Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Baku Hantam


__ADS_3

Apa yang saat ini sedang di rasakan oleh Ara juga sama. Ia sedang melamunkan Nara. Bahkan ia senyam senyum sendiri di kamarnya. Karena kebetulan ia saat ini sedang ada di rumah saudaranya, sejak ia kuliah di kota J.


"Aku sudah tidak bisa memilikimu, hanya bisa mengagumimu saja Nara. Tetapi tidak apa-apa, karena ini juga sangat membuatku bahagia."


"Semoga saja novel yang aku berikan untuk hadiah ulang tahun dirinya bisa membuat ia bahagia dan senang."


"Jika saja aku bisa saja dekat denganmu, Nara. Jika saja aku bisa menjadi salah satu sahabatmu lagi, aku pasti akan sangat senang."


"Tapi sayangnya, kamu benar-benar tipe gadis yang keras kepala. Sekali saja aku berbuat salah, Nara langsung saja tak mau dekat denganku walaupun hanya sebagai seorang teman saja."


"Hem, entahlah kenapa pikiranku ini terus saja tertuju padamu Nara. Walaupun kamu sama sekali tak lagi bisa aku dekati."


Terus saja Ara ngomel sendiri bagaikan orang yang sudah tidak waras kadang kala iya mengingat masa kebersamaan dengan Nara yang hanya sekejap saja, dengan senyam senyum sendiri.


Kadang kala ia merasa kesal sendiri dengan menepuk-nepuk tangannya di kasurnya.


********


Pagi menjelang seperti biasa Nara tengah siap dengan sejuta aktivitasnya untuk mulai berangkat ke kampusnya.


Dia begitu antusias untuk segera datang ke kampus. Semangat belajarnya sangatlah tinggi, ia tidak pernah berkeluh kesah walaupun setiap harinya segudang kesibukan yang harus ia jalani sejak produksi usaha cemilannya berkembang pesat ia pun semakin bertambah sibuk.


Dia tidak pernah memikirkan untuk kesenangan diri sendiri, tidak seperti gadis pada umumnya yang selalu bersenang-senang di luar sana hari-hari Nara gunakan untuk mencari uang dan belajar, tidak ada kata bermain sama sekali.


"Ayah-ibu, aku berangkat ke kampus ya." Pamit Nara seraya mencium punggung tangan ayah dan ibunya.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut naik motornya. Belajar yang fokus serius jangan terus memikirkan Wildan," pesan ayahnya seraya cengengesan.


"Ayah itu kalau memberi nasehat yang bener, masa nggak serius seperti itu malah cengengesan? nanti yang ada Naranya juga tidak serius ikut pula cengengesan," tegur Bu Resy.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Nara pun tertawa ngakak tidak bisa menahan rasa geli di perutnya.


"Lihatkan ayah, Nara menjadi tertawa seperti itu semua juga karena ayah," protes Bu Resy pada saat melihat Nara tertawa ngakak.


"Ibu, jangan cemberut seperti itu. Masa iya pagi-pagi wajahnya sudah bermuram durja, nanti jadi langitpun ikut berwarna kelabu seperti wajah Ibu yang terlihat murung," canda Ayah Bimo.


"Ibu tersenyumlah, jangan murung seperti itu nanti yang ada ibu jadi lekas tua banyak keriput di wajah Ibu loh." Ucap Nara seraya menghampiri ibunya dan memeluknya.


"Sudahlah tak membujuk Ibu seperti itu, kalau Ibu sudah murung sudah kesal ya tetap saja kesal takkan berubah menjadi ceria lagi," ucap Bu Resy seraya ia melangkah pergi masuk ke dalam rumah.


"Ayah, ibu sedang kenapa sih? kenapa pula ia benar-benar murung? apakah ibu sedang datang bulan ya, jadi sensitif seperti itu," ucap Nara.


"Sudahlah, Nara. berangkatlah sana, karena nanti kamu bisa terlambat sampai di kampusmu," ucap Ayah Bimo.


