Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Kekhawatiran Mia


__ADS_3

Pada saat Mia sampai di ruang rawat Tya, ia pun memasang wajah cerianya membuat Tya mulai bisa tersenyum.


"Apakah usaha mamah telah berhasil ya, terlihat jelas jika ada senyum di wajahnya," batin Tya ragu.


"Tya sayang, mamah sudah bertemu dengan Wildan barusan. Ia akan datang kemari tapi setelah selesai mengajar di kampus." ucap Mamah Mia seraya mengusap lengan Tya.


"Benarkah mah, mamah tidak bohong padaku kan?" tanya Tya masih belum percaya.


"Benar sayang, untuk apa mamah berbohong padamu," ucap Mia meyakinkan anak semata wayangnya.


"Terima kasih ya mah, telah membujuk Wildan untuk datang kemari. Dan semoga saja ia juga mau menerima aku lagi," ucap Tya lirih.


"Ya Allah, bagaimana ini? padahal saat ini Wildan sudah memiliki kekasih, apa jadinya jika Tya tahu akan hal ini?" batin Mia mulai cemas.


"Aku juga baru tahu kalau Wildan itu selain berada di kantor juga mengajar di sebuah kampus. Kenapa tiba-tiba aku penasaran dengan jati diri dari kekasih Wildan yang baru ya," batin Mia.


"Tya, sebaiknya kamu untuk sekarang ini istirahat saja dulu. Supaya nanti jika Wildan datang ke sini kamu sudah segar badannya. Karena kemungkinan Wildan datang di saat makan siang nanti," saran Mia di respon dengan anggukan kepala Tya.


Saat itu juga Tya mulai mencoba memejamkan matanya untuk istirahat sejenak sesuai dengan nasehat yang disarankan oleh Mia barusan.


Sementara Tya tertidur, Mia memberikan kode dengan matanya pada suaminya untuk keluar ruangan tersebut karena ia ingin berbicara adanya.


"Ada apa sih Mah, sepertinya kamu ingin bicara sesuatu padaku?" tanya Meo memicing alisnya.


"Iya pah, ini mengenai Wildan."


"Benarkan apa yang aku takutkan pasti kamu hanya memberi harapan palsu pada Tya kan? usahamu gagal dan sebenarnya Wildan tidak mau datang kemari kan?" ucap Meo.


"Bukan hal itu pah, justru ini lebih parah lagi."


"Kalau bukan itu lantas apa, kenapa kamu mengatakan lebih parah dari itu? kalau ngomong yang jelas supaya aku itu tidak bingung," ucap Meo mulai marah.


"Kamunya saja yang dari tadi memotong pembicaraanku, makanya diam dulu kalau ada orang yang sedang bicara?" protes Mia ketus seraya menghela napas panjang.

__ADS_1


Perkataan Mia membuat Meo terdiam begitu saja, ia pun tak berkata lagi. Kini mereka hanya saling diam sejenak.


"Katanya aku suruh diam, kenapa kamu malah ikut diam? nggak jadi ngomongnya ya sudah sebaiknya aku pulang saja mau mandi dan sarapan."


Akan tetapi pada saat Meo beranjak bangkit dari duduknya, Mia menahannya dengan mencekal lengannya.


"Tunggu dulu pah, aku akan bicara tapi kamu jangan ngomong lagi ya. Supaya kamu tak bingung lagi dan jelas dengan semua yang aku katakan," ucap Mia.


"Ya sudah cepat kamu ngomong, karena aku sudah lapar sekali ingin sarapan," ucap Meo.


Segeralah Mia melanjutkan perkataannya yang sempat terputus karena kesalahpahaman dengan suaminya barusan.


"Aku sudah bertemu dengan Wildan, ia bersedia datang kemari tetapi tidak sekarang melainkan nanti setelah dia selesai mengajar di kampus."


"Namun aku sempat mendengar dari Mbak Rifda bahwa saat ini Wildan sudah memiliki seorang kekasih."


