Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Masa Hukuman Tya


__ADS_3

Persidangan berjalan lancar, pihak pengadilan telah memberikan suatu keputusan masa hukuman bagi Tya.


Sebenarnya Tya dan orang tuanya tidak bisa menerimanya, tetapi ketuk palu dari hakim beserta keputusan tidak bisa di ganggu gugat sama sekali.


"Tya, kamu yang sabar ya. Papah dan mamah akan sering jenguk kalian di lapas. Jadi tak perlu bersedih dan khawatir," ucap Mia mencoba menghibur Tya yang terlihat sedih dan murung.


Tya hanya diam tak merespon perkataan dari Mia, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia sedang menahan supaya tak tertumpah air matanya. Memang penyesalan datangnya terlambat di saat ia sudah alami persidangan.


Tya melangkah keluar dari ruangan persidangan menuju ke sel, di kawal oleh dua orang polwan. Ia sama sekali tak berpamitan atau berkata apa pun pada orang tuanya. Yang ada saat ini pikirannya kosong.


Mia sangat sedih melihat kondisi Tya seperti itu. Ingin ia berteriak pada suaminya, karena ia merasa semua yang terjadi pada Tya awalnya karena perbuatan Meo.


'Mah, ayok kita pulang sekarang karena Tya sudah masuk ke sel nya." Ajak Meo merangkul istrinya melangkah pergi dari ruang persidangan.


Dengan sangat terpaksa, Mia pun melangkah pergi saeu ruang persidangan tersebut.


Nara sempat melihat kejadian itu, ia merasa iba tetapi tidak bisa berbuat banyak untuk bisa membebaskan Tya. Ia juga berpikir dua kali, karena apabila Nara mengampuni Tya, ia juga khawatir Tya akan berulah lebih parah lagi.


"Nara, ayok kita pulang. Persidangan telah usai dan Tya sudah di penjara," ajak Ayah Bimo mengagetkan lamunan Nara.


"Nara, kamu pulang saja dulu ya? karena aku masih ada urusan sama Komandan kepolisian," ucap Wildan.


Hingga Nara pun pulang terlebih dahulu dengan Ayah Bimo. Tetapi didalam hatinya ia terus saja memikirkan nasib Tya selama berada di dalam penjara.


"Ya Allah, kasihan sekali Mba Tya harus mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama. Lima tahun di penjara, aku sampai tidak bisa membayangkan bagaimana suntuk dan bosannya di dalam penjara."


"Bahkan yang aku dengar, para narapidana kebanyakan itu kejam-kejam. Ya Allah, aku pinta padaMu. Supaya Mba Tya tabah dan tegar dalam menghadapi masa tahanannya dan juga di beri teman yang baik di dalam lapas sana."

__ADS_1


Ketermenungan Nara, bisa di baca oleh Ayah Bimo. Ia pun menanyakan hal itu pada Nara di sela mengemudikan mobilnya.


"Nara, kamu kenapa? seharusnya kamu lega karena sudah tidak ada lagi orang yang akan berusaha jahat padamu. Tetapi kenapa kamu malah murung seperti itu?" tanya Ayah Bimo penasaran.


"Nggak tega saja, ayah. Aku melihat wajah sedih dan murung, Mba Tya," ucap Nara singkat seraya pandangannya tetap ke jalanan.


"Nara, itu sudah konsekuensi dari apa yang telah di perbuat oleh Tya padamu. Jika seorang penjahat tidak di hukum, pasti di negara ini akan penuh dengan orang-orang jahat dan penjara tidak akan berguna. Negara kita ini adalah negara hukum, jadi sudah sewajarnya, seorang kriminal mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Ayah Bimo.


'"Iya juga sih, yah. Tetapi kan kasihan juga, lima tahun itu kan waktu yang cukup lama. Aku pikir hukuman ya beberapa bulan nggak sampai bertahun-tahun," ucap Nara.


