
"Masa sih, Mas? "
"Hem, masa nggak percaya sih? sebelum aku mengenalmu, aku lebih fokus ke urusan kantor. Waktu luangku untuk mengerjakan urusan kantor walaupun itu hari libur," ucap Wildan meyakinkan Nara.
"Nara, di tempat ini dan di hari ulang tahunmu. Aku ingin memberikan sesuatu sebagai simbol tanda kasih kepadamu. Semoga kamu mau menerimanya walaupun mungkin kamu tidak akan menyukainya," ucap Wildan.
"Sebenarnya Mas Wildan nggak usah ngasih apa-apa juga tak masalah bagiku. Yang terpenting Mas Wildan benar-benar setia dan tulus sayang padaku. Itu sudah cukup untukku," ucap Nara menyunggingkankan senyuman.
"Hem... belum apa-apa sudah menolak terlebih dahulu," Wildan tersenyum sinis.
"Yaela....begitu saja langsung ngambek, pacar kesayanganku ini." Canda Nara seraya memegang dagu Wildan dengan kedua tangannya.
Dan pada saat Nara akan melepas kedua tangannya yang berada di dagu Wildan justru Wildan menahannya dengan kedua tangannya menggenggam tangan Nara.
Sejenak keduanya saling bertatapan begitu lamanya. Perlahan-lahan Wildan mendekatkan wajahnya pada Nara. Dan semakin dekat saja, hingga tidak ada celah diantara keduanya.
Saat itu juga Wildan mengecup bibir Nara begitu lembutnya. Nara yang baru pertama kali merasakan hal itu, ia belum tahu apa yang harus di lakukan hingga ia diam saja.
Sejenak Wildan melepaskan ciuman di bibir Nara, dan ia membisikkan kata di telinga Nara.
"Sayang, aku cinta padamu dan sangat sayang padamu. Aku harap kamu setia padaku dan aku juga akan selalu setia padamu," bisiknya lirih di telinga Nara, setelah itu ia mengecup lembut telinganya.
Nara hampir saja tak bisa menahan gejolak rasa yang di timbulkan oleh Wildan tersebut.
"Sayang, Maaf ya. Aku mengecup bibirmu, itu sebagai tanda cintaku padamu. Dan aku juga ingin memberikan ini untukmu."
Wildan memberikan kotak perhiasan pada Nara, dan Nara menerimanya.
"Ini apa, Mas Wildan?" tanya Nara memicingkan alisnya.
"Buka saja sayang, supaya kamu tidak penasaran," ucap Wildan seraya menyunggingkankan senyuman.
__ADS_1
Nara pun membuka kotak perhiasan tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah kalung berlian yang begitu indahnya.
"Mas Wildan, apa ini tidak terlalu berlebihan? pasti ini harganya sangat mahal, aku tidak mau menerima pemberianmu ini." Nara menutup kembali kotak perhiasan tersebut dan meletakkannya di pangkuan Wildan.
"Sayang, kalung ini tidak ternilai bagiku tidak ada bandingan jika dibandingkan dengan rasa bahagia aku bisa bersamamu," ucap Wildan.
Aku tak ingin kamu menolaknya, jika kamu menolak pemberianku ini sama saja kamu menolak diriku." Wildan membuka kotak perhiasan tersebut dan ia sendiri yang memikirkan kalung itu ke leher Nara.
Sejenak Wildan memeluk Nara, mengecup rambutnya seraya mengatakan sesuatu.
"Sayang, kamu memang bukan yang pertama untukku tetapi aku ingin kamu yang terakhir bagiku. Semoga sakit hati yang pernah aku rasakan karena sebuah penghianatan tidak akan pernah terulang lagi karena aku sudah memutuskan kamu wanita yang terakhir singgah di dalam hatiku. Dan untuk selamanya hingga akhir hidupku."
"Sayang, aku sangat berharap jika hubungan kita ini berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Karena sudah btudaj ada lagi wanita yang aku cinta selain dirimu ini."
Sejenak jantung Nara berdegup kencang sekali pada saat ia di peluk oleh Willdan. Karena sejak mereja pacaran tidak pernah melakukan pelukan begitu lama, paling sekedarnya saja. Dan apa lagi ciuman.