"Maksud aku itu loh pah, bagaimana dengan Tya nantinya jika ia tahu bahwa saat ini Wildan telah memiliki seorang kekasih?"


"Wah... semuanya malah menjadi rumit seperti ini ya mah. Aku juga bingung tidak bisa memberikan suatu saran yang tepat," ucap Meo seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Maka dari itu pah, aku juga bingung harus bagaimana nanti jika Tya tahu kalau Wildan sudah punya kekasih lagi."


"Pastinya nanti Tya akan meminta Wildan untuk kembali padanya, dan yang pasti pula Wildan pasti akan mengatakan jika dirinya itu telah punya seorang kekasih."


"Aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Tya nanti jika memang Willdan benar-benar mengatakan tentang kekasihnya yang baru?"


"Yang aku khawatirkan, Tya akan berbuat nekad lagi dengan bunuh diri lagi, pah."


Meo bertambah bingung setelah mendengar panjang lebar perkataan dari istrinya.


"Sudahlah mah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita serahkan saja pada yang kuasa, pasti Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk Tya. Intinya sekarang kita positif tinking saja," ucap Meo karena ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Setelah cukup lama bercengkrama dengan istrinya akhirnya Meo benar-benar bangkit dari duduknya dan ia pun berpamitan pada istrinya untuk sejenak pulang melakukan ritual mandi paginya dan sarapan.

__ADS_1


Kini Mia hanya seorang diri menjaga Tya yang saat ini benar-benar sedang tertidur nyenyak.


Beberapa menit kemudian tiba-tiba terdengar Isak tangis hingga akhirnya


Mia yang sedang asyik duduk di depan ruang rawat bangkit dan ia pun melangkah masuk untuk melihat kondisi anaknya.


Tya menangis tetapi dengan mata yang terpejam, dan pada saat Mia akan mengusap air matanya. Tiba-tiba tangannya di cekal oleh Tya yang kondisi masih terpejam matanya.


"Wildan, aku mohon maafkan aku. Masa iya kamu sama sekali sudah melupakanku? kita pacaran sudah cukup lama dan sudah paham dengan karakter kita masing-masing."


"Wildan, aku masih sangat cinta padamu hanya saja waktu itu aku terpaksa menuruti kemauan orang tuaku."


"Wildan, kamu tega sekali dengan memilih wanita lain sebagai pengganti diriku. Aku tidak terima, putuskan ia sekarang juga Wildan."


"Wildan, aku yakin kamu tidak cinta pada wanita itu kan? aku yakin itu kamu lakukan hanya sebagai pelarian saja bukan?"


Ternyata Tya sedang bermimpi dan ia mengigau di dalam mimpinya itu. Bahkan Mia sempat mendengar semuanya dan hal ini membuat hatinya semakin resah dan cemas.


"Tya sayang, kamu bermimpi ya nak."


Mia mencoba membangunkan Tya dengan mengusap air matanya perlahan.


Sejenak Tya membuka matanya dan ia celingukan melihat ke arah sekeliling.


"Ya Allah, ternyata aku cuma mimpi. Alhamdulillah ya Allah, aku pikir semua ini nyata adanya. Wildan membawa seorang wanita untuk di kenalkan padaku kalau itu kekasihnya," ucap Tya lirih seraya menyeka air matanya.


"Tya, apa kamu begitu mencintai Wildan?" tanya Mia menyelidik.


'Sangat, aku sangat mencintai dirinya. Tapi rasa cintaku lebih besar kepada mamah dan papah. Makanya aku rela pisah dengan Wildan demi menuruti kemauan kalian berdua."


"Aku rela menderita demi kebahagiaan mamah dan papah. Itulah yang sebenarnya terjadi saat ini. Hanya satu yang aku tak terima pada saat Wildan menuduhku menghianti dirinya. Karena ia pikir pernikahan itu terjadi karena kemauanku."


Perkataan Tya sangat menyentuh relung hati Mia.

__ADS_1


__ADS_2