
Ara merasa malu karena tiba-tiba datang Nara pada saat dia mengancam Ronald. Sedangkan Ronald malah merasa senang dan dia tersenyum sinis pada Ara.
"Pergi loe sana, dan gwe harap loe tak usah dekati gwe lagi! apa lagi mengatur hidup gwe! terserah gwe mau berteman dengan siapa saja, jadi loe nggak berhak melarang gwe!"
"Gwe juga tahu loe mendekat gwe lagi karena sekarang ini tidak ada satupun yang memihak atau mau berteman dengan loe."
"Mana gengs motor yang selalu loe banggakan itu, hingga loe tega nyakitin gwe demi mereka?"
"Mana para cewe yang selalu loe pamerin ke gwe dulu? sekarang pergi juga kan setelah kaki loe cacat pincang seperti itu!"
Mendengar apa yang Nara katakan membuat hati Ara begitu sakit. Tapi memang itu semua salah dia.
"Cukup, Nara! iya gwe akui gwe salah dengan menyakiti loe hanya gwe jadikan sebagai taruhan. Tapi itu dulu, Nara. Saat ini gwe sudah sadar akan salah gwe, dan gwe juga sadar ternyata gwe benar-benar cinta loe," ucap Ara mencoba meyakinkan Nara.
Tetapi Nara tak percaya sama sekali, dia hanya tersenyum sinis ke arah Ara.
"Ara, gwe sudah tak percaya lagi dengan bulan loe itu jadi pergilah dari hadapan gwe! karena gwe tak ingin melihat loe ada di hadapan gwe!" usir Nara pada Ara.
Dengan langkah pincangnya, Ara berlalu pergi begitu saja. Sementara saat ini Nara asik bercengkrama dengan Ronald. Ara semakin cemburu melihat keakraban mereka.
"Sialan, gwe tak bisa meluluhkan hati Nara lagi. Lantas apa yang harus gwe lakukan untuk bisa mendapatkan maaf darinya ya? oh iya, sebaiknya sepulang sekolah gwe mampir saja ke rumah, Nara," batin Ara.
Hingga tak terasa jam pulang sekolah berbunyi, Nara lekas keluar dari kelasnya begitu pula dengan Ronald dan Ara.
"Nara, tunggu!" teriak Ronald memanggilnya.
"Yah ada apa, Ronald?" tanya Nara mengernyitkan alisnya.
"Boleh nggak gwe main rumah loe?" tanya Ronald menatap sendiri wajah Nara.
"Tapi rumah gwe tidak bagus, gwe malu sama loe. Nanti loe kecewa loh," ucap Nara tertunduk malu.
"Nara, kenapa loe seperti itu? gwe nggak pernah memandang status orang kaldu gwe berteman. Asalkan orang itu baik sama gwe, itu saja sudah buat gwe senang kok," ucap Ronald meyakinkan Nara.
__ADS_1
"Loe kan naik mobil, sedangkan gwe naik sepeda. Lantas bagaimana pulangnya?" ucap Nara bingung.
"Loe nggak usah bingung kali, biar sepeda loe dimasukin ke bagasi mobil gwe kan cukup." Ronald mengambil sepeda yang sedang di pegang oleh Nara.
Dengan sigap dia memasukkan sepedanya ke dalam bagasi mobilnya.
"Lihatlah, nggak cukup kan? bagasi mobil loe jadi kebuka seperti itu," ucap Nara.
"Hem, gampang tarok saja di jok mobil bagian belakang pasti muat."
Ronald mengambil sepeda Nara yang sudah ia letakkan di dalam bagasi, dan. memindahkannya ke jok mobil belakang.
"Loe lihat, cukup kan? sekarang loe duduk di jok depan sama gwe," ucap Ronald menyunggingkan senyumnya.
Nara lekas duduk di jok depan bersama dengan Ronald dan segera Ronald melajukan mobilnya menuju ke rumah Nara. Dia lupa jika saat ini dia menyamar sebagai Ronald. Dia tak bertanya pada Nara tentang lokasi rumahnya.
