Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Masih Tak Percaya


__ADS_3

Nara sudah terbiasa berhadapan dengan para teman wanitanya yang selalu mengajaknya ribut.


Ronald sama sekali tak mempermasalahkan sifat Nara tersebut. Menurut dia itu adalah wajar karena seorang Nara adalah gadis yang tak suka harga dirinya direndahkan diinjak-injak oleh orang lain. Ronald sangat memahami jika sebenarnya Nara itu adalah gadis yang sangat baik dan sangat pintar.


"Aku kagum padamu Nara, walaupun kamu selalu diejek dibully dihina oleh semua gadis yang ada di sekolahan ini tetapi kamu tidak pernah mewek atau menangis di depan mereka. Kamu bahkan membalas mereka dengan keberanianmu," batin Ronald.


Seperti biasanya Nara pulang dengan Ronald. Tetapi kali ini Ronald hanya diam saja, ia sedang memikirkan apakah ia akan berkata jujur sekarang pada Nara ataukah dia akan berkata jujur kelak saja.


"Ronald, kenapa gwe perhatikan dari tadi di sekolah loe itu selalu diam saja apakah ada yang sedang loe pikirkan saat ini? coba loe ceritakan pada gue siapa tahu gue bisa kasih sebuah saran," ucap Nara penasaran.


"Gwe nggak apa-apa kok, cuma sedang sedikit pening saja," ucap Ronald bohong.


"Pasti loe kecapean karena bantuin gwe buat cemilan dan nemenin belanja dan antar jemput gue setiap hari. Sebaiknya mulai sekarang loe kurangi aktivitas loe untuk bantu gue deh, pasti loe nggak akan gampang capek seperti ini," saran Nara.


"Nggak begitu juga kali, sudah loe nggak usah memikirkan apa yang sedang gwe rasakan karena gwe nggak apa-apa kok," ucap Ronald.


"Sepertinya ada yang sedang di sembunyikan oleh Ronald, tapi apa ya? lantas bagaimana caranya supaya aku tahu apa yang sedang saat ini dipikirkan oleh Ronald ya?" batin Nara, ia telah bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya saat ini sedang disembunyikan oleh Ronald.


"Apa sebaiknya aku ke rumahnya saja ya? selama ini kan aku belum pernah ke rumahnya," batin Nara.


"Aku baru sadar jika selama aku kenal Ronald, sama sekali belum tahu di mana rumahnya," batin Nara.


Dia sudah memutuskan untuk menyambangi rumah Ronald.


"Ronald, gwe kan belum pernah main ke rumah loe. Bagaimana jika sekarang juga gwe main ke rumah loe, gwe juga ingin bertemu dengan nyokap bokap loe. Sekalian gwe ingin sharing-sharing tentang usaha cemilan gwe," ucap Nara yang membuat Ronald yang sedang melamun terhenyak kaget dan mendadak menginjak rem mobilnya hingga Nara hampir saja terbentur ke depan kaca.


"Astaghfirullah aldazim, Ronald. Loe kenapa sih, bahaya tahu," ucap Nara kesal.


"Maafkan gwe, Nara."


"Loe ada apa sih? di tanya malah seperti ini?" Nara terus saja memojokkan Ronald.


Sedangkan Ronald menjadi tambah panik pada saat Nara ingin main ke rumahnya.

__ADS_1


"Nara, gwe minta maaf ya. Sampai detik ini gwe belum ajak loe ke rumah gwe. Lagi pula beberapa hari ini orang tua gwe sedang sibuk banget. Next time saja yah, nggak apa-apa kan? lagi pula rumah gwe jauh juga, nanti menyita waktu loe. Bukannya loe itu sedang sibuk membuat cemilan kan?" ucap Ronald.


"Hem, baiklah kalau begitu."


Ada raut kecewa pada wajah Nara atas penolakan dari Ronald.


"Aneh, kenapa aku nggak di izinkan main kerumahnya. Aku kok malah jadi semakin bertambah penasaran dengan kehidupan pribadi Ronald," batin Nara.


