
Sebenarnya Nara sangat kesal tetapi dia sengaja tak menunjukkan rasa kekesalannya tersebut. Dia mencoba bersikap santai di hadapan Tara dan mamahnya.
"Nara, tolong dengarkan dulu penjelasan Tante ya. Tante tahu saat ini kamu pasti sedang sangat marah pada, Tara. Tetapi Tara melakukan ini karena ada alasannya," ucap mamahnya Tara.
"Iya, Tante."
"Tara, sebaiknya kamu yang bicara sendiri pada Nara. Biar mamah masuk ya." Mamahnya masuk karena tak enak jika turut campur urusan anaknya. Dia juga meminta asisten rumah tangganya untuk menyajikan minuman dan cemilan untuk Tara dan Nara.
"Nara, gwe tahu loe pasti marah banget sama gwe. Tapi gwe tak ada niat jahat sama loe," Tara merasa tak enak hati.
"Jujur memang gwe sangat kecewa sama loe, kenapa loe begini sama gwe, Tara? padahal selama loe pergi, gwe mati-matian cari loe. Bahkan saat ini gwe kemari juga karena ingin cari loe," ucap Nara kesal.
"Nara, gwe minta maaf ya. Gwe melakukan ini karena ada alasannya," ucap Tara bingung bagaimana dia akan mengatakan pada Nara.
"Nara, pada saat itu gwe kecewa banget sama loe dan kebetulan papah ada bisnis di luar negeri. Kita putuskan untuk ke luar negeri. Kami sempat berpikir akan pindah ke sana tetapi gwe tak bisa, Nara."
"Gwe di sana malah sakit-sakitan dan selalu ingat loe. Tapi gwe minder dengan diri gwe, setelah hinaan dari Ara yang mengatakan bahwa gwe ini cupu."
"Hingga pada akhirnya orang tua ajak kembali kemari karena papah dan mamah juga lebih betah di sini. Atas saran dari papah, gwe rubah penampilan supaya bisa dekat dengan loe."
"Jujur, Nara. Dari dulu hingga kini gwe itu cinta dan suka sama loe, tetapi gwe minder dengan diri gwe."
"Tapi sejak gwe menjadi Ronald, tak ada rasa minder lagi pada loe. Nara, gwe minta maaf ya?"
Mendengar ketulusan Tara dalam berkata, Nara pun tak tega padanya. Apalagi dia juga punya salah dulu pada, Tara.
"Ya sudahlah, tak usah di bahas lagi. Justru gwe yang banyak salah sama loe, apakah loe mau maafin gwe, Tara?" ucap Nara tertunduk lesu.
"Bagi gwe, loe itu nggak punya salah sedikitpun. Jika gwe marah sama loe, mana mungkin gwe sampai rela menyamar jadi Ronald?" ucap Tara menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Berarti loe sudah maafin gwekah?" tanya Nara ragu.
"Ya ampun, Nara. Sudah gwe bilang, loe nggak punya salah sama sekali. Jadi tak ada yang perlu di maafkan dong. Justru gwe yang seharusnya minta maaf ke loe, telah menyamar sebagai Ronald,' ucap Tara.
"Gwe sudah maafin loe, Tara."
"Lantas setelah loe tahu kalau Ronald adalah Tara. Loe mau gwe jadi siapa?" tanya Tara terkekeh.
"Jadi diri loe sendiri saja, loe nyaman jadi siapa terserah loe. Yang penting gwe sudah tahu jika loe itu Tara. Gwe sudah tenang dan bisa tidur nyenyak karena sudah minta maaf. Coba dari awal loe katakan bahwa loe itu Tara, pasti gwe sudah tenangnya dari dulu," ucap Nara manyun.
"Hem, baiklah Tuan Putri. Kalau begitu gwe akan tetap menjadi Ronald," ucap Tara meyakinkan.
"Apa alasan loe tetap menjadi Ronald?" tanya Nara heran.
