
Ara sangat senang karena mendapatkan pembelaan dari Bu Resy.
"Nak Ara, ayok masuk. Nara ajak masuk sekalian, Nak Ara bersama dengan Nak Ronald," pinta Ibunya.
"Bu, aku tak mau mengajak masuk dia!" tunjuk kasar Nara pada Ara.
"Nara, kamu tak boleh seperti itu. Jika ada permasalahan dengan kalian berdua seharusnya di selesaikan secara baik-baik," Ibu Resy mencoba menasehati anaknya.
"Ibu sama sekali tak tahu kan apa yang telah di lakukan Ara padaku? jika ibu tahu pasti juga akan marah padanya," ucap Nara seraya melirik sinis pada Ara.
"Bagaimana ibu akan tahu, karena kamu selalu tertutup dengan ibu kan?" ucap Bu Resy.
"Baiklah, sekarang ibu dengarkan baik-baik apa yang akan aku ceritakan ini. Supaya ibu tak lagi menyalahkan atas sikapku ini pada Ara."
Saat itu juga Nara bercerita betapa malunya dia pada saat tahu dirinya hanya di jadikan sebagai taruhan. Bahkan Nara juga bercerita bagaimana dia hina dan di ejek oleh semua siswa yang ada di sekolah.
Nara cerita semuanya tanpa ada yang dia tutupi sama sekali. Bu Resy yang mendengar cerita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Nak Ara, ibu sama sekali tak menyangka jika kamu perlakukan Nara seperti itu. Pantas saja ibu selalu melihat wajah Nara begitu murung. Jadi ini sebabnya," tatapan tajam Bu Resy hampir saja menusuk sanubari Ara.
"Tante, maafkan aku ya. Aku juga menyesal telah melakukan hal buruk ini pada Nara. Kedatangan aku kemari juga ingin meminta maaf padanya. Karena selama ini Nara juga belum mau memaafkan aku, Tante."
"Aku ingin minta bantuan dari Tante supaya membujuk Nara untuk bersedia memaafkan aku."
"Nara, maafkan gwe ya. Gwe benar-benar menyesali semua yang pernah gwe lakukan dulu pada loe. Gwe ingin kita berteman lagi seperti dulu."
"Jika mau, gwe ingin kita pacaran lagi seperti dulu. Gwe janji takkan menyakiti loe lagi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ara dengan penuh kesungguhan, Bu Resy merasa iba padanya.
"Nara, kamu tak boleh menyimpan kesalahan orang lain. Kamu juga harus bisa memaafkan, nak."
__ADS_1
"Tidak, Bu. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan apa yang telah di lakukan oleh Ara padaku." Nara masih belum bisa memaafkan apa yang telah di lakukan oleh Ara padanya.
Sementara Ronald hanya diam saja karena dia tak ingin di anggap lancang jika mencampuri urusan Nara dan Ara.
"Sekarang loe pergi dari sini karena gwe tak ingin melihat loe ada di sini!" usir Nara menatap tajam pada Ara.
Dengan langkah gontai, Ara pergi dari rumah Nara. Bu Resy hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia juga tahu jika saat ini Nara masih labil, belum dewasa sepenuhnya hingga belum bisa memaafkan Ara.
Bu Resy tak ingin mencampuri urusan pribadi anaknya lebih dalam lagi. Toh selagi masih di batas kewajaran. Bu Resy percaya dengan Nara, jika dia tak terjerumus dalam pergaulan bebas.
Sementara Ronald sangat senang pada saat melihat pertunjukan dimana Nara tak mau memaafkan Ara dan bahkan mengusirnya.
"Bagus, Nara. Gwe suka sekali melihat pertunjukan tadi, itu sangat membuat hati gwe bahagia. Secara tidak langsung loe membalaskan sakit hati gwe dahulu dimana gwe dihina habis-habisan oleh Ara," gerutu Ronald di dalam hati.
"Loe mau minum apa, Ronald?"