Mendengar apa yang di katakan oleh Nara, justru membuat Ayah Bimo terkekeh. Ia benar-benar geli karena punya anak gadis begitu polosnya.


"Nara, masa hukuman seseorang itu sudah ada di dalam pasal-pasal di pengadilan. Jadi kita tidak bisa seenaknya menentukan masa hukuman seseorang. Masa hukuman seseorang juga sesuai dengan kejahatan yang telah di lakukannya. Sudahlah kamu tak usah memikirkan, Tya. Doakan saja biar Tya benar-benar jera dan sadar sehingga tidak mengulangi kejahatannya lagi," ucap Ayah Bimo.


Tak terasa kini mereka telah sampai di rumah, dan langsung mendapatkan sambutan dari Bu Resy yang penasaran dengan hasil keputusan persidangan tentang masa hukuman Tya.


"Alhamdulillah lancar, Bu," ucap singkat Ayah Bimo.


"Hem lantas berapa lama Tya di hukum?" tanya Bu Resy kembali.


"Lima tahun, Bu," jawab Ayah Bimo lagi.


Nara dan Ayah Bimo menjatuhkan pantatnya di kursi di teras halaman, begitu pula dengan Bu Resy. Sejenak mereka bercengkrama tentang persidangan tadi.


Orang tua Wildan juga sudah pulang ke rumah tanpa menunggu Wildan yang masih ada urusan dengan Komandan kepolisian.


"Pah, sebenarnya kasihan juga ya Tya. Ia harus mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama," ucap Mamah Rifda.

__ADS_1


"Kok kasihan sih, mah. Itu sudah sepantasnya buat seseorang yang telah melakukan tindakan kejahatan. Biar ia jera dan tak mengulangi lagi perbuatan jahatnya," ucap Papah Rendra manyun.


"Kasihan lah pah, secara Mia di pikir ini semua awal mula karena tindakan sakdh orang tuanya. Salah siapa mereka memaksa Tya menikah dengan pria yang tidak ia sukai. Pasti saat ini orang tua Tya sedang merutuki kesalahan mereka," ucap Mamah Rifda.


"Mah, sudahlah tak usah pusing hanya untuk memikirkan keluarga Tya. Lebih baik kita memikirkan keluarga kita saja," ucap Papah Rendra.


Saat ini Mia dan zmeo juga sudah sampai di rumah. Mia sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Ia menjatuhkan pantatnya di kursi teras halaman dan langsung menitikkan air matanya.


"Ya Allah, kasihan sekali Tya harus merasakan dinginnya di penjara-penjara dalam waktu lima tahun. Berikan ia kesabaran, ketabahan, dan ketegaran dalam menjalani semua ini."


"Aku tidak bisa membayangkan betapa tersiksa dan menderitanya anakku nantinya di dalam penjara. Tidur di lantai hanya beralaskan tikar, sedangkan selama ini anakku selalu tidur di ranjang dan kasur yang empuk."


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir jika Tya akan mengalami hal seperti ini. Kenapa juga Tya keras kepala dengan masih mencintai Wildan yang jelas-jelas sudah tidak mencintai dirinya lagi."


Terus saja Mia menitikkan air mata sersya terus saja menangis memikirkan nasib Tya selama lima tahun berikutnya di dalam penjara.


Meo hanya bisa menatap sedih ke arah istrinya. Di dalam hatinya ia juga sadar akan kesalahannya pada, Tya.


"Ya Allah, jika waktu bisa aku ulang lagi pada saat itu aku tidak akan memaksa Tya untuk menikah dengan salah satu anak dari sahabatku."


"Yang ternyata malah pemuda itu brengsek dan tidak setia. Hingga akhirnya Tya di campakkan begitu saja olehnya."


"Ya Allah, seandainya aku bisa menawar. Tolong bebaskan Tya dari jerat hukum. Kasihanilah Tya, tapi itu tidak mungkin."


"Tya, maafkan Papah ya. Yang telah membuatmu menderita seperti ini."


Kini Meo baru menyadari akan kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2