
Tak sengaja mamah Hety melihat ketermenungan Tara pada saat dirinya melintas di depan kamar anaknya tersebut. Ia pun melangkah masuk ke dalam kamar Tara dan duduk di sampingnya, tepatnya di tepi ranjang.
"Tara, kenapa kamu malah melamun? bukankah mamah sudah memberikan nomor ponsel Nara?" tanyanya penasaran.
"Iya mah, aku sedih aja walaupun hanya sebagai teman Nara tidak mau. Tadi aku telepon dia marah-marah sama aku katanya tak usah lagi menghubunginya," ucapnya sedih.
"Ya sudah mau bagaimana lagi, kamu tak usah memaksakan kehendakmu lagi pada Nara. Jika memang dia sama sekali tak ingin dihubungi olehmu, janganlah menghubungi lagi. Itu juga karena kesalahanmu sendiri, itu bisa dijadikan sebagai pelajaran bagimu untuk tidak seenaknya sendiri."
"Terutama dalam bersikap dan bertutur kata. Setiap manusia itu punya hati dan perasaan jika hati dan perasaan telah terluka akan susah sekali obatnya. Karena tidak semua orang itu pemaaf."
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mamah Hety, Tara mengangguk pelan.
"Tapi Nara bilang sudah memaafkan aku, mah. Tetapi kenapa kalau sudah memaafkan sikapnya masih seperti itu ya?" Tara tak mengerti akan sikap Nara.
"Memang mungkin Nara telah memaafkanmu, tetapi dia tak ingin lagi dekat denganmu walaupun hanya sebagai teman. Karena bisa saja jika dia melihatmu atau hanya sekedar mendengar suaramu itu akan membuka luka lama yang telah kamu toreh padanya. Rasa sakit hati seseorang itu sembuhnya lama, butuh proses tidak langsung instan," ucap Mamah Hety menasehati Tara.
"Sekarang kamu tak usah pikirkan Nara lagi, move on lah terhadapnya. Jalani hidupmu sendiri dan biarkan dia menjalani hidupnya sendiri tanpa usah kamu ganggu lagi," pesan Mamah Hety setelah itu ia berlalu pergi dari hadapan Tara.
"Mungkin semua yang menimpaku adalah karma karena aku telah menyakiti hati Nara bukan hanya sekali saja tetapi berulang kali. Aku tak tahu lagi bagaimana kedepannya nanti, berpikir saja otakku sudah tak mampu."
"Bagaimana aku akan melanjutkan pendidikan di jenjang kuliah? lagi pula dengan nilai yang pas-pasan aku juga tak tahu mau daftar kuliah dimana?"
"Apa mungkin aku di rumah saja tak usah melanjutkan kuliah. Biar aku bantu usaha mamah yakni mini market dan toko Snacknya. Lantas siapa kelak yang akan menggantikan papah di perusahaan jika aku saja kondisi seperti ini?".
Hari gini, Tara baru menyesal dengan segala perilaku buruknya. Dia bahkan tak bisa menatap masa depan yang cerah karena keterbatasan otaknya dalam berpikir.
__ADS_1
Kini Tara telah pasrah dan ia sudah tidak ingin memaksakan dirinya untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Berbeda situasi di rumah Ara, nilainya bagus dan dia telah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota J, dimana Nara saat ini tinggal.
"Alhamdulillah nilai gue termasuk bagus tidak mengecewakan, itu karena gue bekerja keras untuk bisa mendapatkan nilai yang bagus. Gue ingin melanjutkan kuliah di kota J di mana saat ini Nara ada di sana."
"Tapi gue juga tidak tahu Nara akan melanjutkan kuliah di jurusan apa dan di universitas mana? bagaimana gue bisa mendapatkan informasi tentang hal ini ya? jika gue tanya langsung padanya, pasti ia takkan mau jawab. Apa lagi ia sudah tak mau berkomunikasi lagi dengan gwe."
Ara terus saja melamunkan cara supaya bisa mendapatkan informasi di mana Nara akan kuliah.
"Ara, kenapa kamu melamun? apa kamu sedang bingung dimana kamu akan melanjutkan studymu?" tanya Papah Yogi membuyarkan lamunan Ara.
"Aku ingin melanjutkan kuliah di kota J, aku ingin kuliah bersama dengan Nara. Tetapi aku sedang bingung karena aku juga tidak tahu Nara akan kuliah di universitas mana dan jurusan apa?" ucap Ara jujur.
"Papah ingin kamu meneruskan pendidikan sesuai dengan talenta-mu bukan karena kamu ingin dekat dengan Nara, itu tidak baik. Bahkan papah tidak akan setuju."
"Karena yang ada nanti kamu tidak akan fokus dengan kuliahmu tetapi kamu fokus dengan memikirkan bagaimana supaya kamu bisa kembali pada Nara."
"Lanjutkan studymu dengan tujuan supaya kamu bisa sukses dan buktikan kepada Naradan keluarganya jika kamu seorang pemuda yang pekerja keras dan bisa sukses."
"Papah bangga denganmu bisa membuktikan pada Papah dengan kamu lulus sekolah dengan nilai yang baik walaupun tidak menjadi nomor satu."
"Seharusnya kamu buktikan lagi pada papah bagaimana kamu bisa kuliah dengan baik sehingga kamu mendapatkan nilai yang baik pula."
"Karena suatu saat nanti, papah akan membutuhkan kamu untuk menggantikan posisi papah di perusahaan."
__ADS_1
"Karena papah tidak selamanya akan muda terus, tetapi semakin hari lambat laun usia papah bertambah dan akan semakin menua."
"Pada saat itu papah sudah tidak akan sanggup lagi untuk mengurus perusahaan papah, dan kamulah kelak yang akan menggantikan papah."
"Saran papah, kamu carilah kuliah yang jurusan sesuai dengan bidang yang saat ini sedang papah geluti supaya kelak kamu tak bingung jika sudah waktunya menggantikan papah."
"Papah tak melarangmu untuk kilah di kota J, tapi jangan bertumpu untuk alasan ingin mendekati Nara lagi."
"Utamakan untuk kesuksesanmu dan masa depanmu. Jika kamu kuliah hanya mengutamakan untuk mengejar seorang gadis, hasilnya tidak akan baik. Yang ada kuliahmu akan berantakan tak karuan karena yang ada di otakmu hanyalah Nara Nara dan Nara."
"Jika kamu telah sukses, seribu Nara akan bisa kamu gapai. Di dunia ini banyak kok gadis yang lebih baik dari pada Nara."
Begitu panjang lebar Papah Yoga menasehati Ara, karena ia tak ingin anaknya itu fokus pada wanita bukan pada pendidikan.
Mendengar nasehat dari papah Yoga yang begitu panjangnya, Ara pun telah paham dan mengerti. Ia akan menuruti kemauan Papahnya karena tak ingin lagi membuatnya kecewa.
"Baiklah, pah. Aku akan mendengarkan dan menjalankan semua nasehat dari Papah. Karena aku juga ingin sukses tak ingin mengecewakan papah seperti tempo dulu lagi."
"Kini aku tidak akan memaksa untuk kuliah satu kampus dengan Nara. Aku akan kuliah sesuai dengan bidang yang saat ini papah geluti."
"Aku ingin di sisa hidup papah dan mamah, ingin memberikan suatu kebahagiaan. Supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari."
Papah Yoga sangat senang mendengar penuturan dari Ara.
'Nah itu baru anak papah, karena tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke hal yang buruk." Ucap Papah Yoga seraya menepuk bahu Ara.
__ADS_1