
Bu Resy sangat kecewa karena Nara telah berbohong padanya dengan tidak Nara yang sebenarnya padanya.
Pada saat orang tua Tya berpamitan pulang, barulah Bu Resy berkata banyak hal.
"Nara, kenapa kamu telah berbohong pada ibu? kenapa kamu mengatakan jika kamu terjatuh dari motor?" tanya Bu Resy kesal.
"Maafkan aku, Bu. Bukan maksud aku ingin berbohong pada ibu. Jika aku berkata jujur, pasti ibu khawatir. Dan aku pikir ini juga cuma ulah preman biasa karena aku lewat jalan pintas yang memang menurut orang rawan kejahatan," ucap Nara tertunduk lesu.
"Jika kamu tahu jalan itu rawan kejahatan kenapa pula kamu tak melewati jalan yang biasa kamu lewat?" tanya Bu Resy heran.
"Karena waktu sudah agak siang, aku nggak mau terlambat sampai ke kampus," jawab Nara masu saja menunduk.
"Jika waktu itu Nak Wildan tidak lewat jalan sepi itu, pasti kamu tidak akan tertolong. Dan kenapa pula Nak Wildan juga tak mau jujur pada ibu!" Bu Resy masih saja belum bisa menerima kebohongan Nara.
"Bu, jangan menyalahkan Mas Wildan. Karena sebenarnya waktu itu Mas Wildan akan berkata jujur pada ibu tetapi justru aku yang melarangnya," ucap Nara.
"Aku juga tabu jika kejadian yang telah menimpaku ternyata di selidiki oleh Mas Wildan," ucap Nara kembali.
"Ya sudah, kali ini ibu maafkan kamu. Tapi ibu tak ingin kamu berbohong lagi untuk hal apa pun. Bukankah ibu selalu ajari kamu untuk selalu jujur," ucap Bu Resy.
"Iya, Bu. Aku minta maaf, aku pikir berbohong demi kebaikan supaya ibu tak khawatir," ucap Nara.
"Hallahh ada-ada saja kamu, Nara. Yang namanya berbohong itu bukan untuk kebaikan, berbohong ya tetap tak baiklah," protes Bu Resy.
Selagi mereka berdebat terus, pulanglah Ayah Bimo untuk makan siang. Ia begitu terkejut melihat kondisi wajah dan lengan Nara. Sontak saja ia bertanya banyak hal pada Bu Resy dan Nara.
Dan Bu Resy yang menceritakan semuanya pada Ayah Bimo. Sedangken Nara hanya menjadi pendengar setia saja.
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, pantas saja ayah tak tenang di kantor Bu. Makanya ayah sengaja makan siang di rumah karena ingin tahu kondisi kalian juga," ucap Ayah Bimo seraya menghela napas panjang.
"Padahal ibu baru saja ingin bertanya kenapa ayah tumben siang pulang, eh ternyata karena khawatir dengan kami ya," ucap Bu Resy.
"Iya, Bu. Bahkan dari lagu entah kenapa ayah was-was terus dan yang ada di pikiran ayah itu rumah sangat. Ayah tahan dech ingin cepat pulang, karena kebetulan banyak kerjaan. Kalau tidak pasti sudah pulang dari pagi, Bu." Ical Ayah Bimo.
"Ya sudah, ayok kita makan siang dulu. Kamu juga Nara, sekalian makan. Nanti ibu obati lagi luka-lukamu itu. Dan pastinya sebentar lagi pihak kepolisian akan datang kemari pastinya untuk mengecek kondisimu," ucap Bu Resy.
Ayah Bimo, Nara, dan Bu Resy masuk ke dalam rumah. Mereka makan siang bersama, hanya adik Nara saja yang tak ikut karena belum pulang dari sekolah.
Selagi makan siang, mereka melanjutkan obrolannya.
"Jika seperti ini, ayah mau izin kerja setengah hari saja. Kebetulan urusan kantor sudah kelar tadi, jadi waktunya tidak begitu sibuk."
