
"Tara, kenapa kamu malah melakukan kesalahan yang fatal itu? seharusnya kamu lebih percaya pada Nara dari pada hasutan Ara. Mamah yakin, maksud Ara itu biar kamu putus sama Nara dan ia bisa mendekati Nara," ucap Hety.
"Iya, mah. Aku baru sadar apa yang telah aku katakan salah," Tara menghela napas panjang.
"Kalau kamu telah sadar akan kesalahanmu kenapa kamu tidak langsung menghubungi Nara untuk meminta maaf?"
"Pada saat pulang sekolah aku juga mampir ke rumah Nara terlebih dahulu, mah. Tetapi Naranya malah belum sampai di rumah. Lantas aku juga sudah berusaha menghubunginya lewat nomor ponsel tetapi tidak aktif juga," ucap Tara merasa bingung.
"Ya sudah, sekarang kamu sebaiknya mandi-mandi dulu makan-makan dulu. Ingat akan pesan dokter supaya kamu itu tidak terlalu berpikir keras karena akibatnya kepalamu bisa sakit melebihi orang sakit kepala biasa," saran Hety.
Tara pun masuk ke dalam rumah melangkah menuju ke kamarnya lantas dia membersihkan badannya sesuai dengan perintah mamahnya tetapi dia tak bisa begitu saja tak memikirkan, Nara.
"Ya Allah, kenapa aku melakukan sebuah kesalahan terbesar di dalam hidupku? lantas apakah Nara bisa memaafkan aku? aku sangat takut kehilangannya karena dia benar-benar gadis yang berbeda dari gadis lainnya," gerutunya penuh dengan penyesalan.
Saat ini di rumah Nara, Ayah Bimo baru pulang dari tempat kerjanya dia begitu sumringah karena mendapatkan kabar yang baik dari kantornya. Kegembiraannya sangat terpancar dari wajah Ayah Bimo membuat semua orang yang ada di rumahnya dipenuhi oleh tanda tanya.
"Ayah, sepertinya ayah sedang bahagia sekali apa mendapatkan kenaikan gaji ya," canda Bu Resy mencolek lengan suaminya.
"Bukan hanya kenaikan gaji, bu. Ayah naik jabatan, Bu. Alhamdulillah mulai besok ayah menjabat sebagai direktur utama tapi bukan kantor yang ada di sini," ucap Ayah Bimo.
"Lantas jika bukan di kantor sini di kantor mana, ayah?" tanya Bu Resy.
"Di luar kota, dan harus berangkat besok pagi-pagi sekali. Jadi kita harus berkemas malam ini juga," ucap Ayah Bimo.
"Ayah, lantas bagaimana dengan sekolahku dan Dika?" tanya Nara bingung.
__ADS_1
"Pindah kan nggak apa-apa," ucap Ayah Bimo.
"Ayah di sana sudah di berikan fasilitas rumah, mobil. Dan bahkan pihak perusahaan mau membantu mengurus kepindahan sekolah kalian berdua. Jadi ayah tak bisa menolak. Kapan lagi kita dapat kesempatan emas seperti ini, Bu. Bisa untuk merubah masa depan kita," ucap Ayah Bimo antusias.
"Hem, lantas bagaimana usaha cemilan Nara?" tanya Bu Resy.
"Nggak apa-apa, Bu. Kita bisa memulai di sana dari nol dan aku yakin di sana usaha cemilan aku akan lebih maju," ucap Nara.
Dia sudah terlanjur sakit hati dengan ketidak percayaan dari Tara terhadapnya. Padahal dia benar-benar tulus cinta padanya, tetapi malah di ragukan. Tara lebih percaya pada hasutan Ara dari pada dirinya.
Makanya ini kesempatan yang bagus buat Nara untuk menjauh dari Tara. Dia benar-benar kecewa padanya.
Saat itu juga setelah usai makan malam bersama semua anggota keluarga Nara berkemas-kemas supaya besok pagierwka tidak terburu-buru. Dan rumah itu untuk sementara di kosongkan dulu sebelum ada yang bersedia menyewa.
