Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Mencari Pekerja Baru


__ADS_3

"Jarang loh ada gadis yang seperti dirimu, malah sepertinya tidak ada sama sekali hanya Nara seorang," ucap Wildan tak henti dalam memuji Nara.


"Mas Wildan itu kalau memuji diriku terlalu berlebihan, sudah sering kali aku katakan bersikaplah sewajarnya saja," ucap Nara.


Nara bukanlah tripical gadis yang gila dengan pujian dan sanjungan dia adalah gadis yang berpenampilan apa adanya dan tak suka jika seseorang terlalu memuji dirinya.


Dia lebih suka jika seseorang berkata sewajarnya.


Setelah menempuh perjalanan dua jam tiga puluh menit sampai juga Nara dan Willdan di di kota B tepatnya di rumahnya Nara yang dulu.


Semua tetangga yang ada di sekitar rumah Nara langsung saja berhamburan mendekati Nara, bahkan mereka semua yang tergolong gadis-gadis belia namun putus sekolah melihat sosok Wildan tak berkedip sama sekali.


"Mbak Nara, apa kabar?"


"Mbak Nara, ini pacarnya ya?"


"Mbak Nara, saya ikut kerja ya?"


"Mbak Nara, pacarnya ganteng banget seperti aktor Korea. Jika masih ada stok, sisain satu buatmu dong."


"Aku juga mau dong, Mbak Nara. Duplikatny atau kembarannya mas tampan ini."


Hampir semua gadis ABG tersebut berbicara sehingga Nara bingung harus membalas ucapan yang mana dahulu.


'Aduh stop dong, kalau kalian ngomongnya berbarengan seperti ini, bagaimana aku akan bisa membalasnya! aku jadi semakin bingung harus membalas pertanyaan siapa dulu," ucap Nara.


Wildan senyum senyum sendiri melihat Nara yang kewalahan menghadapi para gadis seusianya yang terus saja berkata tanpa ada jeda tanpa ada spasi.

__ADS_1


Setelah mendapatkan teguran dari Nara, barulah lara gadis diam. Dan hal ini membuat Nara bisa sedikit bernapas lega. Ia mulai membalas satu persatu pertanyaan para gadis seusianya tersebut yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan, mbak.


Walaupun kerap kali Nara melarang mereka, dan meminta untuk memanggil nama saja karena usia mereka sepadan. Tetapi mereka tidak mau dengan alasan tidak sopan masa iya dengan majikan memanggilnya Nara saja.


Nara mulai menjelaskan maksud kedatangannya walaupun sebenarnya para gadis telah mengetahui maksud kedatangan Nara yakni untuk mengajak mereka bekerja dengannya.


"Buat semuanya saja yang ingin ikut bekerja denganku, sekarang juga kalian siapkan pakaian yang akan dibawa. Untuk masalah kost atau tempat tinggal nanti aku yang akan menyediakanya. Intinya gaji kalian itu bersih, tidak di potong untuk bayar kost ataupun kebutuhan makan kalian. Hanya untuk kebutuhan pribadi kalian seperti sabun, sampo itu di luar tanggungku ya."


"Dan satu hal lagi, kemungkinan nanti kalian akan sering lembur jika banyak orderan. Dan itu juga akan mendapatkan uang lembur. Selama satu bulan mendapatkan jatah libur empat kali, tapi tidak boleh ambil di hari Minggu."


"Karena kebetulan setiap hari Minggu justru ramai orderan. Dan satu hal lagi, kalian harus saling bekerja sama satu sama lain ya. Seperti tempo dulu di sini. Tetapi kali ini sudah ada rumah produksi sendiri dan tokonya sendiri."


Setelah cukup lama Nara menjelaskan semuanya. Ia pun terdiam dan ia pun bertanya kepada calon para pekerja yang baru apakah ada yang ingin ditanyakan atau tidak.


