Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Berbaikan


__ADS_3

Melihat Tara kesakitan seraya memegangi kepalanya, Hety semakin cemas. Ia pun langsung menelpon Dokter pribadi keluarga itu.


Tak berapa lama datanglah Dokter pribadi keluarga Tara. Langsung memeriksakan kepalanya. Dokter menghimbau supaya Tara jangan terlalu keras dalam berpikir. Dokter memberikan obat pereda rasa nyeri di kepala.


"Nak Tara, bukannya dulu sudah di peringati supaya jangan terlalu keras dalam berpikir karena efeknya akan seperti ini. Dan sakitnya bukan hanya satu atau dua hari tapi bisa berhari-hari walaupun berpikir beratnya hanya hari ini. Dan ini ada obat tapi tak bisa menghilangkan rasa sakit kepalanya, hanya bisa meredakan saja," ucap dokter setelah itu dia berpamitan pulang.


"Kamu dengar itu, Tara. Makanya jangan berpikir terlalu berat, di bawa santai saja. Mamah tahu saat ini kamu sedang memikirkan Nara. Percaya saja pada, mamah. Jika kalian berjodoh pasti tidak akan kemana. Mungkin saja saat ini Nara sedang sibuk mengurus kepindahannya. Jadi tak sempat bermain ponsel. Positif thinking saja," ucap Hety menasehati Tara.


"Aku nggak tenang, mah. Sebelum aku tahu kabar Nara, dan sebelum aku bisa berkomunikasi dengannya," ucap Tara sesekali merintih kesakitan.


"Nak, apa kamu tak kasihan sama mamah dan papah? jika seperti ini sama saja kamu itu tak sayang pada kami tapi kamu hanya memikirkan diri sendiri. Apa kamu tak berpikir, jika terjadi sesuatu padamu, siapa yang akan kehilangan jika bukan mamah dan papah?" ucap Hety.


"Mah, aku minta maaf ya. Baiklah ajunaksn positif thinking dan akan menuruti mamah. Aku juga tak buat papah dan mamah berseduh apa lagi repot seperti waktu itu," ucap Tara.


"Mah, aku ingin segera jalani operasi plastik karena aku tak ingin terus di bully di sekolahan apa lshi tidak ada yang membela aku yakni Nara," ucap Tara.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu? jika iya nanti mamsh bicarakan hal ini pada Papah," ucap Hety.


********


Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah satu bulan Nara berada di kota lain bersama orang tua dan adiknya. Mereka semua meras kerasan, apa lagi di kota yang baru suasana begitu ramai karena rumah mereka di perkotaan besar.


Hal ini tidak di sia-siakan oleh Nara, dia pun berinisiatif melanjutkan usaha cemilannya yang sempat terhenti.


"Nara-Dika, apakah kalian kerasan tinggal di kota ini?" tanya Ayah Bimo di suatu sore yang cerah.


"Kalau aku sangat kerasan, yah," jawab Dika.


"Bagaimana denganmu, Nara?"


"Kalau aku tinggal dimanaoun asal bersama ayah ibu dan Dika, aku pasti kerasan," ucap Nara antusias.


"Kalau ibu sendiri bagaimana? kerasan nggak tinggak di sini?" tanya Bimo pada istrinya.


"Kalau ini dimana pun ada ayah pasti kerasan. Ibarat pepatah, ke ujung dunia pun ibu akan ikut meskipun itu ke lubang semut."

__ADS_1


Perkataan Resy membuat semuanya terkekeh.


"Ayah-ibu, jika aku ingin melanjutkan usaha cemilan di kota ini boleh nggak!" tanya Nara ragu.


"Wah, boleh banget dong. Apa lagi di sini ibu kan tidak ada kegiatan juga, karena tidak buka laundry. Iya kan, ayah?"


"Iya itu terserah kalian saja, selama tidak membuat kalian merasa lelah. Ayah pasti akan dukung kalian," ucap Bimo tersenyum.


"Lantas, bagaimana dengan sekolahmu Nara? apa kamu kerasan?' tanya Bimo.


