
Ronald semakin penasaran dengan apa yang di katakan oleh Nara. Dia pun kemudian meminta penjelasan dari Nara. Dan Nara tanpa sungkan tiba-tiba menceritakan semuanya padanya.
"Ya Allah, ternyata hubungan percintaan antara Nara dan Ara hanya terjadi sesaat saja. Pada saat gwe pergi sejenak, mereka juga telah berpisah."
"Ini justru kesempatan untuk gwe mendekati Nara. Gwe tidak akan kecewakan dia seperti Ara mengecewakannya."
Nara merasa heran pada, Ronald. Kenapa pada saat dirinya selesai bercerita tentang Tara, tiba-tiba Ronald langsung diam tanpa kata. Nara pun memberanikan diri bertanya pada, Ronald.
"Ronald, ada apa dengan loe? kenapa pada saat loe mendengar cerita gwe tentang Tara, loe malah diam saja?" tanya Nara menyelidik.
"Gwe diam karena sedang meresapi isi dari cerita loe barusan. Gwe rasa Tara itu yang benar-benar telah jatuh cinta pada loe. Menurut gwe seperti itu, apa loe sama sekali tak cinta padanya?" tanya Ronald ingin memastikan.
"Hem, masa sih? selama ini dia tak pernah jujur pada gwe kalau dia cinta makanya gwe tak tahu. Hem kalau mengenai rasa gwe padanya, pada saat itu jujur saja gwe sama sekali tak ada rasa cinta kepadanya. Hanya gwe sayang dia sebagai seorang sahabat saja. Hingga saat inipun gwe masih sayang dia sebagai seorang sahabat, dan bila dia benar-benar cinta. Gwe rela kok membalas cintanya walaupun gwe sama sekali belum ada rasa sedikitpun padanya," ucap Nara polos.
"Jadi loe akan terima dia sebagai pacar loe?" tanya Ronald penasaran.
"Iya, sebagai penebus rasa salah gwe padanya. Dan gwe juga akan berusaha untuk mencintai dirinya. Karena gwe yakin Tara itu tulus tidak seperti Ara yang hanya bohongi gwe saja. Gwe juga yakin, seiring berjalannya waktu pasti gwe bisa cinta padanya. Tapi sayangnya hingga detik ini gwe tak tahu dimana keberadaan, Tara saat ini," Nara tertunduk lesu.
Mendengar akan hal itu, Ronald sangat senang dan dia sangat bersemangat.
"Jika begitu gwe akan kembali pada diri gwe yang asli saja. Hem, tapi gwe nggak ingin ceroboh dech," batinnya mulai gelisah.
Ronald atau Tara ini sangat senang mendengar apa yang di katakan oleh Nara. Dia kini sangat yakin jika Nara akan bisa dia miliki seutuhnya dan akan mencintai dia apa adanya.
"Nara, maukah loe berteman dengan gwe?" tanya Ronald.
"Apa loe nggak nyesel nantinya, gwe bukan anak orang kaya. Ayah gwe hanya pekerja staf biasa, ibu gwe cuma tukang laundry," ucap Nara merasa minder dengan Ronald.
__ADS_1
"Justru gwe akan bangga bisa berteman dengan gadis sebaik loe."
Hingga sejak saat itu, Nara dan Ronald bersahabat baik. Bahkan banyak yang iri dengan keakraban mereka terutama kamu hawa yakni siswi di sekolah tersebut. Ara juga merasa tak suka dengan Ronald.
"Ronald, kenapa loe datang-datang main serobot cewe orang?" tegur Ara yang membuat Ronald hanya tersenyum sinis.
"Loe pikir gwe nggak tahu cerita tentang loe yang hanya membohongi Nara kan? gwe tahu semuanya bagaimana loe menembak Nara dan pada akhirnya hanya di jadikan sebagai taruhan supaya loe menang," ucap Ronald yang membuat Ara terhey kaget.
