
Hubungan antara Nara dan Willdan semakin akrab dan mesra saja. Walaupun mereka menyembunyikan hubungan mereka jika mereka sedang berada di kampus. Bahkan Andre sama sekali tak membongkar tentang hal ini.
Setelah hari lalu ia tak berangkat ke kampus, tidak ada tanya sama sekali oleh Nara.
"Nara, kenapa sejak kamu pacaran sama dosen itu. Kamu bahkan tak mau lagi bertema denganku. Bahkan dulu jika aku tak masuk sekolah pasti kamu menanyakan perihal ini. Tapi pada saat kemarin aku tak masuk sekolah, kamu sama sekali tak bertanya," batin Andre merasa kecewa.
Sesekali Andre melirik ke arah Nara, akan tetapi ia sama sekali tak menghiraukan Andre. Hanya Ara saja yang terus melihat gelagat Andre tersebut.
"Hem, pasti ia kecewa karena pada waktu itu di tolak mentah-mentah oleh Nara. Tapi ini sangat membuat aku senang, dengan begini bukan hanya aku saja yang di tolak oleh Nara. Dan bukan hanya aku saja yang telah di kecewakan oleh Nara," batin Ara senang.
Sejak beberapa mendapatkan penolakan dari Nara, Ara sudah tidak berani lagi untuk mengungkapkan rasa hatinya. Sudah cukup baginya mendapatkan beberapa kali penolakan. Ia juga sudah menyerah dan tak berharap lagi pada Nara. Bahkan ia tak mendekati Nara lagi sesuai dengan kemauan Nara.
Beda dengan Andre yang terus saja mendekati Nara walaupun sudah mendapatkan penolakan, ia melakukan itu dengan dalih ingin berteman saja.
"Nara, kamu kok sekarang berubah ya? biasanya kamu chat aku jika aku tidak masuk sekolah. Tetapi kenapa kemarin kamu tak tanya apapun padaku, bahkan pada saat aku sudah berangkat seperti ini kamu juga tak bertanya sama sekali?" tegur Andre menghampiri Nara.
"Andre, sudah aku katakan padamu beberapa kali. Aku sengaja seperti itu karena aku tak mau kamu menjadi salah paham padaku. Aku hanya anggap kamu teman, tapi kamu anggap aku beda. Aku nggak ingin membuat kamu berharap lebih sekedar teman," ucap Nara seraya menghela napas panjang.
"Nara, apa tidak bisa jika kita berteman seperti sebelumnya? masa iya setelah kamu tolak cintaku, ku memusuhi aku?" ucap Andre.
"Ndre, aku sama sekali tak memusuhi dirimu. Aku yakin di dalam hati kecilmu pasti masih berharap padaku bukan? aku yakin pasti kamu gunakan pertemanan kita juga untuk sekaligus mendekati aku, iya kan?" ucap Nara sudah tidak percaya lagi dengan yang di katakan oleh Andre.
"Nara, aku sudah terima kamu tolak aku. Dan aku hanya ingin berteman saja, masa iya kamu masih saja nggak mau?" terus saja Andre membujuk Nara supaya ksu bersikap ramah lagi padanya seperti dulu lagi.
__ADS_1
Nara hanya diam saja, karena ia cape juga menghadapi sifat keras kepalanya Andre. Pada saat bel berbunyi, Wildan sudah ada di ambang pintu kelas Nara. Dan ia melihat Andre sedang duduk di samping bangku Nara. Sementara Nara sedang fokus dengan buku bacaannya.
"Ehem... sepertinya ada yang nggak dengar bel berbunyi tanda masuk dan pelajaran segera di mulai ya? sehingga ada yang terus membaca buku dan juga ada yang duduk tidak di tempat duduknya sendiri," tegur Wildan ketus.
Sontak saja Andre langsung duduk di bangkunya sendiri dan Nara menutup buku bacaannya. Sebelum Wildan mulai mengajar, ia meraih ponsel dan menulis sesuatu di ponselnya.
Drt det drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel Nara. Ia pun segera membuka chat pesan tersebut yang ternyata dari Willdan.
[Sayang, pagi-pagi kenapa kamu sudah membuat aku cemburu? apa kamu suka jika ada Andre di sampingmu, hingga kamu membiarkan saja ia duduk di sampingmu?]
Nara pun membalas chat pesan yang di kirim oleh Wildan padanya.
Pada saat Willdan membaca chat pesan dari Nara, ia tak sadar tersenyum. Hal ini membuat beberapa murid wanita heran.
"Pak Wildan, kalau mau pacaran jangan di sini dong?"
"Iya Pak Wildan, jika bapak terus chatingan sama pacarnya, lantas kapan akan mengajar kami?"
Mendengar komplenan dari beberapa mahasiswi barulah Wildan sadar. Dan ia pun terlebih dahulu meminta maaf pada para siswa dan siswi di dalam kelas tersebut.
"Hem, ini gara-gara Nara pagi-pagi sudah membuatku cemburu saja," batin Wildan seraya melirik ke arah Nara.
__ADS_1
Serta itu ia mulai mengajar mata pelajaran yang ia geluti di kampus tersebut. Ia begitu tekun pelan dalam memberikan materi pelajaran tersebut sehingga para murid mudah sekali paham dengan ajarannya.
"Hem, aku yakin tadi Pak Wildan cemburu padaku. Makanya ia berkata seperti itu padaku dan sejenak diam begitu lama memainkan ponselnya pasti chattingan dengan Nara," batin Andre kesal.
"Aku heran pada Nara, padahal akunyang telah begitu lama PDKT dengannya dari kelas tiga SLTA, tapi malah Nara lebih memilih dosen itu yang baru beberapa bulan mengajar di kampus ini. Apakah pada dasarnya Nara lebih suka pria yang lebih dewasa dari pada pria yang sepadan dengan dirinya? hingga ia begitu mudah menerima Pak Wildan menjadi pacarnya," batin Andre.
Dia semakin tidak fokus dengan pelajaran yang sedang di terangkan oleh Wildan. Dari tadi hanya melamun dan melamun. Bahkan ia tak sadar akan kedatangan Wildan yang saat ini sudah ada di hadapannya.
"Ehemmm.... Andre..."
Satu teguran dan tepukan di bahu mengangetkan Andre.
'Iya, pak. Ada apa ya?" tanya Andre gugup.
"Kok ada apa? berarti dari tadi kamu nggak fokus dengan pelajaran yang sedang saya terangkan ya? kalau mau melamun mending keluar saja sana, nggak usah mengikuti mata pelajaran saya juga nggak apa-apa kok," pinta Wildan.
"Saya minta maaf, pak. Tolong jangan hukum saya, saya janji tidak akan mengulangi hal ini lagi," ucap Andre ketakutan seraya tertunduk lesu.
"Hem... baiklah, saya akan memaafkan kamu. Tapi saya akan memberimu tugas menulis saya tidak akan ulangi lagi saya janji. Tulis kata-kata itu hingga dua lembar penuh di kertas folio," ucap Wildan menahan ras kesal.
"Dan saya minta, tulisan tidak boleh asal tapi harus rapi dan jelas. Serta jarak kata satu ke kata yang lain harus rajin," ucapnya kembali.
"Baiklah, pak." Jawab Andre terpaksa.
__ADS_1
"Besok pagi di kumpulkan tidak boleh telat loh ya. Jika telat hukuman akan saya tambah," ancam Wildan.