, orang tuanya terkekeh membuatnya heran.


'Pah-mah, memangnya ada yang lucu dengan ceritaku? kok kalian terkekeh seperti itu?" tanya Wildan merasa aneh.


"Heee ya lucu, cinta bisa membuat seseorang melakukan hal yang tak terduga ya kan, pah?" ucap Mamah Rifda terkekeh.


"Iya, mah. Benar sekali, seperti apa yang telah di lakukan oleh anak bujang kita ini," ucap Papah Rendra terkekeh.


Willdan hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang. Ia tak bisa berkata apapun lagi.


"Mah-pah, itu yang di kantung kresek untuk mamah dan papah. Awalnya aku sudah diberikan itu oleh Tante Resy, tapi datang tuh cowok yang sepertinya punya hati pada Nara,' ucap Willdan.


"Lantas dua kardus cemilan itu untuk apa, Willdan?" tanya Mamah Rifda bingung.

__ADS_1


"Gampang, mah. Akan aku bagikan pada karyawan di kantor," ucap Willdan.


__ADS_2