"Alhamdulillah, kerasan ayah. Apalagi disini semua teman welcome padaku. Tidak seperti pada saat di kota itu," ucap Nara semangat.


"Lantas bagaimana hubungan kamu dengan Tara?"


"Deg deg deg"


Pertanyaan Bimo membuat jantung Nara berdetak dengan kencangnya.


"Nara, kenapa kamu diam? apa kamu masih marah padanya? dan apa kamu sudah tak berkomunikasi dengan Tara?" tanya Bimo penasaran.


"Nara, kamu tak boleh memendam amarah pada Tara. Jangan hanya sisi buruknya yang kamu lihat, tetapi juga sisi baiknya dimana dia selalu ada untukmu dan juga membantu usaha cemilanmu. Apa kamu tak khawatir terjadi sesuatu pada Tara?" ucap Bimo.


"Apa maksud yang ayah katakan barusan?" tanya Nara penasaran.


"Apa kamu lupa kejadian kecelakaan yang menimpa Tara? dan kata


kamu sendiri yang mengatakan jika Tara tidak diizinkan untuk memikirkan sesuatu hal secara berat jika itu terjadi dia akan mengalami sakit kepala yang berkelanjutan dan sakitnya bukan sakit kepala biasa. Apa kamu ingin hal itu juga dialami oleh Tara saat ini jika dia terus memikirkan keberadaanmu?" ucap Bimo.


"Ya ayah, aku ingat kok. Tapi aku ...


"Nara, kamu tak boleh berkeras hati seperti ini. Ayah tak suka punya anak yang pendendam seperti ini. Sekarang juga kamu hubungi Tara dan tanyakan kondisi dirinya saat ini," punya Bimo.


Hingga pada akhirnya Nara pun menuruti kemauan ayahnya. Dia menelpon nomor ponsel Tara saat itu juga di hadapan orang tuanya.


Kring kring kring kring

__ADS_1


Panggilan telpon masuk ke nomor ponsel Tara.


Pada saat itu Tara tak menyangkatnya karena dia sedang tidur di brankar di rumah sakit. Selama kepergian Nara, Tara terus saja alami sakit kepala yang tak ada hentinya.


"Ada nomor ponsel baru masuk, siapa dia? semoga saja nomor ponsel Nara, karena hanya dia yang bisa membuat Tara sembuh dan semangat hidup lagi," batin Hety lantas ia mengangkat telepon tersebut.


"Tara, ini gwe Nara."


"Alhamdulillah ya Allah, bagaimana kabarmu Nara?"


"Tante Hety, Alhamdulillah kabar kami baik."


"Tante, aku ingin bicara sama Tara bisa nggak ya?"


"Bisa, tapi Taranya sedang..


Belum juga Hety selesai berkata, Tara terbangun.


"Mah, siapa yang telpon apakah itu Nara?"


Hety langsung memberikan ponselnya pada Tara. Dan Tara langsung mengalihkan panggilan telepon dengan panggilan video.


"Maaf, gwe ingin bicara sama Tara. Loe siapa ya, mana Taranya?"


Nara tak tahu jika Tara sudah jalani operasi plastik.


"Nara, ini gwe Tara. Gwe sudah jalani operasi plastik wajah, gwe sakit kepala setiap harinya karena terus memikirkan loe. Nara gwe minta maaf ya."


"Tak usah loe pikirkan yang lalu supaya loe terus sehat. Kasihan nyokap dan bokap loe jika kondisi loe seperti itu."


"Gwe mau sehat, asal loe maaagkan gwe ya."


"Iya, gwe maafkan. Tapi gwe minta maaf tak bisa lagi ada di samping loe. Tahu sendiri gwe sekarang ini ada diluar kota."


"Iya nggak apa-apa, tolong beritahu gwe dimana loe sekarang tinggal."

__ADS_1


Nara dan Tara telpon cukup lama. Dan hal ini membuat Tara kembali riang dan ceria lagi. Dia lega karena sudah mengetahui keberadaan, Nara.


__ADS_2