
"Sebenarnya tanpa mereka memintaku untuk membantu Wildan mendekatkan pada Nara, aku juga telah berniat akan melakukan hal itu. Karena aku tahu jika Willdan ini selain tampan, ia juga sangat baik," batin Resy.
*******
Siang menjelang, Nara telah kembali dari kampus. Ia selalu menyempatkan dirinya untuk menjenguk ibunya di toko oleh-oleh.
"Bu, bagaimana penjualan hari ini apakah ada peningkatan atau seperti biasa atau sepi?" tanya Nara seperti biasa jika datang hal yang di tanyakan tentang penjualan.
"Alhamdulillah, walaupun baru setengah hari penjualan sudah lumayan banyak dan ada beberapa pesanan untuk minggu depan dalam jumlah yang tidak sedikit pula," ucap Bu Resy.
"Kamu sudah pulang, memangnya tidak banyak mata pelajarannya untuk hari ini?" tanya Bu Resy.
"Iya Bu, kebetulan hari ini cuma ada dua mata pelajaran sehingga cuma sampai jam dua belas siang sudah pulang," ucap Nara.
"Lantas apakah kamu sudah makan siang?" tanya Bu Resy.
"Belum, Bu. Karena aku pulang kerumah hanya meletakkan tas dan ganti baju laku kemari. Aku nggak ingin magh ibu kumat, jadi aku pikir sebaiknya ibu dulu yang makan siang," ucap Nara.
"Kamu selalu saja seperti itu, mengutamakan ibu dari pada dirimu sendiri," ucap Bu Resy.
"Sudahlah Bu, sebaiknya tak usah dipermasalahkan. Sekarang ibu pulang dulu untuk makan siang biar gantikan aku yang menjaga disini karena aku juga belum lapar," ucap Nara.
Hingga akhirnya Bu Resy tidak bisa menolak lagi permintaan Nara, maka ia lekas menyeberang jalan untuk sekedar makan siang. Sejenak ia teringat pada Mamah Rifda, ia pun mengirim chat pesan padanya.
[Mba Rifda, apakah Nak Willdan sedang bersantai. Kebetulan Nara sudah pulang, dan saat ini ia sendirian sedang berjaga di toko oleh-oleh. Silahkan saja jika Nak Willdan ingin PDKT, mumpung ada moment yang tepat.]
Drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk kedalam ponsel Mamah Rifda. Dan ia pun lekas membacanya dan seraya tersenyum.
__ADS_1
Saat itu juga ia membalas chat pesan dari Bu Resy.
[Baiklah, Mba Resy. Terima kasih atas informasinya, Willdan akan segera ke toko.]
Mamah Rifda lekas mencari keberadaan Wildan yang kebetulan sedang melamun di kamarnya.
"Wildan, lekas kamu ke toko oleh-oleh Nara. Barusan Bu Resy memberi kabar jika saat ini Nara sedang ada di toko sendirian. Hal ini bisa kamu gunakan untuk mulai PDKT padanya," ucap Mamah Rifda.
Mendengar kabar baik itu, Wildan sangat antusias dan langsung beranjak bangkit dari ranjangnya. Ia pun mengambil jaket serta dompet serta kontak mobilnya. Ia melangkah keluar dari kamarnya tak lupa mencium tangan mamahnya serta mencium kening mamahnya.
"Mah, aku pergi dulu ya terima kasih atas informasinya doain supaya Nara menyambut baik perasaan cintaku ini," pamit Wildan seraya terkekeh.
"Amin, hati-hati di jalan jangan ngebut," pesan Mamah Rifda.
"Baik, mah."
Willdan mengemudikan mobilnya ke arah toko oleh-oleh milik Nara. Tanpa ia tahu di belakangnya mengikuti mobil milik Tya.
"Willdan mau kemana sih, kok tergesa-gesa sekali? aku kok jadi penasaran ya, sebaiknya aku ikuti saja dia. Toh dia takkan tahu jika mobil ini aku yang mengendarai," gumam Tya seraya fokus mengikuti laju mobil Willdan.
