Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Menyambangi Rumah Nara Yang Baru 1


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di rumah Nara, Tara dan orang tuanya berpamitan pulang dan rencananya besok pagi mereka akan turut serta ke rumah Nara yang baru yakni di kota J.


Kini rasa bahagia kembali menyelimuti pada diri Tara walaupun dia merasa ada yang kurang karena jarak yang memisahkan dirinya dengan Nara.


Tapi hatinya sudah sangat lega karena Nara sudah memaafkan dirinya dan dia pun sudah bisa kembali ke sekolah tanpa ada hinaan atau ejekan lagi dari teman-teman sekelasnya.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya, pagi sudah menjelang Tara dan orang tuanya telah bersiap-siap menuju ke rumah Nara lagi. Karena mereka akan turut serta ke rumah Nara yang baru yang ada di kota J.


"Apa kita akan pergi sekarang juga, bagaimana Mbak Hety-Mas Hesa apa kalian sudah siap?" tanya Ayah Bimo untuk memastikan.


"Kami sudah siap Mas Bimo, ayo kita berangkat sekarang juga karena lebih cepat lebih baik. Kami juga sudah tidak sabar lagi ingin melihat rumah baru Mas Bimo yang ada di kota J," ucap Hesa antusias.


Hingga pada akhirnya saat itu juga keluarga Tara dan keluarga Nara berangkat ke kota J menuju ke rumah baru keluarga Nara.


Perjalanan dari kota B ke kota J memakan waktu beberapa jam lamanya, namun itu tidak menjadi suatu hambatan atau rintangan bagi Tara. Dia malah sangat senang sekali akan menyambangi rumah baru keluarga Nara.


Setelah sampai di rumah baru keluarga Nara, Tara sempat terpesona begitu pula orang tuanya. Karena rumah Nara yang sekarang lebih megah dan mewah dibandingkan rumahnya yang dahulu.


"Mas Bimo, hebat sekali ya? rumahnya luas pelatarannya dan juga terlihat asri serta sejuk banyak pepohonannya. Intinya rumah ini terasa sangat nyaman sekali walaupun aku belum masuk ke dalam. Dilihat dari luar sudah sangat membuat kerasan jika tinggal di sini," puji Hesa.


"Mas Hesa, terlalu berlebihan dalam memuji. Ini kan bukan rumah pribadiku tetapi ini adalah inventaris dari kantor di mana saat ini aku bekerja," ucap Bimo.


"Tapi tetap menurutku itu hebat loh, mas." Hesa mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Bimo seraya tersenyum renyah.


"Sebaiknya kita masuk yuk, mba-mas " Ajak Bimo.

__ADS_1


Dua keluarga masuk ke rumah Nara dan keduanya duduk di ruang tamu. Sementara Nara dan ibunya lekas melangkah ke dapur meminta bibi untuk membuatkan minuman serta menyiapkan beberapa cemilan yang sudah tersedia, Untu di sajikan ke ruang tamu.


Tawa riang baru saja terdengar dari dua keluarga ini, entah mereka bercerita apa saja begitu antusiasnya sesekali disertai dengan canda tawa.


Bahkan keluarga Tara diminta untuk menginap untuk beberapa hari kedepannya karena kebetulan libur sekolah yang cukup lama. Dan hal itu tidak ditolak oleh keluarga Tara, dengan senang hati mereka menerima tawaran dan ajakan untuk menginap di rumah Nara untuk beberapa hari kedepannya.


Nara sengaja memilih untuk mengobrol dengan Tara di teras halaman, sementara orang tua Nara dan orang tua Tara mengobrol di ruang tamu. Lain halnya dengan adik Nara, dia malah asik sendiri masuk ke dalam kamarnya untuk melihat acara televisi yang dia suka.


"Nara, loe kerasan tinggal di sini?" tanya Tara memecah kesunyian.


"Alhamdulillah, kerasan. Dan kebetulan semua teman baru gwe juga baik nggak seperti di sekolah di kota B, dimana semua teman terus saja menghina kondisi ekonomi keluarga gwe," ucap Nara dengan sangat sumringah.


"Syukurlah Nara jika loe kerasan di sekolah baru loe. Berbeda dengan gee sejak nggak ada loe di sekolahan terasa ada yang hilang dalam hidup gwe," Tara memasang wajah murungnya.


"Loe nggak boleh seperti itu Tara, harus selalu semangat walaupun gwe nggak ada di samping loe. Tapi kan kita masih bisa berkomunikasi setiap saat, lewat ponsel," ucap Nara memberikan penghiburan pada Tara.


"Nggak usah cerita tentang dia, gwe enek dengarnya," tegur Nara tak suka.


"Ya, maaf. Gwe janji nggak akan cerita dia lagi. Oh ya, btw setelah lulus loe akan kuliah di mana? biar gwe juga ikut kuliah di kampus yang sama seperti loe. Supaya gwe bisa dekat terus sama loe lagi," ucap Tara penasaran.


"Untuk saat ini gwe belum ada bayangan akan kuliah dimana nantinya, karena gwe di sini sedang merintis usaha cemilan gwe yang sempat berhenti di kota B. Di sini gwe sedang mulai lagi," ucap Nara


"Wah, loe memang hebat. Walaupun ayah loe sudah sukses. Tapi loe nggak takut cape. Jiwa bisnis loe besar ya, Nara," puji Tara mengacung kedua ibu jarinya pada Nara.


"Gwe belum hebat, karena gwe baru merintis belum juga berhasil, belum sukses. Jadi loe nggak usah mujinya setinggi langit, yang ada ntar gwe jatuh dan sakit dech," canda Nara terkekeh.

__ADS_1


Mereka terus saja asik bercengkrama di teras halaman. Begitu pula dengan orang tua mereka.


"Nara, bagaimana kalau kita keluar sejenak yuk?" ajak Tara.


"Boleh juga, tapi kita naik sepeda motor saja ya? nggak usah mobil, mau nggak?' tanya Nara.


"Siap, Bos Nara."


Saat itu juga Tara dan Nara meminta izin untuk sejenak berkeliling menggunakan sepeda motor milik Ayah Bimo.


Mereka berkeliling ke sekitar kota J, seraya bercanda ria. Nara begitu mesra dengan tangan bertumpu pada pinggang Tara.


"Nara, jika loe kelak jadi istri gwe. Loe mau nggak?"


Pertanyaan Tara membuat Nara terhenyak kaget.


"Hadeh, kita ini masih kecil Tara. Sekolah saja belum lulus. Umur baru menginjak tujuh belas tahun, pemikiran loe sudah ke nikah saja," ucap Nara terkekeh.


"Nara, gwe kan nggak minta kita nikah sekarang. Tapi gwe bilang kan kelak jika kita sudah dewasa," ucap Tara.


"Gwe nggak bisa janji, Tara. Karena gwe kan nggak tahu kedepannya akan seperti apa dan apakah umur gwe panjang atau nggak, kita kan nggak tahu," ucap Nara.


"Ya sudah dech, gwe nggak akan tanya ini lagi sama loe. Semoga saja kelak kita berjodoh," ucap Tara sangat berharga berharap.


"Amin, semoga saja ya Tara. Karena kehidupan ini sudah ada yang mengaturnya jadi kita tak bisa memutuskan sendiri bagaimana nantinya kehidupan kita," ucap Nara.

__ADS_1


Mereka pun terus saja berkeliling, seraya terus saja bercerita panjang lebar.


__ADS_2