Satu pertanyaan yang sempat membuat Ronald terhenyak dari lamunannya.
"Hem, minuman dingin dech kalau ada. Kalau nggak ada ya seadanya saja," ucap Ronald.
"Adanya ini, dan beberapa cemilan. Semoga loe suka, karena loe kan anak sultan pasti semua makanan loe nikmat dan mahal kan," canda Nara seraya meletakkan beberapa cemilan dimeja dan minuman dingin.
"Hem, mulai lagu dech loe."
Ronald langsung menenggak minuman dingin tersebut dan melahap cemilannya.
"Hem, cemilannya enak loh. Loe beli dimana sih, gwe juga ingin beli juga nech," ucap Ronald antusias.
"Gwe nggak pernah beli cemilan, tapi gwe selalu buat sendiri di sela waktu luang gwe. Gwe ini bagai katak dalam tempurung. Tak pernah keluyuran seperti cewe seumuran gwe pada umumnya."
"Gwe lebih suka bereksperimen di dapur dengan membuat beraneka macam cemilan."
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Nara, Ronald semakin kagum. Sosok ceria yang sempat Ronald pikir suka kelayaban malah ternyata suka berkutat di dapur.
"Hem, papah gwe punya mini market dan toko Snack. Loe nggak kepikiran sih untuk buat cemilan sebagai usaha?" saran Ronald.
"Sempat sih gwe berpikiran seperti itu. Tapi waktu itu gwe bingung dengan trik pemasarannya. Justru gwe ingin sekali membantu orang tua gwe untuk mencari nafkah," ucap Nara menyunggingkan senyumnya.
"Coba saja dech saran dari gwe. Nanti gwe bawa ya beberapa sampel nya untuk gwe tunjukkan pada bokap gwe," ucap Ronald.
"Setuju sekali, semoga sih bokap loe suka ya. Gwe siap dech jual produk yang bisa gwe buat hhee."
Melihat senyuman yang ada di bibir Nara, membuat Ronald sangat senang dan antusias ingin membantunya membuka pintu rezeki baru buatnya.
Setelah cukup lama, Ronald bermain di rumah Nara. Dia pun berpamitan pulang pada Nara dan ibunya. Tak lupa dia membawa beberapa sampel cemilan yang akan di tunjukkan pada papahnya.
Seperginya Ronald, Nara berganti pakaian dan membantu ibunya di laundry.
"Bu, doain ya supaya aku bisa bantu ibu dan ayah mencari nafkah," ucap Nara penuh antusias.
"Nara, kamu fokus saja sekolah nggak usah memikirkan ekonomi. Ini sudah menjadi kewajiban ibu dan ayah," ucap Bu Resy.
Akhirnya Nara menceritakan semuanya pada ibunya tentang niat Nara akan membuat cemilan untuk dijual di mini market dan toko Snack milik orang tua Ronald.
"Wah itu ide bagus sih, Nara. Tetapi apa kamu ada waktunya. Bisa bagi waktu mu antara sekolah dan membuat cemilan?" tanya Bu Resy ragu.
"Insa Allah, aku mampu Bu. Yang penting dukungan doa saja dari ibu dan ayah ya," ucap Nara penuh antusias.
"Tak perlu kamu pinta, ibu dan ayah selalu berdoa untukmu dan adikmu,* ucap Bu Resy.
Nara tak pernah mengeluh jika sepulang sekolah dia membantu ibunya di laundry. Dia anak yang sangat baik.
Sementara Ronald telah sampai di rumah mewahnya dan langsung menemui mamahnya menceritakan semuanya. Bahkan dia memberikan beberapa sampel cemilan tersebut pada mamahnya untuk dicicipi.
__ADS_1
"Hem, jadi kamu belum jujur pada Nara kalau kamu ini Tara? ini semuanya enak. Mamah tak mengira jika Bara pandai membuat cemilan seperti ini."
"Mamah yakin pasti papahmu juga setuju jika semua produk buatan Nara ini di letakkan di mini market dan toko Snack kita."