Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Tambatan Hati


__ADS_3

Pada saat jam istirahat kampus, Wildan keluar dari salah satu kelas dimana terakhir ia mengajar. Karena hari ini hanya mengajar sampai jam istirahat saja. Hari ini ia mengajar di tiga kelas saja, setelah itu sudah tidak ada jadwal untuk mengajar lagi.


Ia keluar dengan rasa lemas karena hari ini tak melihat wajah Nara si tambatan hatinya. Pada saat keluar dengan tertunduk, ia bertabrakan dengan seorang gadis.


"Brug...."


Semua buku yang ia bawa jatuh berserakan.


"Maafkan saya, pak."


Ucap gadis ini seraya jongkok ingin membantu Wildan memunguti bukunya yang terjatuh olehnya.


"Iya nggak apa-apa, lain kali kalau jalan yang hati-hati." Ucap Wildan seraya memunguti bukunya seraya menunduk.


Tetapi sejenak ia menghentikannya," sepertinya suara ini tak asing lagi bagiku." Batin Wildan kemudian ia melihat sosok gadis yang ada di depannya yang sedang menunduk pula untuk membantu memunguti buku miliknya yang terjatuh.


"Nara."


"Iya, pak. Maaf ya, aku gugup tadi sedang melihat ponsel jadi tak melihat jalan hingga menabrak bapak," ucapnya seraya tersenyum ramah.


"I-iya nggak apa-apa," jawab Wildan menutupi rasa gugupnya.


Karena jika ia sedang dekat dengan Nara, entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia begitu salah tingkah dan gugup tapi ia sangat senang karena pada akhirnya tambatan hatinya ada di depan matanya.


'Pak, ini bukunya." Nara memberikan buku yang ia ambil di lantai tadi.


"Terima kasih ya, Nara."


"Sama-sama, pak. Sekali lagi saya minta maaf ya pak." Ucap Nara seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Saat itu juga keduanya sama-sama saling berdiri dari jongkoknya. Akan tetapi karena jarak mereka yang begitu dekat, membuat jidat mereka saling berbenturan satu sama lain.


"Auh" serentak keduanya memegang jidat masing-masing.


Namun Wildan secepat kilat melepaskan pegangan tangannya di jidatnya sendiri.


"Nara, apa kamu nggak apa-apa? Coba saya lihat apakah jidatmu terluka?" tanya Wildan seraya ia panik dan tak sadar mendekati Nara menepiskan tangan Nara yang ada di jidat Nara dan ia melihat jidat Nara.


"Pak, saya nggak apa-apa kok. Maaf tangan bapak." Ucap Nara merasa tak enak hati seraya mengacung jari telunjuknya ke arah tangan Willdan yang sedang mengusap jidatnya.


"Hheee...maaf ya Nara, saya hanya khawatir saja padamu," ucapnya seraya cepat menurunkan tangannya yang ada di atas jidat Nara.


"Pak, saya permisi dulu ya." Ucap Nara seraya tersenyum dan melangkah perlahan melewati Wildan.


Tak sadar kembali, Willdan terus saja menatap langkah kaki Nara yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


"Alhamdulillah, rindu ini terobati tat kala bertemu pujaan hati di depan mata. Semoga Allah kabulkan doaku untuk bisa meluluhkan hati pujaan hatiku," batin Wildan seraya tak sadar ia pun tersenyum.


"Haduhh... apakah aku benar-benar telah jatuh cinta pada Nara ya? hingga sampai seperti orang gila tersenyum sendiri. Dan kadang kesal sendiri jika tak bertemu dengannya. Dan rindu menggebu pula jika sehari saja tak melihatnya." Gumamnya seraya tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Hingga beberapa menit ia telah sampai di rumah. Ia telah merencanakan sesuatu untuk bisa lebih dekat lagi dengan Nara.


Sementara kejadian tabrakan tadi sempat pula di lihat oleh Andre dan Ara. Keduanya merasa cemburu pada Willdan.


"Aku rasa dari cara Pak Wildan menatap pada Nara itu ada rasa suka. Apa sebaiknya aku lekas saja mengutarakan isi hatiku ini pada Nara ya, jangan sampai aku keduluan orang lain," batin Andre mulai cemas.


"Sial, kenapa Nara dan Pak Wildan begitu romantis. Mereka bertabrakan dan saling berbenturan jidat, seperti di sinetron-sinetron saja. Aku belum sempat bisa kembali dekat dengan Nara. Kini sudah ada saingan baru, seorang dosen pula," batin Ara kesal.


Andre segera menghampiri Nara yang sedang asik membaca buku di jam istirahat kampus.

__ADS_1


"Nara, aku ingin bicara sebentar bisa nggak ya?" pinta Andre ragu karena melihat Nara begitu fokus dalam membaca buku.


"Bicara saja, Ndre. Pasti aku akan dengarkan kok," ucap Nara seraya terus saja asik membaca.


"Nara, aku ingin bicara serius. Jadi tolong hentikan membacamu barang sejenak saja," pinta Andre hingga pada akhirnya Nara menutup buku bacaannya.


"Ada apa sih, Ndre? sudah katakan saja apa yang ingin kamu katakan," ucap Nara menahan rasa kesal karena aktifitasnya membaca menjadi terganggu.


"Nara, aku ingin jujur padamu jika selama ini aku suka padamu. Apakah kamu bersedia menjadi pacarku?"


Perkataan dari Andre sontak saja membuat Nara kaget. Karena ia sama tak sekali tak menyangka jika Andre yang selama ini ia anggap teman baik menyimpan rasa suka padanya.


'Nara, kenapa kamu diam saja? apa kamu tak mau menjadi pacarku?" tanya Andre.


"Ndre, bukankah kamu sudah tahu jika aku ini tidak akan memikirkan tentang pacaran. Aku sudah dua kali pacaran dan selalu saja sakit hati, jadi untuk kali ini aku tak ingin memikirkan pacaran."


"Maaf, Ndre. Aku selama ini juga menganggap dirimu sebatas teman baik, tak lebih dari itu. Aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri untuk fokus kuliah demi tercapainya cita-citaku."


"Jangan marah ya, Ndre. Karena aku benar-benar tak bisa menerima dirimu atau pria lain untuk menjadi pacarku."


Nara sebenarnya merasa tak enak hati pada Andre, tetapi ia juga tak ingin mengatakan iya sementara hatinya sama sekali tak ada rasa cinta sedikitpun pada, Andre.


"Ya sudah tak apa-apa, Nara. Tapi izinkan aku untuk tetap menjadi teman baikmu ya," ucap Andre menahan rasa kecewa yang teramat sangat dengan penolakan dari Nara.


"Iya, Ndre. Kamu akan selalu menjadi sahabat baikku tapi tidak lebih dari itu. Dan aku minta padamu, jangan pernah berharap apapun padaku. Karena sudah aku katakan barusan ya, aku sama sekali tak ingin pacaran dan juga aku hanya anggap kamu ini sahabat tak lebih dari itu," ucap Nara tegas.


"Baiklah, Nara. Aku tahu diri kok, mungkin aku ini bukanlah kriteria pria yang kamu inginkan hingga kamu menolakku," ucap Andre.


"Ndre, bukan seperti itu. Aku harus jelaskan berapa kali lagi padamu sih, supaya kamu bisa mengerti? aku tidak ingin memberikan harapan palsu padamu dengan menerima dirimu, sementara hatiku ini tidak ada rasa cinta sedikitpun padamu," ucap Nara.

__ADS_1


Mendengar akan hal itu, Andre hanya diam saja.


__ADS_2