Tak terasa pagi menjelang, semua telah siap. Mereka segera berangkat dengan bantuan dari beberapa teman Ayah Bimo yang memiliki mobil. Mereka mengantarkan keluarga Nara ke kota lain dimana Ayah Bimo mendapatkan pekerjaan baru.
"Loh, kok rumah Nara sepi sekali ya?"
Tara memberanikan diri bertanya pada tetangga dekat Nara. Dan pada saat dia tahu Nara dan keluarganya pindah ke luar kota, dia begitu shock dan mengurungkan niatnya pergi ke sekolah.
"Loh, Tara. Kok kami balik lagi, apa ada yang tertinggal?" tanya Hety.
"Nggak ada kok, mah. Aku libur lah nggak ke sekolah dan sepertinya aku takkan ke sekolah lagi."
Tara menjatuhkan pantatnya di kursi teras halaman.
__ADS_1
"Loh memangnya kenapa kamu nggak mau berangkat ke sekolah, apa karena teman-temanmu yang mengejekmu?" tanya Hety penasaran.
"Bukan itu mah, aku nggak semangat ke sekolah karena Nara sudah nggak mungkin lagi sekolah bersamaku," ucap Tara murung.
"Memangnya Nara masih marah sama kamu dan nggak mau diajak ke sekolah bareng?" tanya Hety lagi.
"Lebih parah dari itu mah, tadi pada saat aku ingin mengajak Nara berangkat ke sekolah bersama, ternyata pagi-pagi sekali Nara dan keluarganya telah pindah. Kata tetangga sih keluar kota tapi tetangga itu tak mengatakan di mana tempatnya kota apa," ucap Tara.
"Memangnya untuk apa mereka ke luar kota? oh...atau mungkin mereka hanya ingin menyinggahi rumah saudara mereka mungkin, Tara. Kenapa kamu menjadi khawatir seperti itu besok-besok juga mereka akan kembali lagi bukan?"
"Sepertinya mereka tidak akan kembali lagi kemari, mah. Karena menurut kata tetangga Om Bimo mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kota tersebut yakni menjadi direktur utama hingga mereka memutuskan untuk pindah ke kota itu," ucap Tara sedih.
"Ya sudah kamu nggak usah bersedih seperti itu suatu saat nanti pasti kalian bisa bertemu lagi. Kan kalian masih bisa komunikasi lewat ponsel, jadi tak usah cemas seperti itu," ucap Hety menghibur Tara.
"Entahlah, mah. Tapi sepertinya aku tidak akan berangkat ke sekolah lagi tidak ada yang menyemangati aku untuk ke sekolah." Tara bangkit dari duduknya dia melangkah masuk menuju ke kamarnya.
Kini dia telah benar-benar kehilangan cinta sejatinya dia merasa hal itu karena kesalahannya sendiri padahal kepindahan keluarga karena pekerjaan Ayah Bimo.
Menjelang siang hari, Tara mencoba menelepon ponsel Nara akan tetapi nomor ponselnya tidak aktif kembali hal ini membuat Tara semakin berputus asa.
Bahkan dia tak mau keluar kamar sama sekali melewatkan makan siangnya keceriaannya telah hilang kembali.
Ketidakhadiran Nara di sekolah juga menjadi tanda tanya bagi Ara.
"Kenapa hari ini baik Nara maupun Tara tidak masuk sekolah ya? ada apa gerangan dengan mereka berdua masa iya sakit berbarengan?" batin Ara penasaran.
__ADS_1
Hingga dia pun memutuskan untuk segera menyambangi rumah Nara seusai dia pulang sekolah. Setelah mendapati kabar bahwa Nara telah pindah ke luar kota dari salah satu tetangga nya hati Ara begitu teriris-iris.
"Ternyata Nara tidak masuk sekolah bukan karena sakit tetapi dia dan orang tuanya pindah ke luar kota. Pupus sudah harapan aku untuk bisa mendapatkan cinta Nara kembali," rasa kecewa terpancar di wajah Ara.