Nara membalas pelukan Wildan dengan ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Wildan. Rasa nyaman kini di rasakan oleh Nara dan Willdan.
"Kita sama-sama pernah mengalami betapa sakitnya karena suatu pengkhianatan. Dan aku harap Mas Wildan jangan pernah berkhianat."
Mendengar kata-kata Nara, Willdan melepaskan pelukannya dan ia memegang dagu Nara dengan kedua tangannya.
"Sayang, aku sudah pernah di khianati rasanya itu tidak enak. Dan sangat sakit sekali. Jadi aku yakin dengan hati ini tidak akan berkhianat padamu. Karena aku tak ingin menyakiti hatimu."
Nara menatap manik hitam Wildan begitu juga sebaliknya. Dan kembali lagi Wildan mencium bibir Nara. Dengan rakusnya Wildan mencium bibir Nara, hingga Nara membuka mulutnya.
Barulah Wildan bisa dengan leluasa memainkan lidahnya di rongga mulut Nara. Nara mencoba membalasnya dengan bertarung lidahnya dengan lidah Willdan. Keduanya sangat menikmati hal ini begitu lama, apa lagi bagi Nara ini adalah yang pertama kalinya.
Setelah cukup lama mereka berciuman bibir, Willdan mengusap bibir Nara yang basah olehnya seraya tersenyum.
"Bibirmu ternyata manis sekali, nikmat aku suka. Apa lagi aku yang pertama kali menciumnya, ini sungguh luar biasa bagiku."
__ADS_1
Kata-kata Wildan membuat Nara tersipu malu, di dalam hatinya berbunga-bunga.
"Bagaimana Mas Willdan tahu jika aku baru pertama kali berciuman dan itu dengannya?"
"Ternyata seperti ini rasanya berciuman? karena pada saat aku berpacaran dengan Tara dan Ara aku tak berani melakukan hal ini. Walaupun kerap kali mereka meminta, aku selalu menolaknya."
Nara terus saja melamun dan senysm senyum sendiri membuat Wildan heran dan memicingkan alisnya.
"Sayang, kenapa kamu masih bisa melamun di saat bersamaku? hem...aku jadi curiga ini," ucap Wildan.
"Hheee maaf Mas Wildan. Aku tidak melamunkan pemuda lain kok. Jangan curiga seperti itu dong," ucap Nara.
"Lantas jika bukan melamunkan pemuda lain, lantas apa yang kamu lamunkan sehingga kamu senyam senyum sendiri seperti itu?" tanya Willdan menyelidik.
"Mas Wildan, bagaimana Mas tahu kalau aku baru pertama kali berciuman?" tanya Nara tersipu malu seraya tertunduk.
"Ya tahulah, tak perlu aku jelaskan intinya aku tahu kalau kamu itu belum pernah ciuman. Hem bagaimana rasanya, sayang?" Wildan mengintip wajah Nara seraya menarik turunkan alisnya membuat Nara semakin malu di buatnya.
"Ihh...Mas Wildan apaan sih?"
"Hem, aku tahu sayang. Pasti kamu merasakan enak kan? bagaimana kalau lagi tapi kali ini yang lebih lama ya? hheee...aku jadi candu akan bibirmu, kamu harus tanggung jawab," ucap Wildan terkekeh.
"Weleh...kok aku yang harus tanggung jawab. Yang nyosor duluan kan Mas Wildan bukan aku," bantah Nara.
"What's? nyosor? memangnya aku ini bebek?" protes Wildan seraya memonyongkan bibirnya.
Nara pun seketika terkekeh begitu juga dengan Wildan. Mereka benar-benar menikmati suana healing dengan penuh kemesraan, keromantisan, dan kebahagiaan.
"Mas, semoga rasa bahagia ini jangan hanya sekejap mata ya? tetapi untuk selamanya," ucap Nara.
"Aminn...semoga Allah merestui hubungan kita. Hingga bahagia ini akan selamanya kita rasakan bersama anak cucu kita kelak," ucap Wildan.
__ADS_1