
Pagi menjelang Nara pun sudah siap untuk ke rumah sakit ya benar-benar ingin mendampingi operasi Tara.
"Nara, kamu sebaiknya ke rumah sakit biar diantar sama ayah saja jangan naik transportasi umum biar lebih cepat juga dan lebih efisien," saran Bu Resy.
"Iya Nara, kamu sama ayah ya sekalian ayah berangkat kerja. Ayah tidak bisa menemanimu nggak apa-apa kan hanya mengantarmu saja?" ucap ayahnya ragu.
"Iya, nggak apa-apa kok ayah."
Saat itu juga Ayah Bimo dan Nara pergi menuju ke rumah sakit di mana saat ini Tara akan menjalani operasi.
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di rumah sakit tersebut akan tetapi ayah Bimo tidak ikut masuk ke dalam dia hanya mengantar Nara sampai di depan pelataran rumah sakit.
Nara lekas berlari kecil menuju ke ruang rawat Tara akan tetapi salah satu perawat mengatakan bahwa pasien yang bernama Tara baru saja dibawa ke ruang operasi untuk segera menjalani proses operasi. Hingga pada akhirnya Nara pun mencari ruang operasi tersebut dan dia mendapati orang tua Tara juga sudah ada di depan ruang operasi dalam kondisi panik cemas gelisah dan selalu murung.
Nara tak berani berkata apapun dia hanya mengulas sebuah senyuman lantas dia ikut duduk di samping orang tua Tara untuk menantikan sampai Tara selesai menjalani operasi tersebut.
Mereka tidak ada yang bicara sama sekali masing-masing asyik dengan pemikirannya begitu pula dengan Nara.
"Ya Allah, aku mohon dengan sangat supaya Engkau melancarkan proses operasi yang saat ini sedang dijalani oleh Tara dan hamba mohon supaya hasil operasi juga memuaskan supaya Tara segera bisa pulih seperti setia kala kembali. Supaya dia bisa sekolah bersamaku lagi, bercanda ria bl bersamaku lagi."
Demikianlah doa Nara di dalam hati untuk Tara. Dia terus saja memikirkan kondisi Tara yang sampai saat ini belum ada kejelasan. Hingga dua jam berikutnya dokter pun keluar dari ruang operasi tersebut serentak Nara dan orang tua Tara bangkit dari duduknya.
Dok bagaimana hasil operasi untuk anak kami?" tanya Hesa harap cemas.
"Alhamdulillah hasil operasinya lancar, kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah yang membeku di dalamnya. Tetapi untuk proses penyembuhannya juga tidak instan membutuhkan waktu yang cukup lama apalagi ini menyangkut soal kepala," ujar sang dokter.
__ADS_1
"Lantas apakah ada efek samping dari operasi tersebut?" tanya Hesa kembali.
"Untuk efek samping memang ada, pasien tidak boleh terlalu stres dalam berpikir intinya pasien harus selalu happy supaya tidak mengalami suatu sakit kepala. Karena sakit kepala yang akan dialami oleh pasien itu bukan sakit kepala biasa atau sakit kepala migrain tetapi sakit kepala ini bisa dirasakan berhari-hari."
"Misalkan pada hari ini pasien sedang memikirkan sesuatu hal esoknya dia akan merasakan sakit yang sangat teramat sekali pada kepalanya walaupun pasien sudah tidak memikirkan permasalahan itu tetapi rasa sakit kepalanya tidak akan hilang begitu saja."
Demikian penjelasan dari dokter yang menangani operasi Tara. Kemudian Tara di pindahkan ke ruang rawat kembali dan sementara dokter berpamitan untuk menangani pasien yang lainnya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Engkau telah mengabulkan doaku, sehingga operasi berjalan lancar dan berhasil tanpa ada gangguan apapun," ucap syukur Nara di dalam hatinya.
"Nara, terima kasih ya. Kamu telah menemani Tara selama proses operasi hingga selesai," ucap Hety seraya mengusap bahu Nara.
"Sama-sama, Tante. Oh iya om-tante, aku pulang dulu ya. Aku pasti akan sering datang kemari." Nara menyalami orang tua Tara.
Sebelum Nara keluar dari ruang rawat Tara, ia pun menghampiri Tara yang masih tergolek lemas tak berdaya.
"Tara, loe harus cepat sembuh karena loe punya hutang sama gwe. Loe janji kan, kira akan mengayuh sepeda ke sekolah bersama-sama. Gwe pulang dulu ya, nanti gwe pasti akan datang lagi. Semangat untu segera pulih, Tara. Ada orang tua loe dan gwe yang menunggu kesembuhan, Loe."
Nara mengusap lengan Tara sejenak lalu ia keluar dari ruang rawat Tara.
Nara pulang dengan memesan ojek on line, dan hanya beberapa menit saja telah sampai di rumah nya. Ibunya telah menunggu dirinya karena ingin segera tahu kabar tentang Tara.
"Nara, bagaimana proses operasinya?" tanyanya penasaran.
"Operasi berjalan lancar, hanya saja kata dokter proses penyembuhan yang membutuhkan waktu cukup lama karena lukanya ada di kepala. Dan sampai detik ini, Tara belum juga sadar, Bu," ucap Nara sedih.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ibu ikut lega. Kamu jangan cemas ya, Tara pasti akan segera sadar dan bisa berangkat ke sekolah lagi bersamamu," hibur Resy.
"Amin, iya Bu. Aku sedih karena Tara itu orang yang sangat baik, Bu. Kenapa ya Bu, jika orang baik kok malah alami hal seperti ini ya?" ucap Nara merasa tak ikhlas melihat Tara sakit.
"Nara, kamu tak boleh berkata seperti itu. Setiap orang itu sudah ada jalan hidupnya masing-masing. Jadi kita tidak bisa menolak takdir Allah," ucap Bu Resy mengingatkan.
"Iya juga sih, Bu."
"Bu, untuk sementara waktu produksi cemilan kita hentikan dulu karena nggak enak juga sama orang tua Tara yang sedang fokus di rumah sakit menjaga Tara," ucap Nara.
"Iya, Nara. Kamu benar juga, nanti ibu akan bilang sama para pegawai. Semua akan di lanjutkan jika Tara sudah membaik," Bu Resy menyetujui saran Nara.
Sementara di sekolah guru mengabarkan berita tentang kecelakaan Tara pada semua murid yang ada di kelas. Dan di anjurkan untuk semuanya bergantian menjenguk Tara di rumah sakit.
"Pantas saja Tara tidak terlihat, pasti saat ini Nara tidak masuk sekolah juga sedang ada di rumah sakit. Kasihan sekali, Tara. Sepulang sekolah aku akan menjenguknya," batin Tara.
Dia merasa kehilangan juga pada saat tidak di temui adanya Tara dan Nara. Karena bagaimanapun menurut Ara, hanya Tara dan Nara teman baik mereka.
Jika ia tak menyalahi dulu, pasti persahabatan tidak akan rusak hingga saat ini.
Seperti yang telah dia rencanakan, sepulang sekolah dia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Tetapi dia lupa dimana rumah sakit yang merawat Tara.
Hingga akhirnya dia ke rumah Nara terlebih dulu, dan kebetulan Nara juga sedang bersiap akan ke rumah sakit lagi.
"Nara, loe pasti akan ke rumah sakit kan? bagaimana kalau kita sekalian saja, karena gwe tadi nggak dengerin pada waktu guru mengatakan dimana Tara di rawat. Loe mau kan ke rumah sakit bareng gwe?"
__ADS_1