Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Satu Kampus Yang Sama


__ADS_3

Pagi menjelang, Nara menjelajahi pusat kota J guna mencari universitas yang ia ingin sambangi guna mendaftar kuliah. Ia pergi beramai-ramai dengan teman semasa SLTA tepatnya teman sekelas. Ada empat orang bersama dirinya. Dua perempuan dan dua laki-laki. Termasuk Andre pula.


"Nara, itu universitas yang kita cari kan?" ucap Andre menunjuk ke seberang jalan.


"Iya, Ndre. Yok kita ke sana." Ajak Nara sumringah seraya melangkah menyeberang jalan.


Andre dan dua temannya yang lain juga lekas menyusul langkah kaki Nara. Mereka langsung menyambangi ruang dekan untuk menanyakan syarat apa saja yang di perlukan untuk bisa masuk ke universitas tersebut.


Setelah mengetahui semua syarat-syarat yang diperlukan untuk bisa masuk ke universitas tersebut, Nara dan ketiga temannya meninggalkan universitas tersebut. Mereka lantas berkeliling kota J untuk mencari segala keperluan guna kebutuhan untuk kuliah.


Pada saat Nara dan ketiga temannya berada di pusat perbelanjaan yang terbesar di pusat kota J. Tiba-tiba ada seseorang menepuk bahu Nara.


"Nara, kita bertemu di sini. Loe sedang apa?" tanya pemuda itu.


Namun Nara sama sekali tak menghiraukan apa yang di katakan oleh pemuda itu. Bahkan Nara mengajak Andre dan dua temannya untuk beralih tempat belanja.


"Nara, tunggu sebentar. Loe kan belum jawab apa yang gwe tanyakan barusan." Pemuda itu mencekal lengan Nara.


Belum juga Nara berkata, Andre menepis cekalan tangan pada Nara yang di lakukan oleh pemuda tersebut.


"Heh, loe maksa amat sih? kalau Nara sudah nggak mau ya loe nggak usah maksa!" bentak Andre kesal pada tingkah pemuda tersebut.


"Dre, nggak usah pedulikan dia. Yuk teman-teman kita lanjut saja," ajak Nara.


Nara dan Andre serta dua teman lainnya melanjutkan langkahnya, sementara pemuda itu merasa kecewa. Awalnya ia sangat senang pada saat tak sengaja melihat Nara, tetapi kini ia merasa kecewa karena sikap Nara.


"Ternyata apa yang papah katakan ada benarnya juga. Untuk apa juga gwe berharap pada Nara yang sudah jelas benci pada gwe. Mending gwe fokus saja dengan kuliah gwe," ucapnya seraya melangkah pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.


Nara menjadi tak fokus sejak bertemu dengan pemuda itu. Ia menjadi murung dan kesal hatinya. Bahkan ia tak bisa lagi ceria.

__ADS_1


""Ndre, mending kita berdua pulang dulu ya. Loe urus tuh Nara, ia berubah murung sejak tadi bertemu pemuda yang menyebalkan itu," bisik salah satu temannya.


"Baiklah, kalian hati-hati ya?" ucap Andre.


"Nara, apakah kamu mau pulang? biar aku antar saja ya?" ucap Andre.


"Aku belum mau pulang, karena masih ad yang harus aku beli untuk keperluan kuliah," ucap Nara.


Hingga pada akhirnya, Andre menemani Nara kemanapun ia pergi. Andre tak berani berkata jika situasi hati Nara sedang tak ceria. Ia hanya diam saja.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja tanpa ada pembicaraan, tidak seperti waktu tadi sebelum Nara bertemu pemuda itu.


"Sebenarnya siapa pemuda tadi ya, kenapa sejak bertemu dengannya Nara langsung berubah menjadi murung? apakah ia pemuda yang pernah di ceritakan oleh Nara waktu itu? apakah ia Tara?" batin Andre semakin penasaran tapi ia tak berani bertanya pada Nara tentang pemuda tadi.