"Loe kok tahu jalan menuju ke rumah gwe? padahal kan gwe belum memberi tahu pada loe," ucap Nara heran.
"Hhee nggak usah heran begitu, Nara. Gwe bisa lakukan segala macam cara termasuk mengetahui rumah loe. Itu sangat gampang buat gwe, karena gwe sebelumnya telah bertanya terlebih dahulu pada siswa di kelas kita," ucap Ronald menutupi rasa gugupnya itu.
"Oh iya ya, secara loe ini kan anak sultan. Jadi gampang lah ya untuk tahu hal sepele seperti ini," canda Nara terkekeh.
"Loe bisa saja, gwe sama loe itu nggak ada bedanya. Kita sama-sama anak orang," canda Ronald terkekeh.
"Kenapa gwe merasa sudah kenal lama dengan, Ronald ya? gwe nyaman dengannya dan tak sungkan untuk bercanda ria dengannya."
"Tingkah Ronald juga sangat mirip dengan Tara. Sama sekali tidak ada yang di buang. Sama-sama tidak sombong walaupun anak orang kaya."
Sesaat Nara tak sadar terus saja menatap ke arah Ronald. Yang di tatappun menatap kearahnya.
"Nara, kenapa menatap gwe seperti itu? apa ada yang aneh dengan wajah gwe?" tanyanya heran.
"Hhheee nggak juga sih. Memangnya nggak boleh ya jika gwe sesekali menatap loe?" tanya Nara malu.
__ADS_1
"Nggak usah sesekali, setiap kalipun nggak apa-apa kok. Apa loe sudah mulai cinta juga ya sama gwe? secara gwe ini ganteng kan?" canda Ronald lagi.
"Hem, pede amat loe. Gwe mah nggak suka dengan cowok yang terlalu kepedean dech," ucap Nara seraya pandangan beralih ke arah lain.
"Maaf, gwe kan cuma bercanda. Kenapa loe anggap serius dan ngambek seperti itu?"
"Siapa yang ngambek, gwe kan nggak ngambek kok. Gwe berkata apa adanya tentang diri gwe, bro."
Sejenak keduanya menjadi diam, hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah Nara. Mereka langsung turun, dan tak lupa Ronald mengeluarkan sepeda Nara.
Ibu Resy yang melihat Nara bersama pria tampan menjadi heran.
"Siapa pemuda itu, sepertinya aku baru pertama kalinya bertemu? lantas bagaimana dengan hubungan asmara Nara dan Ara?" batin Ibu Resy.
"Siang, Tante." Ronald menyalami ibunya Nara.
"Bu, ini Ronald. Teman baruku di kelas, dia pindahan dari Amerika," ucap Nara memperkenalkannya.
"Oh pantes saja, dari tadi ibu melihat kok belum pernah lihat Nan Ronald. Silahkan duduk ya, ibu sedang banyak pesanan laundry. Ibu tinggal dulu ya." Ibu Resy berlalu pergi meninggalkan Ronald dan Nara.
Sementara dari jauh datang mobil Ara tepat dia parkir di sebelah mobil Ronald. Hal ini membuat Ronald kesal tapi dia mencoba menahan rasa amarahnya.
"Ngapain loe kemari, apa loe masih belom paham dengan apa yang gwe katakan sama loe hah?" bentak Nara kesal.
Bahkan ucapannya terdengar di ruang laundry milik ibunya. Hingga ibunya juga sempat keluar.
"Kenapa Nara marah-marah ya?" ibunya terus saja mengamati dari jauh.
"Loh itu kan, Ara? jadi Nara sedang marah dengan Ara, ada apa ya? apa sedang terjadi cinta segitiga ya?" gumam nya penasaran.
"Nara, gwe ingin main ke rumah loe masa nggak boleh sih?" ucap Ara.
"Nggak! pergi sana cepat!" bentak Nara.
__ADS_1
"Nara, kamu nggak boleh kasar seperti itu," ibunya tiba-tiba datang melerai.
"Ibu, katanya sedang sibuk? lantas kenapa malah kemari?" tanya Nara.