Setelah semuanya paham dan tidak ada yang bertanya. Saat itu juga mereka ikut Nara ke kota J. Terlebih dahulu mereka berpamitan pada orang tua mereka. Bahkan Nara juga berpamitan pada masing-masing orang tua mereka. Supaya orang tua mereka tidak khawatir karena para anak gadisnya pergi bersama dengan Nara.


Mobilpu segera di lakukan oleh Willdan pada saat semua calon pekerja baru sudah masuk ke dalam mobil. Semua terus saja teroaba pada Willdan yang sedang fokus menyupir. Hingga tidak ada satu kata pun teng terucap di bibir mereka.


Nara juga bisa melihat gelagat mereka, karena ia juga sesekali melirik ke arah kaca spion. Tetapi Nar tidak ada rasa cemburu sama sekali, karena para gadis tersebut hanya kagum pada Willdan. Bukan ingin memiliki Willdan.


Nara bisa paham mana gadis yang menginginkan Wildan dan mana yang hanya kagum dengan paras tampan Wildan.


Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih tiga puluh menit mobil Wildan telah sampai di pelataran toko oleh-oleh milik Nara.


Bu Resy segera menyambut kedatangan enam orang gadis belia seumuran Nara. Yang dulu sempat bekerja pada Nara waktu masih di kota B.


Para gadis tersebut begitu kagum melihat toko oleh-oleh Nara yang begitu besar dan juga rumah produksinya yang besar.

__ADS_1


Nara menempatkan keenam pekerja baru tersebut untuk di bagian produksi. Karena kebetulan enam gadis tersebut sangat ahli dalam bidang produksi tersebut.


Nara sudah menyiapkan tempat tinggal untuk enam pekerja barunya yakni di samping rumah produksi tersebut telah dibangun berpuluh-puluh kamar kost seperti mest untuk para pekerja yang ada di rumah produksi Nara.


Mereka di minta untuk segera menata pakaian mereka dahulu di kamar yang telah tersedia. Setelah itu barulah Nara memperlihatkan cara kerja mereka di rumah produksinya.


Waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa sudah sore saja. Tak terasa pula, Wildan sudah cukup lama berada di tempat Nara.


Ia pun lekas berpamitan pulang, akan tetapi sebelum ia pulang Bu Resy telah menyiapkan oleh-oleh untuk di bawa pulang oleh Wildan.


"Tante- Nara, aku pulang ya karena sudah sore," pamitnya pada Bu Resy dan Nara.


"Ya Nak Wildan, hati-hati di jalan ya. Dan ini ada sedikit cemilan yang baru di produksi untuk orang tuamu," ucap Bu Resy memberikan kardis berisi beraneka macam cemilan.


"Tante, ini terlalu banyak," ucap Wildan.


"Mas, terimalah. Ini belum seberapa di banding dengan bantuan dari Mas barusan."


"Jadi ini untuk upahku begitu?" tanya Wildan.


"Astaga, ya nggak lah mas. Aduh Mas Wildan ini loh," ucap Nara manyun.


"Ya dech, aku Ken hanya bercanda kenapa langsung manyun seperti itu?" goda Wildan.


Setelah itu ia langsung melangkah ke mobilnya. Dan melajukannya arah pulang. Bahkan tanpa sadar karena saking bahagianya, ia pun bersiul sendiri.


"Astaga, tumben aku bersiku seperti ini? ya ampun, padahal hanya bersama dengan Nara begitu lama. Dan capek pula, tapi aku malah sangat senang seperti ini."

__ADS_1


Wildan tak berhenti senyan senyum sendiri selama mengemudikan mobilnya. Hingga sampai rumah rasa bahagia itu masih saja terpancar di wajah Wildan. Hal ini sempat terlihat oleh Mamah Rifda yang sedang asik menyirami tanaman kesukaannya.


Ia hanya menggelengkan kepalanya saja pada saat melihat anak sulungnya sangat bahagia.


__ADS_2