******


Pagi menjelang, inilah hari pertama Nara masuk kuliah di jurusan agro bisnis dan informatika. Ia sangat antusias apalagi ada beberapa teman sekelasnya yang satu kampus dan bahkan satu kelas dengannya, termasuk Andre.


"Kenapa pula Ara ada di kampus ini dan di kelas yang sama denganku, menyebalkan sekali," batin Nara kesal seraya menoleh ke arah Ara.


Ara merespon dengan lambaian tangannya pada Nara dengan mengulas senyumannya. Akan tetapi Nara justru langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Gwe nggak menyangka jika akan satu kelas dengan Nara. Ini suatu keajaiban, gwe sangat senang sekali. Di kala gwe sudah pasrah dengannya, ia malah ada di hadapan mata gwe. Dan kita akan selalu bertemu setiap harinya," batin Ara sangat senang.


"Nara, sebenarnya siapa pemuda itu? apakah ia Tara mantan pacarmu?" tanya Andre penasaran melirik sinis ke arah Ara.


"Bukan, ia Ara. Pemuda yang pertama kalinya menyakitiku," ucap Nara.


Lantas ia menceritakan tentang Ara pada Andre.

__ADS_1


"Oh jadi seperti itu."


"Iya, Ndre. Aku juga heran kenapa pia malah ada di kelas ini. Setahuku dia itu tidak terlalu pintar, justru lebih pintar Tara. Bagaimana ia bisa ada di universitas ini?" ucap Nara masih saja tak mengerti kenapa Ara bisa masuk ke universitas dan kelas yang sama dengan dirinya.


"Mungin orang tuanya kelak salah satu dekan di sini juga bisa. Hingga ia tinggal masuk saja tanpa harus jalani tes dan seleksi," ucap Andre.


"Sepertinya itu tidak mungkin, Ndre. Karena dari informasi yang aku dapat, di sini itu murni dari nilai dan tidak ada sogok menyogok di universitas ini," ucap Nara.


"Lah kalau memang seperti itu, bagaimana bisa? katamu ia tidak sepintar dirimu, kenapa bisa masuk di kelas ini?" Andre masih saja penasaran dengan hal ini.


"Sudahlah, tak usah bahas ia. Sebentar lagi pak dosen datang, jadi kita harus fokus dengan apa yang ia terangkan," ucap Nara.


Tak terasa waktu pulang telah tiba, Nara lekas melangkah ke parkiran motor maticnya. Akan tetapi kembali lagi, Ara menghampiri dirinya.


"Hy Nara, gwe nggak menyangka kita bisa di satu universitas yang sama dan satu kelas pula, padahal gwe nggak pernah menyelidiki loe sama sekali," ucap Ara sumringah.


"Nasib sedang beruntung ke loe," ucap Nara ketus.


"Semoga keberuntungan terus saja ada pada gwe, supaya gwe bisa merajut kasih lagi dengan loe," ucap Ara.


Mendengar akan apa yang dikatakan oleh Ara, membuat Nara sangat kesal padanya.


"Loe sama Tara itu nggak ada bedanya, sama saja?" ucapnya lantang.


"Memang gwe dan Tara nggak ada bedanya, kita kan sama-sama cowok," ucap Ara terkekeh.


Namun hal ini tak membuat Nara ikut terkekeh. Ia justru lekas melajukan motor maticnya arah pulang karena ia juga harus mengurus usaha cemilannya. Yang kini telah berkembanh memiliki toko sendiri.


Karena ketekunan dan kegigihan Nara, bukan hanya ia menitipkan di toko-toko besar. Tapi ia juga membuka toko khusus oleh-oleh di sekitar rumahnya.

__ADS_1


Usaha cemilan ini di peruntukan untuk kesibukan ibunya yang tak membuka usaha laundry sejak di kota J. Tanpa sepengetahuan Nara, Ara mengikuti laju motor Nara hingga sampai di pelataran rumahnya.


__ADS_2