
Namun Nara tak mau ke rumah sakit bersama Ara. Dia lebih suka naik ojek on line. Nara hanya menunjukkan dimana rumah sakit dan ruangan Tara dirawat saat ini.
"Nara, jika loe sudah maafkan gwe. Kenapa juga loe nggak mau bareng gwe ke rumah sakit," batin Ara sedih.
Namun dia tak bisa memaksa untuk Nara mau pergi ke rumah sakit bersama. Nara telah sampai terlebih dahulu, dan dia pun lekas menyambangi ruang rawat, Tara.
"Tante, sendirian?" tanya Nara celingukan mencari keberadaan Hesa.
"Iya, Nara. Baru saja Om Hesa pamit untuk pulang sejenak untuk membersihkan badannya," ucap Hety.
"Bagaimana kondisi Tara, Tante. Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Nara kembali.
"Yah seperti yang kamu lihat, Nara. Tara sampai saat ini belum juga sadarkan diri," ucap Hety sedih.
"Tante, ini aku bawain makanan dari rumah dan beberapa cemilan pasti Tante saat ini belum makan kan? sebaiknya tante makan dulu biar aku yang menjaga Tara," ucap Nara seraya menyerahkan rantang berisi makanan.
"Terima kasih ya Nara. Tante dan om jadi merepotkan hingga kamu harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit pastinya kamu capek ya?"
"Nggak lah, Tante. Jangan pernah berpikiran apapun Tante. Yang penting saat ini doa untuk Tara saja, aku nggak merasa cape ataupun lelah. Tara kan sahabat baikku, Tante," Nara mencoba menghibur Hety.
Tak berapa lama muncullah Ara, ia begitu ragu untuk masuk ke ruang rawat, Tara. Akan tetapi ia memberanikan diri untuk masuk juga dan menyapa, Hety.
"Selamat sore, tante. Bagaimana kondisi Tara untuk saat ini?" tanyanya salah tingkah.
"Ya seperti itulah, kamu kesini sendirian?" Hety malah balik bertanya.
Iya Tante, saya datang ke sini sendirian. Maaf saya baru bisa datang karena baru tahu tadi di sekolahan wali kelas kami mengumumkan jika Tara sedang dirawat di rumah sakit," ucap Ara.
"Iya nggak apa-apa, terima kasih ya sudah jenguk Tara. Ya sudah ngobrol saja dulu di sini sama Nara. Tante akan makan dulu, ini calon menantu membawakan makanan," ucap Hety tersenyum menatap Nara seraya melenggang keluar ruang rawat anaknya.
"Hah calon menantu, apakah memang Tara sudah jadian dengan Nara?" batin Ara sedikit kesal.
Nara hanya diam saja tak menyapa atau mengajak bicara Ara. Ia hanya terus memperhatikan kondisi Tara yang belum juga sadarkan diri.
__ADS_1
"Nara memangnya loe sudah jadian sama Tara?" tanya Ara penasaran.
"Memangnya kenapa jika aku sudah berpacaran dengan Tara dan jika aku belum berpacaran dengan Tara? memang itu penting untuk kamu ketahui?" Nara berkata ketus.
"Gwe ingin tahu saja kenapa loe jawabnya seperti itu," ucap Ara.
"Memangnya aku harus jawab apa? iya memang aku telah berpacaran dengan Tara, sudah puas," jawab Nara ketus.
"Jujur saja gwe masih berharap untuk bisa balikan lagi sama loe, Nara. Tapi ya sudahlah berarti sudah tak ada harapan lagi untuk gwe bisa kembali pada loe," ucap Ara jujur.
"Loe pikir jika gwe nggak berpacaran sama Tara, gwe akan mau balikan lagi sama loe? nggak bakalan tahu, setelah apa yang loe perbuat sama gwe bagi gwe loe itu sudah menjadi mantan yakni mantan terburuk!" ucap Nara kesal.