"Ayah akan dampingi Nara untuk kasus ini. Ayah nggak ingin orang yang telah berbuat seperti ini tetap berkeliaran."
"Ayah sangat yakin, jika Wildan tak menyelidiki. Suatu saat bisa terjadi hal ini lagi pada Nara. Kamu bisa di serang lagi."
"Intinya kejahatan harus di tuntas. Dan siapapun yang melakukan tindak kriminal harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya pada aparat hukum."
"Negara ini negara yang berlandaskan hukum. Jadi tidak seenaknya manusia melakukan kejahatan."
"Jangan hanya karena orang tua si pelaku kemari dan meminta maaf padamu. Lantas kamu membiarkan dirinya bebas begitu saja."
"Ayah tidak akan setuju dengan hal itu. Intinya biarkan saja si pelaku itu mendekam di penjara supaya ia jera."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayah Bimo, sebenarnya Nara kurang setuju. Ia sempat merasa iba juga melihat raut wajah orang tua Tya.
__ADS_1
"Ayah, Allah saja pemaaf. Masa aku tidak? aku nggak tega jika seseorang wanita masuk di dalam penjara," ucap Nara.
"Nara, entah itu wanita atau pria. Jika melakukan tindakan kriminal ya harus bisa menerima konsekuensinya. Ada sebab ada akibat, salah siapa dia berbuat ya harus berani bertanggung jawab."
"Yah nggak setuju hanya karena rasa kasihan, lantas kamu cabut tuntutan Wildan pada gadis itu. Memaafkan bukan berarti juga membiarkan ia bebas berkeliaran setelah melakukan kesalahan."
"Biarkan ia jera dan menerima hukuman yang setimpal. Intinya ayah tak mau loh ya nanti jika di kantor polisi kamu seenaknya mencabut tuntutan."
Nara sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika Ayah Bimo sudah berkata seperti itu karena ia tak ingin membuat ayahnya marah atau bahkan kecewa.
Hingga ia pun pasrah dengan keputusan ayahhya. Baru saja ayahnya berkata, datanglah Komandan kepolisian bersama dengan Wildan.
"Selamat siang, Pak. Kami datang untuk mengajak Nona Nara melakukan visum dengan kejadian yang telah menimpa dirinya. Untuk memperkuat bukti di pengadilan dan untuk salah satu persyaratan esok pagi akan di adakan adanya sidang penentuan masa hukuman para pelaku," ucap Komandan kepolisian tersebut.
"Baiklah, pak. Tapi apakah saya boleh mendampingi anak saya?" tanya Ayah Bimo untuk memastikan.
"Silahkan saja, pak."
Hingga saat itu judaAyah Bimo menemani Nara untuk melakukan visum. Wildan juga turut serta, hanya Bu Resy saja yang tak turut serta dengan mereka.
Hanya beberapa menit saja, Nara berada di rumah sakit dan setelah itu, Komandan kepolisian mengajak Nara ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut perihal tindak pengeroyokan yang terjadi pada dirinya.
Satu jam lamanya Nara berada di kantor polisi. Setelah itu ia di izinkan untuk kembali ke rumah. Akan tetapi sebelum pulang, Ayah Bimo penasaran dengan otak atau dalang dari pengeroyokan terhadap Nara. Hingga ia meminta izin pada Komandan kepolisian tersebut untuk sejenak bertemu Tya.
"Oh jadi kamu dalang dari pengeroyokan terhadap anak saya? apa kamu tidak berpikir jika ketahuan kamu akan mendapatkan hukuman penjara dalam waktu lama? apa kamu tidak menyayangkan yang terjadi ini, masa mudamu terbuang sia-sia di tahanan?" ucap Ayah Bimo kesal.
Tya hanya diam saja, ia tertunduk malu. Ia pun telah menyadari akan kesalahannya itu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur tidak dapat kembali menjadi nasi.
__ADS_1