Hingga pada akhirnya Nara pun lekas melajukan motor maticnya menuju ke kampusnya. Akan tetapi pada saat baru sampai seperempat jalan, laju motor Nara terhenti karena ada beberapa motor yang tiba-tiba menghadang dirinya.


"Heh, apa-apaan kalian menghadang leju motorku?" bentak Nara kesal.


Dua pengendara motor berboncengan terus saja menatap Nara sinis.


"Cepatlah menyingkir dari hadapanku!" bentak Nara kesal.


"Kami memang sengaja ingin menghadang dirimu, jadi kami tidak akan minggir begitu saja. Justru kami akan membawamu serta bersama kami. Untuk kami ajak senang-senang," ucap samsn satu pria tersebut.


Dan saat itu juga empat pria itu menghampiri Nara secara perlahan tapi pasti. Sementara Nara justru memundurkan tubuhnya.


"Heh gadis, kenapa malah menghindari diriku? apakah kamu takut pada kami berempat? padahal kami akan mengajakmu untuk bersenang-senang, jadi tak perlu takut, sayang."


"Awas jika kalian mendekat lagi, akan aku hajar sekarang juga!" bentak Nara.

__ADS_1


Keempat preman itu justru tertawa ngakak dan terus saja mendekati Nara, hingga dengan sigap Nara meloncat melewati ke empat preman itu.


"Wauw, keren sekali. Gadis cantik nan rupawan bisa melompat setinggi itu, bahkan lewati kami berempat."


Saat itulah akhirnya Nara dan ke empat preman itu beradu jotos. Dan dari jauh melintas sebuah mobil yang tak asing lagi. Yakni mobil Willdan yang akan menuju ke kampus.


Karena kebetulan, Ia juga mencari jalan pintas untuk cepat sampai di kampus. Tapi siapa sangka , ia justru melihat Nara sedang kewalahan melawan empat preman yang bertubuh tinggi tegap.


"Astaga, bukannya itu Nara? ya ampun, ia dalam bahaya!"


Wildan langsung keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Nara yang sedang di keroyok oleh empat berandal itu. Baki hantam terjadi begitu saja. Untung saja Wildan pintar bela diri hingga ia pun bisa mengalahkan preman-preman itu dengan sangat mudah.


Ke empat preman itu akhirnya lari tunggang langgang begitu saja.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa? ya ampun kamu terluka seperti ini, sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Untuk hari ini kita tak usah ke kampus. Biar aku meminta tolong salah satu anak buahku membawa motormu itu," ucap Wildan merasa cemas dengan kondisi Nara yang penuh luka lebam di tangan, wajah, bahkan di bibir terlihat berdarah.


"Mas Wildan, sebaiknya aku pulang saja ke rumah. Aku nggak mau ke rumah sakit," tolak Nara.


"Ya sudah, aku antar kamu pulang saja. Sebentar aku telpon salah satu anak buahku untuk membawa motormu itu," saran Wildan.


Sejenak Willdan menelpon salah satu anak buah kepercayaannya, dan tak berapa lama datanglah anak buah tersebut.


Ia pun membawa motor milik Nara melajukannya arah rumah Nara. Begitu pula dengan Wildan, ia mengaja Nara masuk ke dalam mobilnya dan setelah itu ia juga melajukan mobilnya arah pulang rumah Nara.


Wildan begitu iba dan khawatir melihat kondisi Nara saat ini. Karena ia melihat begitu banyak luka yang ada di tangan serta wajah Nara.


"Sayang, sejak kapan kamu bisa bela diri? kok aku tidak tahu sama sekali?" tanya Wildan di sela mengemudinya.


"Belum lama, dari awal aku masuk SLTA," ucap Nara tersenyum .

__ADS_1


"Untung saja kamu bisa bela diri jika tidak pasti saat ini kamu sudah di bawa pergi mereka atau terluka lebih parah lagi," ucap Wildan.


"Nah itu tahu, tapi masih saja mau ajak aku ke rumah sakit. Lukaku padahal ringan."


__ADS_2