
Tak berapa lama, Tara sudah selesai mandi dan dia pun langsung berpamitan pada Mamahnya untuk segera ke rumah Nara.
"Mah, aku pergi sekarang ya?" pamitnya menyalami mamahnya.
"Makan dulu, Tara. Nggak enak kan nanti jika di tawarin makan di rumah, Nara."
Akhirnya Tara menuruti kemauan mamahnya, dia pun makan terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Nara. Dia sengaja mempercepat makannya supaya lekas ke rumah Nara.
"Ya ampun, Tara. Sebegitu perhatiannya dan sukanya kamu pada Nara, hingga kamu tak sabar juga ingin ke rumah Nara. Makan sampai seperti itu," batin Mamahnya.
"Pelan-pelan, Tara. Rumah Nara nggak akan pindah kok, nanti kesedak loh," tegur mamahnya.
"Hheee bisa saja mamah," Tara pun memperlambat makannya pada saat di tegur oleh mamahnya.
Setelah beberapa menit, dia langsung pergi melajukan mobilnya menuju ke rumah Nara. Hanya beberapa menit saja sudah sampai di pelataran rumah Nara. Dan kebetulan ayahnya sedang bersantai di teras rumah.
"Tara ya?" sapa ayahnya karena dia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Saya Ronald, om. Boleh ketemu sama Nara, om?"
"Oh iya om baru ingata, jadi kamu ini teman barunya Nara yang mirip Tara ya? Nara sedang di dapur bikin cemilan di temani oleh ibunya," ucap ayahnya ramah.
"Masuk saja nggak-nggak, lewat sana itu," ayah Nara menunjuk ke pintu samping rumah yang langsung menuju ke dapur.
"Hay Nara-tante, mau dong ikutan buat cemilannya," ucap Ronald antusias.
"Heh, sini. Memangnya loe nggak cape, jauh-jauh kemari?" tanya Nara seraya mengolah adonan.
Belum juga Ronald menjawab, Bu Resy menyela pembicaraan.
"Ronald, makan dulu saja ya? pasti belum makan kan?" ucap Bu Resy.
"Sudah, Tante. Sebelum kemari, mamah menyarankan untuk makan terlebih dahulu," jawab Ronald tersenyum ramah.
__ADS_1
Langsung saja Ronald membantu Nara dan ibunya tanpa ada rasa sungkan. Dia sangat antusias sekali, hingga dia jam berlalu barulah mereka berhenti.
"Untu hari ini cukup dulu, di sambung besok lagi. Maaf Ya Ronald, proses lama jadi nggak bisa langsung cepat nyetok di mini market dan toko snack mamah loe," ucap Nara.
"Santai saja, Nara. Oh ya, gwe pamit pulang ya. Tante, aku pulang dulu ya." Ronald menyalami Bu Resy.
"Thanks ya, Ronald."
Ronald hanya menyunggingkan senyuman dan melangkah keluar dari dapur lewat pintu belakang hingga langsung sampai di pelataran rumah Nara. Dia juga tak lupa berpamitan pada ayah Nara yang kebetulan masih ada di teras halaman.
Ronald sangat puas bisa membantu Nara, selama dalam perjalanan pulang dia selalu saja tersenyum.
"Ya Allah, semoga kedekatan aku dengan Nara tidak hanya sebentar. Justru aku ingin kita bisa selamanya bersama sampai maut memisahkan."
"Ya Allah, semoga Engkau merestuinya. Hingga cinta ini tak bertepuk sebelah tangan."
"Aku tak ingin mempermainkan dirinya, aku akan berusaha membuatnya bahagia selamanya."
Terus saja Ronald menggerutu sendiri selama perjalanan pulang. Sementara di rumah Nara, dia melanjutkan lagi pembuatan cemilannya.
"Nggak kok, Nara. Oh ya, kenapa tadi kamu menyudahi buatnya pada saat ada Ronald?" tanya Bu Resy penasaran.
