Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Minta Bantuan


__ADS_3

Mendengar cerita dari Willdan, orang tuanya ikut kesal.


"Lah kok Tya datang hanya untuk cerita seperti itu maksudnya apa?" tanya Mamah Rifda.


"Ya ampun, mah. Masa iya mamah nggak tahu sih? Tya ingin supaya Willdan iba padanya dan anak kita ini mau kembali padanya," ucap Papah Rendra menjelaskan.


"Idih, amit-amit. Jangan mau Willdan, sudah janda bolong seperti itu datang lagi mengemis cinta darimu. Mamah nggak akan setuju kalau kamu sampai kembali lagi pada Tya!" ucap lantan Mamah Rifda.


"Mah, siapa pula yang akan menerima Tya lagi. Aku juga sudah tak ingin bertemu dengannya lagi. Justru saat ini aku sedang PDKT dengan Nara. Aku ingin Nara yang menjadi pendamping hidupku, bukan si mantan Tya itu," ucap Willdan.


"Nah, kalau Nara mamah pasti setuju dan dukung seratus persen dech. Bahkan mamah siap sedia bantu kamu untuk bisa mendapatkan cintanya Nara," ucap Mamah Rifda sangat antusias seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.


Sementara Papah Rendra hanya senyum senyum saja melihat tingkah istrinya yang barusan marah, kini langsung berubah tersenyum pada saat mendengar kata Nara di sebut.


"Asik, tapi beneran ya mamah bantu aku. Jika perlu, papah juga dong bantu aku supaya lekas bisa menikah dengan Nara," ucap Willdan seraya menaik turunkan alisnya menatap Papahnya.


"Hadeh, yang seperti itu urusan mamah. Masa iya papah ikutan comblangin kamu? nggak mau ah, biar mamah saja," tolak Papah Rendra membuat mulut Wildan berubah manyun.


"Bagaimana kalau sekarang juga kita ke toko oleh-oleh Nara, pastikan Nara masih di kampusnya kita bisa bercerita secara nyaman dengan ibunya Nara, supaya ia juga membantu kita untuk bisa mendekatkanmu lebih dekat lagi dengan anaknya," saran Mamah Rifda.


"Wah, ini adalah usul yang sangat bagus mah. Aku sangat setuju, ayo kita berangkat ke sana sekarang juga," ajak Wildan antusias.


Namun pada saat Wildan dan Mamah Rifda akan bangkit dari duduknya tiba-tiba mereka melihat seseorang yang tak asing lagi datang yakni, Tya.


"Mah, lihat wanita yang tak tahu malu itu malah datang kemari. Pasti rencananya untuk meminta bantuan mamah atau papah supaya bisa kembali lagi padaku," ucap Willdan seraya menatap tak suka dengan kedatangan Tya.

__ADS_1


"Mampus dech, kenapa pula Wildan ada di rumah? bukannya dia ada di kantor? padahal aku ingin meminta tolong pada orang tuanya supaya mau membujuknya dan untuk bisa memaafkanku dan menerimaku kembali," batin Tya mulai gelisah dan panik pada saat melihat ada Willdan di rumah.


"Halo Tante-Om, bagaimana kabar kalian?" sapa Tya menyunggingkan senyuman seraya mengulurkan tangannya mengajak orang tua Wildan bersalaman.


Akan tetapi tidak satupun baik mamahnya atau papahnya yang merespon uluran tangan darinya, hal ini membuatnya menjadi semakin bertambah panik dan salah tingkah.


"Om-tante, maksud kedatangan saya kemari...


"Kami sudah tahu maksudmu kemari, dan kami rasa tak perlu lagi kamu berharap banyak dari Willdan. Kami juga ikut merasakan sakit hati atas perlakuanmu dulu pada Willdan, jadi tak mungkin kami akan memberikan lampu hijau untuk dirimu bisa kembali pada Willdan," ucap Papah Rendra memotong perkataan Tya yang belum selesai.


"Om, tolong jangan seperti ini. Tante, aku mohon," pinta Tya dengan mata berkaca-kaca.