Tak berapa lama, sampai juga Willdan di toko oleh-oleh Nara. Ia pun langsung masuk begitu saja. Beda dengan Tya, ia hanya berani menepikan mobilnya di jarak yang lumayan jauh.
"Untuk apa Wildan ke toko oleh-oleh itu? memangnya ia akan pergi hingga membeli oleh-oleh atau ada sanak saudaranya yang datang untuk memberinya oleh-oleh?" gumam Tya terus saja menatap ke arah toko oleh-oleh Nara.
Ia tak berani mendekat karena khawatir Willdan akan marah padanya. Tetapi ia masih saja penasaran dengan maksud dan tujuannya ke toko oleh-oleh tersebut.
Terus saja Tya mengamati Willdan dari jarak lumayan jauh. Akan tetapi ia lama-lama kesal dan lelah karena sudah hampir satu jam lamanya, tetapi Wildan tak kunjung keluar dari toko oleh-oleh Nara tersebut.
"Kenapa Willdan lama sekali tak keluar dari toko itu sih? masa iya, ia beli oleh-oleh sampai satu jam lebih lamanya," gumam Tya mulai gelisah.
__ADS_1
Dan pada saat ia melihat Wildan keluar sembari diantar oleh Nara, barulah Tya mulai terbersit rasa curiga dan cemburu.
"Siapa gadis muda itu? tetapi kok terlihat akrab dengan Willdan, apakah dari tadi ia bersama Willdan?" gumam Tya memicingkan alisnya.
Tya semakin ingintahu saja tentang hubungan Nara dengan Willdan. Hingga pada saat Wildan berlalu pergi, ia pun memberanikan diri menyambangi toko oleh-oleh Nara.
"Maaf, Mba. Yang punya toko ini?" saja Tya pada saat melihat Nara akan masuk.
"Iya, Mba benar sekali. Silahkan masuk saja jika ingin berbelanja, banyak varian rasa dan macam cemilan. Mba tinggal pilih saja," ucap Nara ramah.
"Hem, iya terima kasih. Saya datang kemari bukan untuk beli, tapi ingin tanya sesuatu. Apakah Mba ini tahu dengan pria yang bernama Wildan? ini mba fotonya," Tya menunjukkan foto Willdan.
"Oh, Mas Wildan. Saya tahu sekali, karena ia itu dosen di tempat saya kuliah dan kebetulan orang tuanya juga langganan toko saya ini," ucap Nara tanpa ada rasa curiga.
"Oh seperti itu, terima kasih ya mba. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Tya seraya berlalu pergi.
"Aneh, datang hanya untuk tanya tentang Mas Wildan." Nara lekas masuk ke dalam toko lagi.
Sementara Tya terus saja penasaran dengan hubungan Nara dan Wildan.
"Sejak kapan Wildan menjadi seorang dosen, kok aku baru tahu ya?" batinTya masih saja penasaran.
"Aduh, kenapa juga aku tadi tak tanya di mana kampusnya. Supaya aku mudah menyelidiki tentang Willdan," Tya terus saja bergumam seraya menepuk jidatnya sendiri.
"Jika seperti ini aku akan susah untuk bisa menyelidiki Willdan."
Tya melajukan mobilnya arah pulang, akan tetapi hatinya terus saja gelisah memikirkan keakraban antara Nara dan Wildan. Ia masih saja bum percaya jika Nara dan Wildan itu adalah dosen dan mahasiswi.
"Sialan, gara-gara aku mengikuti mobil Wildan malah melihat hal yang sangat menguras pikiranku ini. Kenapa di benakku ini terus saja terbayang pada saat Willdan berpamitan pada gadis itu dan begitu sumringahnya."
__ADS_1
"Lantas kenapa juga Willdan begitu lamanya di dalam toko itu bersabar gadis itu. Aaanhhhhh... Wildan! kamu buat pikiranku semakin tak tenang saja!"