"Nggak enak lah, bu. Makanya aku berpura-pura menyudahinya," ucap Nara.
Bu Resy hanya berhooh ria lantas dia kembali membantu Nara hingga pukul sembilan malam baru mereka berhenti acara pembuatan cemilannya.
Setelah itu Nara tak lupa untuk sejenak belajar dan mengerjakan tugas dari gurunya. Pukul sepuluh malam barulah dia tidur karena sudah benar-benar merasakan lelah.
Hingga tak terasa waktu telah pagi, dia pun segera mandi tanpa lupa dia menunaikan dua rokaat setelah itu dia sarapan bersama keluarganya.
"Ayah-ibu, aku berangkat ke sekolah ya?" Nara menyalami kedua orang tuanya.
"Hati-hati, Nara," pesan orang tuanya serentak.
__ADS_1
Seperti biasa, pada saat Nara akan mengeluarkan sepedanya. Lagi-lagi Ronald melarang, dia sudah datang di pelataran rumah Nara.
"Nara, berapa kali sih gwe harus bilang ke loe. Nggak usah loe naik sepeda lagi, kita kan satu arah dan bahkan satu kelas. Jadi lebih baik berangkat dan balik berdua saja," ucap Ronald.
Nara pun akhirnya menurut saja, tapi di dalam hati sebenarnya dia itu tak enak. Karena tiap hari nebeng mobil Ronald.
Sesampainya di sekolah, banyak sekali mata yang menatap tak suka dengan kebersamaan mereka.
"Heh, Nara! loe jadi cewe kok ganjen banget sih, dulu loe pacarin Ara kini loe campakkan dia begitu saja. Loe juga yang buat Tara pergi. Sebenarnya apa sih mau loe, semua di sama saja, dasar cewe murahan!" ejeknya pada Nara karena sudah tak tahan melihat kebersamaan dirinya bersama dengan Ronald.
"Heh, masbuloh( masalah buat Loe)! iri bilang saja, loe pasti iri kan karena mereka mau berteman dan geket gwe," ejek Nara padanya.
"Sombong di piara, awas saja Nara. Gwe akan buat perhitungan sama loe yang sudah menghina gwe seperti ini!" ancamanya.
"Nara, sudah nggak usah di ladenin. Sebaiknya kita ke kelas saja." Ronald merangkul Nara di hadapan cewe tersebut.
"Ronald, tunggu!" teriaknya seraya berlari mengejar Ronald dan Nara.
Hingga akhirnya Nara dan Ronald terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi sih? mau buat masalah lagi sama, Nara? kalau iya, adepin gwe dulu sini," ucap Ronald ketus.
"Kok loe ngomongnya kasar banget ke gwe, padahal gwe nggak ngomong apa-apa loh! gwe hanya ingin mengingatkan loe saja supaya berhati-hati dengan Nara. Dia itu bukan cewe yang baik, nantinya loe menyesal loh. Mending loe temenan sama gwe saja," ucapnya seraya percaya diri.
"Hhhaaa, benar juga apa yang barusan Nara katakan. Loe itu iri padanya iya kan? tetapi loe enggan untuk mengakuinya."
"Gwe sudah nyaman sama Nara. Gwe nggak suka cewe yang bisanya menghasut orang seperti loe. Justru loe cewe yang nggak baik, bukan Nara."
"Ngaca dulu sana, jadi loe tahu seperti apa diri loe itu. Sok mencela Nara tapi loe sendiri lebih buruk dari Nara!"
Setelah berbicara panjang lebar, Ronald mengajak Nara melangkah kembali menuju ke kelasnya.
Cewe tadi adalah Tika, dia suka pada Ronald pada saat pertama kali Ronald datang ke sekolahan. Tetapi Ronald sama sekali tak merespon rasa suka Tika hingga Tika marah.
__ADS_1
"Ihhhhh sebenarnya apa sih yang membuat Ronald suka pada Nara! padahal dia itu cuma anak tukang laundry!" batinnya kesal.