Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Ke Rumah Nara


__ADS_3

Mendengar akan saran dari istrinya, suaminya sangat setuju. Mereka sangat menjunjung tinggi kebenaran dan juga rasa persahabatan dan persaudaraan.


Mereka tidak pernah gengsi untuk meminta maaf walaupun mereka adalah orang dari kalangan atas. Mereka juga tak pernah merendahkan seseorang yang tingkat ekonominya di bawah mereka.


"Itu usul yang sangat bagus, mah. Papah sangat setuju, dan saat ini juga kita ke rumah Nara. Seharusnya dari awal kamu buat masalah ini kamu langsung cerita pada kami. Bukan malah diam saja dan membiarkan masalah ini berlarut-larut tak ada jalan penyelesaiannya," ujar papahnya.


"Pah, aku minta maaf. Aku pikir bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, makanya aku sengaja tak mengatakan hal ini pada mamah dan papah," ucap Ara membela diri.


"Tapi yang ada kamu nggak bisa menyelesaikannya kan? makanya jangan menggampangkan segala hal!" bentak Papahnya kesal pada Ara.


"Pah, sudahlah. Jika kita terus saja berdebat lantas kapan kita akan ke rumah, Nara?" lerai mamahnya lagi.


Hingga saat itu juga, Ara dan orang tuanya menyambangi rumah Nara. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di depan pelataran rumah Nara.


Orang tua Nara menyambut baik kedatangan Ara dan orang tuanya. Akan tetapi tidak dengan Nara, karena saat ini dia sedang sibuk membuat cemilan di dapur.


"Tumben rame-rame kemari?" tanya Ayahnya Nara penasaran melihat kedatangan Ara bersama orang tuanya.


"Kami datang kemari ingin meminta maaf atas kesalahan anak kami pada Nara," ucap Papahnya.


Sejenak orang tuanya Nara saling berpandangan satu sama lain. Hingga pada akhirnya papahnya Ara bercerita panjang lebar tentang kesalahan yang telah di lakukan oleh Ara pada Nara.


"Oalah, itu toh. Kok sampai kalian datang kemari sih, padahal kami saja tak pernah mempermasalahkan hal ini. Karena ini adalah masalah anak-anak kira, jadi orang tua tak berhak turut campur. Lagi pula seusia Nara dan Ara itu masih sangat labil," ucap Ayah Nara terkekeh.


"Ini yang aku suka darimu, kamu itu sangat bijaksana sehingga aku suka bersahabat denganku." Ucap papahnya Ara seraya menepuk bahu ayah Nara.

__ADS_1


"Nggak usah memuji dech, aku itu manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa juga. Jadi bagiku wajar saja jika ada peraselisihan diantara anak-anak kita. Justru kami minta maaf, jika Nara masih berkeras hati belum mau memaafkan Ara," ucap Ayahnya Nara.


"Jadi sebenarnya kamu juga sudah tahu akan hal ini? tapi kenapa kamu tak berceruta padaku?" ucap papahnya Ara melirik sinis pada ayah Nara.


"Bukannya aku katakan tadi jika aku tak begitu serius dengan hal ini. Karena masalah anak-anak yang baru memasuki usia puber," ucap Ayah Nara terkekeh.


"Naranya mana, jenk? kok sepi sih?" tanya mamahnya Ara pada Bu Resy.


"Dia sedang asik di dapur membuat cemilan untuk di jual di mini market dan toko snack milik papah temannya," ucap Resy.


"Wah, hebat tuh anak gadismu jenk. Jaman sekarang jarang loh ada anak gadis yang berpikiran positif seperti itu. Kebanyakan anak jaman sekarang suka sekali kelayaban di luaran sana," puji Mamahnya Ara.


"Sebentar aku panggilkan ya?" Bu Resy beranjak bangkit dari duduknya dan melangkah ke dapur.


Tak berapa lama, Bu Resy telah datang bersama dengan Nara. Melihat siapa yang datang, Nara ingin berbalik arah ke dapur tetapi di tahan oleh Bu Resy, hingga terpaksa Nara pun menuruti kemauan ibunya.


"Nara, Om dan Tante datang kemari untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah di lakukan oleh Ara. Mohon di maafkan ya, karena Ara selalu saja kepikiran dan banyak murung mengingat kesalahannya padamu," ucap papahnya Ara.


"Ya, om. Nggak apa-apa kok, wajar saja Ara berbuat seperti itu pada saya karena saya hanya anak dari seorang pegawai biasa, om," ucap Nara masih terngiang apa yang Ara dan teman-teman gengs motornya menghina dia waktu itu.


"Nara, kamu tak boleh mengatakan hal seperti itu! nggak baik tahu," tegur Bu Resy.


"Bu, itu bukan kata-kata aku kok. Itu kata-kata dari Ara di hadapan teman-teman gengs motornya. Aku mah nggak apa-apa di hina di buli macam-macam. Tetapi jika sudah menghina orang tuaku yang katanya cuma tukang laundry dan ayahku hanya bekerja di staf biasa, jujur saja aku nggak terima, Bu."


"Aku sangat sayang sama ayah dan ibu. Tapi kalian di hina di tertawakan hanya karena pekerjaan kalian. Bahkan katanya aku ini tak pantas dekat dengan, Ara. Ya sudah nggak apa-apa kok," ucap Nara meluapkan emosinya pada Ara di depan orang tuanya.

__ADS_1


"Nara, sekali lagi kami minta maaf ya atas apa yang telah Ara lakukan padamu, Om berharap kalian akur lagi dan berteman baik lagi seperti dulu," ucap Papahnya Ara menatap sendu ke arah Nara.


"Om, saya sudah memaafkan Ara sejak lama. Tapi untuk bersikap seperti dulu lagi, saya minta maaf belum bisa. Mohon om dan Tante bisa mengerti ya. Oh ya, saya permisi om-tante. Karena saya sedang banyak kerjaan, bikin cemilannya masih banyak," ucap Nara mencoba tersenyum tanpa menoleh ke arah Ara sama sekali.


"Nara, gwe bantu ya?" ucap Ara.


"Nggak usah, terima kasih."


Ara sedih sekali karena tak berhasil meluluhkan hati Nara yang sudah begitu tersakiti olehnya.


"Hem, kalau begitu kami permisi pamit pulang. Sekali lagi kami mohon maaf atas apa yang pernah di lakukan Ara pada Nara." Papahnya Ara menangkupkan kedua tangannya di dada.


Begitu pula dengan Mamahnya dan Ara juga melakukan hal yang sama.


"Justru kami yang minta maaf atas perkataan Nara barusan. Nanti akan. kami nasehati kembali supaya tidak bersikap seolah tadi," ucap Ayahnya Nara merasa tak enak dengan apa yang barusan di katakan oleh Nara.


"Nggak usah kamu tegur, Nara. Karena dia tak salah, dia hanya mengulang kata-kata yang pernah di katakan oleh Ara dan para temannya waktu itu," ucap Papahnya Ara.


Mereka pulang dengan rasa kecewa dan kesal akan sikap Ara. Karena apa yang Ara katakan berbeda dengan vaoa yang barusan di katakan oleh Nara.


Pada saat di dalam mobil, Papahnya langsung menghardik Ara.


"Ara, apa benar kamu sempat menghina profesi orang tua Nara di depan teman-teman gengs motormu?" tanya papahnya ketus.


"Aku kan cuma bercanda, pah. Hanya Naranya saja yang waktu itu menganggap serius," bela Ara.

__ADS_1


"Apa, jadi kamu benar-benar melakukan hal itu pada Nara? pantas saja dia marah besar!" bentak Papahnya.


__ADS_2