"Kalau loe sudah puas menjenguk Tara sebaiknya loe cepat pulang gih! gwe nggak nyaman ada loe di sini, mengganggu kebersamaan gwe sama Tara saja." Nara sengaja menggenggam jemari tangan Tara yang kondisinya masih belum sadar juga.
Namun usaha Nara untuk mengusir Tara tidaklah berhasil, dia masih saja tak bergeming dari tempat duduknya.
"Tara sayang, cepatlah kamu sadar karena aku kangen masa-masa kebersamaan kita. Aku ingin kita cepat bersama lagi kemanapun kita selalu berdua." Nara mencium tangan Tara.
Dan tanpa disadari pada saat Nara mencium tangan Tara, Tara membuka matanya perlahan.
"Tara, loe sudah sadar. Alhamdulillah ya Allah."
Tanpa pikir panjang, Nara memencet tombol yang ada di brankar tepatnya di atas kepala Tara.
Tak berapa lama datanglah dokter yang merawat Tara beserta satu perawat. Dari jarak yang lumayan jauh, Hety sempat melihat dokter dan perawat dengan tergesa-gesa masuk ke ruang rawat Tara. Hety pun menjadi panik dan cemas dia pun menghentikan aktivitas makannya lalu dia berlari kecil menuju ke ruang rawat anaknya tersebut.
"Dok, ada apa dengan anak saya?" tanya Hety berlari kecil menghampiri dokter.
"Bu, anak ibu justru sudah sadar. Di luar dari expetasi kami, dia sadar lebih cepat," ucap dokter tersenyum.
"Syukur alhamdulillah, dok. Saya pikir terjadi hal buruk terhadap anak saya pada saat saya dari jauh melihat dokter dan suster terburu-buru masuk ke ruang rawat anak saya ini," ucap Hety lega.
"Tetapi saya belum mengizinkan untuk anak ibu pulang. Pasien masih harus dirawat di sini untuk beberapa hari lagi supaya kondisinya benar-benar stabil dan benar-benar pulih," ucap dokter.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa, dok. Lakukanlah yang terbaik untuk anak saya," ucapnya tersenyum ramah.
Setelah beberapa menit ada di ruang rawat Tara, dokter pun berpamitan keluar dari ruang rawat tersebut. Seperginya dokter dan perawat, Hety langsung memeluk anaknya.
"Alhamdulillah, Tara. Mamah sangat senang sekali melihat kamu sudah sadar," ucapnya terharu dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, mah. Alhamdulillah aku sadar, tapi kenapa wajah aku di perban seperti ini!" tanya Tara merasa wajahnya kaku.
Mamah Hety menceritakan apa yang telah menimpa padanya. Dan Tara sejenak bersedih.
"Mah, apa mungkin wajah aku ini akan berubah menjadi jelek seperti di film-film yang ada di acara televisi?" tanya Tara lirih.
"Tara, kamu tak usah berpikir yang macam-macam dulu, kini pikirkan kesehatanmu saja," ucap Hety.
"Iya, Tara. Supaya loe bisa tepati janji loe sama gwe?" ucap Nara tersenyum.
"Janji yang mana?" tanyanya lirih.
"Loe janji akan mengayuh sepeda ke sekolah bersama gwe," ucap Nara sumringah.
"Nara, apa loe masih mau dekat dengan gwe seandainya wajah gwe sudah tak seperti dulu lagi?" Tara merasa ragu.
"Bagi gwe wajah itu nomor sekian, yang terpenting hati loe," ucap Nara.
"Apa loe kemari sama Ara?" tanya Tara melirik ke arah Ara.
"Tidak, gwe naik ojek online," ucap Nara.
"Tara, gwe ikut senang loe sudah sadar," ucap Ara.
""Iya, terima kasih sudah jenguk gwe," ucapnya datar.
"Ya Allah, baik Nara maupun Tara sama saja. Sikap mereka sudah benar-benar berubah, dingin terhadap gwe," batin Ara sedih.
__ADS_1
Dia pun lantas berpamitan pulang karena merasa di kacangin atau di cuekin.