Tak berapa lama sampai juga mobil Ronald di pelataran rumah, Nara. Nara pun lantas keluar dari mobil Ronald.


"Thanks ya, loe hati-hati pulangnya."


Nara melambaikan tangannya seraya tersenyum ke arah Ronald.


Ronald hanya menyunggingkan senyuman pada Nara tanpa ada sepatah katapun. Ronald lekas melajukan mobilnya arah pulang.


Beberapa menit kemudian, Ronald telah sampai di rumah. Dia keluar dari mobil dengan penuh kegelisahan.


"Tara, sebenarnya ada apa lagi? kok kamu terlihat murung seperti itu?" tanya mamahnya curiga.


Mendengar apa yang di katakan oleh Ronald, mamahnya hanya tersenyum.


"Mah, aku sedang bingung malah mamah ini tersenyum seperti itu?" Ronald manyun.


"Tara, bukannya dari awal mamdh sudah katakan. Sebenarnya kamu itu tak perlu menyamar seperti ini. Seharusnya apa adanya saja, malah tidak akan pusing sendiri," ucap mamahnya.


"Iya juga sih mah. Tapi kan semuanya sudah terlanjur seperti ini. Lantas aku bisa apa, mamah?" Ronald mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Menurut mamah jujur saja dari sekarang supaya hatimu tenang dan tidak terus di hantui rasa cemas gelisah panik seperti itu," ucap Mamahnya terus saja menasehati anaknya.


"Baiklah,. mah. Besok deh aku jujur pada Nara. Aku juga sudah lelah menyimpan kebohongan ini," ucap Ronald.


"Nah begitu kan baru anaknya mamah."

__ADS_1


Ronald sudah tidak bisa lagi menyimpan rahasia tersebut. Dia pun memutuskan untuk jujur pada Nara tentang siapa dirinya.


********


Pagi menjelang, kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Dan Nara memutuskan untuk sejenak bersepeda berkeliling. Dia pun tiba-tiba ingin bersepeda melihat rumah Tara.


"Entah kenapa hati ini ingin sekali ke rumah Tara. Semoga saja Tara sudah kembali lagi ke rumahnya karena rumahnya tidak ada yang membeli," batin Nara.


"Nara, pagi sekali kamu mengeluarkan sepeda memangnya mau kemana?" tanya Bu Resy.


"Bu, aku izin ya. Ingin sekali bersepeda." Nara menyalami ibunya.


Diapun langsung mengayuhkan sepedanya menuju ke arah rumah Tara. Perjalanan ke rumah Tara memakan waktu tiga puluh menit. Dan pada saat Nara telah sampai, dia terhenyak kaget melihat sosok yang dia kenal.


"Itu bukannya Ronald, kenapa ada di rumah Tara? apakah rumah Tara ini di beli oleh orang tua, Ronald?" batin Nara di penuhi oleh tanda tanya.


Dia lebih terkejut lagi pada saat melihat seorang wanita sedang berada di samping Ronald.


"Itu kan Mamahnya Tara, lantas kenapa bisa sedekat itu dengan Ronald."


Nara pun memberanikan diri mendekat ke rumah Tara.


"Tante-Ronald, kok kalian saling kenal?" tanya Nara yang membuat Ronald dan mamahnya terhenyak kaget.


"Nara, sini kemari dan duduk bersama kami. Kebetulan sekali kami juga ingin bicara padamu," ucap mamahnya Tara.


Nara pun duduk di teras rumah bersama Ronald dan mamahnya. Wajah Ronald sudah sangat panik dan cemas.


"Nara, di sini tante ingin minta maaf sama kamu."


"Minta maaf, memangnya Tante salah apa ya?" tanya Nara heran.


"Nara, Tante minta maaf atas nama Tara. Sebenarnya yang selama ini bersama kamu itu adalah Tara," ucap Mamahnya Tara.

__ADS_1


"Apa Tante, Jadi Ronald ini adalah Tara? bagaimana bisa jadi seperti ini?" Nara masih saja tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mamahnya Tara.


__ADS_2