"Dari mana anak baru ini tahu akan hal ini? masa iya Nara menceritakan padanya?" batin Ara.
"Hem, loe nggak usah heran darimana gwe tahu karena Nara sendiri yang cerita ke gwe tentang hal ini," ucap Ronald berlalu pergi dan dia mencari keberadaan Nara.
"Sialan banget sih, anak baru itu! padahal gwe belum selesai berbicara malah pergi begitu saja!" batin Ara kesal.
"Hem, kali ini gwe nggak akan melepaskan Nara begitu saja. Dan gwe akan pastikan loe menyesal dengan apa yang telah loe lakukan pada, Nara," batin Ronald.
Hari-hari berlalu begitu cepatnya, Ronald semakin dekat dengan Nara.
"Nara, ada yang ingin gwe katakan pada loe," ucap Ronald.
"Katakan saja, kenapa pake acara izin segala sih?" Nara terkikik.
"Nara, gwe suka dan cinta sama loe. Apakah loe mau menjadi kekasih gwe?"
Mendengar ungkapan cinta dari Ronald tidak lantas membuat hati Nara luluh dan berbunga-bunga. Dia justru tak suka.
"Ronald, jujur gwe masih trauma dengan percintaan gwe yang lalu. Gwe nggak bisa terima loe, bagaimana kalau kita berteman saja. Lagi pula gwe juga belum tenang jika belum menemukan keberadaan, Tara."
__ADS_1
"Gwe belum tenang jika belum bertemu dengan Tara dan meminta maaf padanya langsung. Bagi gwe untuk saat ini yang terpenting adalah permintaan maaf pada, Tara."
Mendengar penolakan pada Nara, Ronald sempat kecewa tetapi dia takkan menyerah begitu saja. Justru dia semakin bersemangat untuk bisa meluluhkan hati, Nara.
"Ronald, sekali lagi gwe minta maaf ya." Nara menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Loe nggak usah sungkan dan merasa tak enak hati seperti itu. Gwe nggak apa-apa kok, gwe bisa memahami nya," ucap Ronald tersenyum kecut.
Penolakan Ronald membuatnya semakin bertambah benci pada, Ara.
"Gara-gara, Ara. Nara menjadi trauma dengan yang namanya cinta. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Gwe harus memberinya pelajaran. Gwe juga sakit hati gara-gara waktu itu," batin Ronald.
Ara mendekat menghampiri Ronald dengan percaya dirinya.
"Heh, loe kan murid baru! jadi loe nggak usah bertingkah dech! Tolong jangan ganggu atau dekat lagi dengan Nara, karena gwe tak suka!" bentak Ara tepat di hadapan Ronald.
"Heh, siapa loe melarangnya dekat dengan gwe!" tiba-tiba Nara datang dan langsung melotot ke arah Ara.
"Nara, gwe nggak suka murid baru ini dekati loe." Ara gugup di hadapan Nara.
"Loe bukan siapa-siapa gwe lagi. Apa loe sudah lupa bagaimana loe mutusin gwe dan mempermalukan gwe di hadapan teman-teman loe yang gengs motor itu?"
"Apa loe lupa bagaimana loe tersenyum bahagia pada saat gwe di buly di hina macam-macam oleh teman-teman loe?"
"Loe puas dan senang kan telah berhasil menang taruhan waktu itu dan mendapatkan banyak uang?"
Perkataan Nara sangat menyentil hati, Ara. Dia sama sekali tak bisa berkutik apa lagi membalas apa yang telah Nara katakan. Dia hanya bisa tertunduk malu mengingat semua kesalahannya pada, Nara.
__ADS_1
"Kenapa loe diam saja? nggak bisa jawab apa yang barusan gwe katakan? pergi sana jangan ganggu gwe dan ingat satu hal, loe sama sekali tak berhak mengatur dengan siapa gwe dekat. Karena gwe tetap akan dekat dengan Ronald. Dan loe Ronald tak usah dengarkan apa yang dia katakan barusan," ucap Nara sangat kesal.