"Willdan, ayok kita pergi sekarang juga." Mamah Rifda sama sekali tak merespon Tya, ia justru bergelayut di lengan anaknya.


Ibu dan anak ini berlalu pergi begitu saja meninggalkan Tya yang masih saja terpaku menatap kepergian mereka.


Namun Papah Rendra malah masuk ke dalam rumah dan menguncinya dari dalam.


"Apes dech aku, ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Semua menolakku seperti ini, apa aku harus berusaha lagi atau aku sudahi saja ya?" batin Tya mulai putus asa karena usahanya untuk bisa mendapatkan cinta Willdan lagi gagal total.


Akhirnya Tya melangkah pergi dari pelataran rumah Wildan dengan penuh rasa kecewa yang sangat mendalam.


Sementara saat ini Wildan dan Mamah Rifda dalam perjalanan menuju ke toko oleh-oleh milik Nara. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di pelataran toko tersebut. Kebetulan sekali tokonya baru dibuka sehingga mereka langsung disambut manis oleh, Resy.


"Wah Mbak Rifda-Nak Wildan, pagi sekali kalian datang kemari. Maaf ya tokonya malah baru di buka. Yuk kita masuk dulu," ajak Bu Resy.

__ADS_1


"Kami kemari karena ingin ngobrol dengan, Mba Resy. Jadi kami sengaja datang lebih pagi, biasa kalau siang kan Mba sedang repot dan di sibukkan mengurus para pembeli," ucap Mamah Rifda.


"Oh iya benar sekali, Mba. Memangnya ingin ngobrol apa, kok aku jadi deg-degan gini ya?" ucap Bu Resy terkekeh.


"Ini, Mba Resy. Diam-diam anak sulung saya ini suka sama Nara katanya sejak awal bertemu di kampus pada saat ia mengajar kelas Nara," ucap Mamah Rifda.


"Hem, maaf ya mba kami lancang. Apakah kiranya mba setuju jika misalkan suatu saat nanti anak kita ini berjodoh?" tanya Mamah Rifda agak canggung.


"Alhamdulillah, saya akan sangat setuju sekali jika Nara bisa berjodoh dengan Nak Willdan. Sudah baik, tampan pula," ucap Bu Resy.


"Alhamdulillah, terima kasih jika Mba Resy mau menerima anak saya ini. Mba kami ingin minta bantuan, supaya Nara bisa membuka hati nya untuk Willdan," ucap Mamah Rifda.


"Dengan senang hati, saya akan bantu Nak Willdan. Mba Rifda nggak usah khawatir, anak saya itu penurut juga tak banyak tingkah. Pasti ia akan mau dengar saran saya, tapi sebelumnya saya minta maaf. Anak saya kan tak mudah jatuh cinta dan sifatnya agak keras, jadi tidak langsung instan jika ingin mendapatkan hatinya."


"Jadi walaupun saya telah bantu, bukan berarti semuanya akan lancar begitu saja. Tapi ini semua juga tergantung dengan hati Nara karena ia yang menjalaninya."


Mendengar apa yang di katakan oleh Bu Resy, tak lantas membuat hati Wildan putus asa, ia justru antusias akan selalu berusaha keras untuk bisa mendapatkan cinta dari Nara.


"Iya, Tante. Aku juga nggak buru-buru, yang penting Nara tahu jika aku ini ada rasa padanya. Terima kasih ya Tante, sudah bersedia untuk mau membantuku," ucap Willdan senang.


"Sama-sama, Nak Willdan. Sebenarnya tak perlu berterima kasih karena saya juga belum bergerak membantu bukan?" canda Bu Resy terkekeh.


Sejenak mereka bertiga bercengkrama dalam waktu yang lumayan lama. Hingga satu jam berlalu barulah Wildan dan Mamah Rifda berpamitan pulang.


Seperginya mereka, Bu Resy tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Semoga saja Nara dan Willdan berjodoh. Aku sangat yakin jika Willdan itu baik, tidak seperti Tara dan Ara," batin Bu Resy.


__ADS_2