Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Jujur Juga


__ADS_3

Nara hanya diam pada saat Wildan menggandeng tangannya keluar dari ruang rawat Tya. Sementara Tya terus saja menangis histeris melihat Wildan pergi begitu saja.


Mia bingung harus bagaimana lagi untuk bisa menenangkan hati Tya.


"Aduh, bagaimana ini? apa yang aku takutkan kini benar-benar telah terjadi. Aku sama sekali tak mengira jika Wildan akan datang kemari dengan mengajak kekasih barunya," batin Mia.


Tya pun terus saja menggerutu di dalam hatinya.


"Jadi selama ini gadis itu ternyata adalah kekasih Wildan, tetapi kenapa pada saat itu ia mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu murid dari Wildan."


"Aku masih belum percaya jika gadis itu adalah kekasih Wildan, aku akan menyelidikinya lebih lagi setelah aku benar-benar pulih."


"Apakah ini hanya rekayasa dari Wildan saja, supaya aku tidak mendekatinya lagi ya? karena tadi gadis itu juga diam saja, tidak mengiyakan perkataan dari Wildan bahwa dirinya adalah kekasih Wildan."


"Aku sangat takut ya Allah, jika mimpiku tadi akan benar-benar menjadi kenyataan di mana Wildan telah mempunyai pengganti diriku."


Melihat sikap diamnya Tya yang terus saja menitikkan air mata membuat Mia menjadi merasa iba. Tetapi ia bingung juga harus berkata apa karena dia khawatir perkataannya justru akan menambah Tya semakin sedih.


"Tya kamu yang...


"Mah, sudahlah tak usah mengatakan apapun lagi. Mamah tak perlu mengkhawatirkan diriku lagi karena aku tidak akan berbuat nekat kembali justru aku akan semangat untuk lekas pulih."


Tya memotong perkataan dari Mia, hingga pada akhirnya Mia pun tak melanjutkan perkataannya tadi.


Sementara saat ini di dalam mobil Nara dan wildan diam saja. Wildan bingung akan memulai cerita dari mana dahulu untuk menjelaskannya kepada Nara. Hingga pada akhirnya Wildan mobilnya, untuk mengatakan semuanya pada Nara.


"Sayang, aku minta maaf ya tidak mengatakan secara jujur padamu bahwa kita akan menjenguk mantan pacar aku."


"Jujur saja sebenarnya aku itu malas untuk menemuinya setelah apa yang pernah ia lakukan dulu padaku."

__ADS_1


"Tya adalah mantan pacar aku setahun yang lalu. Pada saat aku berniat serius dengannya justru ia telah memberikan kejutan yang sangat menyakitkan bagiku."


"Tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba ia mengirimkan sebuah undangan pernikahan ke rumahku. Aku begitu shock pada saat itu mendapati kenyataan bahwa ia telah berkhianat."


"Aku benar-benar sakit hati dibuatnya karena aku pikir selama ini hubungan kami baik-baik saja ternyata diam-diam dia telah mendua."


"Setelah satu tahun berlalu tiba-tiba ia datang lagi meminta maaf padaku dan mengharapkan hubungan kita kembali seperti dulu lagi."


"Dia datang mengatakan bahwa rumah tangganya telah berantakan dan suaminya telah menceraikannya begitu saja."


"Selama ini ia selalu saja berusaha mendekatiku kembali padahal aku sudah berulang kali mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya untuk bisa bersamaku lagi."


"Makanya aku sengaja membawamu untuk menjenguknya supaya dia itu tidak terus-menerus mengejar diriku dan berharap supaya aku kembali lagi padanya."


"Nara, kamu percaya kan dengan apa yang aku katakan padamu. Aku minta maaf jika tidak mengatakannya dari awal karena aku pikir ini tidak penting bagiku Tya adalah sepenggal masa laluku saja."


"Aku kembali percaya diri setelah mengenal dirimu karena aku sangat yakin jika kamu itu wanita yang lain dari pada yang lain."


Setelah begitu panjangnya, Wildan menjelaskan semua itu. Ia pun kemudian diam menunggu apa yang akan di katakan oleh Nara. Apakah Nara akan marah atau tidak? apakah Nara akan tetap bersedia terus menjalin hubungan atau tiba-tiba memutuskan hubungannya?


"Mas Wildan, lain kali tak usah menutupi sesuatu yang berhubungan dengan dirimu. Aku lebih suka dengan kejujuran karena jika semua di tutupi suatu saat bisa menjadi sebuah bomerang seperti sekarang ini."


"Aku tahu kok bagaimana rasanya sakit karena suatu pengkhianatan karena aku juga pernah alami hal itu. Apa lagi sampai di tinggal menikah seperti itu."


"Wanita tadi sempat menemuiku pada saat Mas Wildan habis main ke toko oleh-olehku. Ia bahkan bertanya padaku siapakah aku ini."


"Pada waktu itu aku juga sempat curiga kenapa wanita itu kok sepertinya perhatian sekali padamu mas Wildan, hingga bertanya banyak hal padaku."


Wildan memicingkan alisnya mendengarkan penjelasan yang dikatakan oleh Nara.

__ADS_1


"Jadi diam-diam Tya pernah mengikutiku pada saat aku datang ke tokomu. Aku malah sama sekali tidak tahu tentang hal itu, Nara," ucap Wildan heran.


"Sudahlah mas, tak usah memikirkan hal itu. Setiap manusia itu memiliki masa lalu dan setiap manusia itu masa lalunya tidaklah sama melainkan berbeda-beda."


"Aku bisa memakluminya Mas, tetapi aku minta lain kali Mas Wildan itu jujur saja padaku. Aku pun akan berusaha selalu jujur padamu karena di dalam suatu hubungan itu yang paling terpenting adalah saling terbuka saling percaya dan saling jujur," ucap Nara menyunggingkan senyumnya.


"Jadi kamu tidak marah padaku, Nara?" tanya Willdan untuk memastikan.


"Marah, untuk apa aku marah Mas? karena di dalam kehidupan setiap manusia itu hampir seluruh umatnya memiliki sebuah masa lalu. Bagiku itu yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan," ucap Nara.


"Jadi kita masih akan menjalani hubungan ini kan? kamu masih mau menjadi kekasihku kan?" tanya Willdan lagi ragu.


"Iya Mas, aku masih mau menjalani hubungan ini selagi kamu selalu bersikap jujur padaku dan yang paling utama aku tidak ingin mendapatkan suatu penghianatan karena aku paling benci jika diduakan dan dikhianati," ucap Nara.


"Alhamdulillah terima kasih ya Allah, aku benar-benar bahagia Nara. Aku sempat berpikir kamu akan memutuskan hubungan kita begitu saja."


Terpancar rasa bahagia di wajah Wildan yang tadi sempat murung dan panik, khawatir Nara akan memutuskan hubungan kasih mereka.


Nara hanya menyunggingkan senyuman saja pada Willdan.


"Mas, sudah nggak usah di bahas lagi. Sebaiknya kita makan siang yuk, aku sudah teramat sangat lapar. Apakah mas tak mendengar teriakam cacing yang ada di dalam perutku ini?"


Nara mengusap-usap , perutnya sendiri dengan mimik wajah yang memelas membuat Wildan terkekeh.


"Baiklah sayangku."


Willdan mengusap-usap surai hitam Nara.


Wildan sangat bahagia hatinya karena Nara bisa menerima masa lalu dirinya. Bahkan tanpa ada amarah sedikitpun dari wajah Nara. Willdan bisa bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2