"Karena jika gwe tetap menjadi Ronald akan selalu mendapatkan perhatian dari loe dan semua orang," ucap Tara kekeh.
"Hem, begitu ya. Memangnya dulu waktu loe menjadi Tara, gwe nggak perhatian sama loe, kita kan berteman baik?" Nara protes dengan apa yang di katakan oleh, Tara.
Mendengar akan hal itu, Nara tiba-tiba dia dan wajahnya berubah menjadi sangat murung, hal ini membuat Tara menjadi tak enak hati padanya.
"Nara, gwe minta maaf ya? bukan maka maksud gwe bikin loe sedih" ucap Tara.
"Nggak apa-apa kok, memang apa yang loe katakan barusan ada benarnya. Justru gwe yang meminta maaf kepada loe tentang kelakuan gwe dulu pada loe. Gwe sekarang sadar, memang dulu gwe itu lebih condong perhatiannya ke Ara dari pada ke loe," ucap Nara tertunduk.
"Sudahlah, Nara. Yang lalu biar berlalu, kita sambut saja hari yang baru yang. Tolong jangan cuekin gwe lagi misalkan gwe ini kelak berubah menjadi Tara lagi," canda Tara terkekeh.
Berkat kegigihan Tara dalam menjelaskan pada Nara tentang alasan kenapa dirinya menyamar sebagai Ronald. Nara pun hanya sebentar saja marah padanya.
Kini Tara sudah tenang karena penyamarannya sudah di ketahui oleh Nara. Dia tenang karena Nara marahnya hanya sebentar saja.
__ADS_1
Nara cukup lama ada di rumah Tara bahkan kini mereka sudah tak murung lagi, tetapi sama-sama cerita keseruan mereka pada saat tidak bersama.
Tara cerita keseruannya pada saat Tara tak ada di sekolah. Dan Tara cerita keseruannya pada saat dirinya berada di luar negeri.
Tawa riang dan canda tawa kini terdengar nyaring dari ruang tamu. Hingga Mamahnya Tara mendengarnya, dia pun ikut merasa bahagia dan mengucap syukur di dalam hati.
"Alhamdulillah, kini anakku sudah bisa lega tanpa harus menyamar lagi. Dan Nara juga sudah memberikan pintu maaf pada, Tara. Hem, dunia anak muda memang tak bisa di tebak. Dimana para pemainnya baik wanita maupun pria sama-sama labil."
"Semoga kedepannya hubungan antara Tara dan Nara akan terjalin lebih baik lagi. Tanpa ada halangan lagi yang membuat Tara tersisih begitu saja."
Mamahnya Tara terus saja menggerutu di dalam hatinya. Dia juga terus mesam mesem sendiri.
Waktu berjalan cepat sekali, Nara tak sadar jika dirinya begitu lama bermain di rumah Tara.
"Astaghfirullah aldazim, maafkan gwe Tara. Terlalu lama berada di rumah loe nggak sadar sudah dua jam gwe ada di sini. Panggilan mamah loe, gwe akan pamitan pulang," pinta Nara.
"Nggak masalah, gwe malah senang loe ada di sini lama bahkan nginep pun malah gwe akan semakin suka. Sebentar ya gwe panggil mamah dulu."
Tara masuk ke dalam rumah untuk memanggil mamahnya.
Tak berapa lama mamahnya telah ada di hadapan Nara. Nara segera berpamitan pulang dan tak lupa mencium punggung tangan mamahnya Tara.
"Tara, kamu antar Nara pulang sampai rumah sana!" pinta mamahnya.
"Siap, mah. Dengan senang hati."
"Tante-Tara, nggak usah repot-repot. Lagi pula aku akan bawa sepeda juga,' tolak Nara secara halus.
"Nara nggak usah sungkan ya. Jika memang kamu sudah memaafkan Tara," pinta mamahnya lagi.
__ADS_1
Hingga Nara sudah tidak bisa menolak lagi.Dia pun menerima kebaikan Tara dengan di antarkan pulang.