
Mendengar pertanyaan Nara, justru Wildan terkekeh.
"Justru tujuanku mengajar di kampus itu karena aku sedang ingin mencari pendamping hidupku. Bukan sekedar untuk mendjsdi seorang dosen."
"Nara, sebenarnya aku ini seorang direktur di sebuah perusahaan milik peninggalan keluarga dari mamah ku."
"Menjadi dosen itu hanyalah sebagai sampingan saja dan juga aku juga ingin mendapatkan pendamping hidup."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Wildan, Nara sudah tidak kaget lagi karena ia pernah dengar dari teman sekelasnya pada waktu itu.
"Mas Wildan, jadi apa yang dikatakan oleh beberapa teman sekelasku itu benar adanya. Aku pikir hanya isapan jempol dan gosip belaka," ucap Nara.
"Memangnya apa yang telah dikatakan oleh teman-temanmu itu?" tanya Wildan penasaran.
"Nah yang barusan Mas Wildan katakan tadi, bahwa Mas Wildan itu adalah seorang direktur di sebuah perusahaan. Karena ada salah satu saudara temanku yang bekerja di sebuah perusahaan yang dipimpin oleh Mas Wildan," ucap Nara menjelaskan.
"Aku pikir di kampus tidak ada yang tahu tentangku karena aku sengaja menutupi jati diriku yang sebenarnya. Aku minta padamu supaya merahasiakan jati diriku yang sebenarnya ya. Jangan kamu ceritakan pada semua yang ada di kampus jika aku ini memang benar seorang direktur," ucap Wildan.
"Siap, Pak Dosen. Aku tidak akan mengatakan hal itu, karena aku bukan tipe wanita yang suka bergosip ria," ucap Nara.
"Lantas jika hubungan kita di ketahui oleh semua yang di kampus bagaimana, Mas Willdan? apa nggak sebaiknya kita sembunyikan saja hubungan kita, supaya sama-sama aman atau bagaimana sih baiknya?" tanya Nara bingung.
"Ya sudah untuk sementara waktu kita sembunyikan dulu hubungan kita dari semua orang yang ada di kampus," ucap Wildan.
"Baiklah Mas Willdan, aku setuju akan keputusan ini."
Keduanya saling berjabat tangan satu sama lain. Hal ini juga sempat dilihat oleh Tya yang sedari tadi melihat keduanya asik bercengkrama.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka katakan sih? aku sama sekali tak bisa mendengarnya karena jarakulku begitu jauh dari mereka. Lantas kenapa tadi Willdan bersorak kegirangan dan untuk apa mereka saling berjabat tangan?"
__ADS_1
"Aaahhh.... semakin penasaran aku dengan hubungan mereka berdua. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua, apa memang ada hubungan atau hanya sebatas guru dan murid?"
"Sialan kamu Willdan, sudah membuat aku menjadi penasaran seperti ini! aaahhh.. bagaimana aku bisa tahu kebenaran tentang hal ini ya?"
Tya semakin gelisah dan penasaran melihat keakraban antara Nara dan Willdan. Tetapi ia tak tahu harus mencari tahu lewat siapa. Ia pun memutuskan untuk pulang saja karena sudah terlalu lama mengamati Wildan.
"Sebaiknya aku pulang saja karena waktu sudah larut malam. Yang ada nanti aku di omelin sama mamah dan papah jika terlalu lama berada di luar rumah."
Tya pun melajukan mobilnya arah jalan pulang. Tak berapa lama Willdan juga berpamitan pulang karena tak enak jika berlama-lama di rumah Nara.
Hanya beberapa menit saja Wildan sudah sampai di pelataran rumah, senyum cerianya begitu terpancar di wajahnya.
"Wildan, kamu kenapa cengengesan sendiri seperti itu terlihat sekali kamu sedang bahagia?" tegur Papah Rendra.
"Jelas aku sedang bahagia pah, karena aku sudah mengungkapkan isi hatiku kepada Nara, hati ini sudah lega dan tidak ada lagi rasa resah dan gelisah," ucap Willdan sumringah.
"Ya ilah papah, jika Nara tidak menerimaku mana mungkin aku sebahagia ini dan seceria ini," ucap Wildan.
"Benarkan apa yang tadi papah katakan? tidak akan mungkin Nara itu menolakmu, karena kamu itu sangat tampan rupawan," ucap Papah Rendra terkekeh.
"Hehehe papah ini bisa saja deh," tawa renyah Wildan.
"Wildan, kamu sudah pulang? sana lekas makan malam dulu mumpung lauk pauknya masih hangat, kalau sudah dingin nggak nikmat rasanya," perintah Mamah Rifda yang baru nongol di ambang pintu ruang tamu.
"Maaf mah, aku sudah makan di rumah Nara. Bahkan sampai menambah porsi makanku. Ternyata di samping Nara itu pintar dan juga hebat dia pintar masak juga loh mah-pah."
"Pada saat aku baru datang Nara itu sedang asyik di dapur memasak. Bahkan ia terlihat minder pada saat menemui aku. Katanya masih bau bumbu, hingga ia mandi sejenak.".
Wildan menceritakan pengalamannya barusan di rumah Nara dari awal hingga akhir. Bahkan ia juga menceritakan tentang sikapnya yang sepintas berteriak pada saat Nara menerima dirinya menjadi seorang kekasih.
__ADS_1
Orang tua Willdan terbahak-bahak pada saat mendengar cerita dari anak sulungnya itu.
"Astaga, Willdan. Kenapa sih sikap latahmu itu keluar di saat yang kurang tepat? lantas kamu menjadi malu dong," ucap Mamah Rifda seraya menggelengkan kepalanya.
"Hhee jelas malulah mah, tapi mau bagaimana lagi toh semua terjadi begitu saja tanpa aku sadari kok," ucap Wildan terkekeh.
"Mah-pah, aku minta doanya ya supaya kali ini hubunganku dengan Nara langgeng. Akuntaj ingin alami lagi patah hati karena di hianati. Aku ingin Nara untuk yang terakhir buatku."
"Doakan supaya kami lekas menikah dan pernikahan kami ini langgeng selamanya dan hanya maut yang memisahkan kami."
Mendengar ucapan dari Willdan, ada sedikit rasa haru di hati orang tuanya. Tat kala sejenak mereka ingat akan kegagalan hubungan percintaan Willdan dengan Tya.
"Ya, Willdan. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. Dan kami yakin jika Nara itu jauh lebih baik dari pada Tya," ucap Mamah Rifda.
Rasa bahagia juga kini sangat terlihat di wajah Nara, hingga orang tuanya juga penasaran.
"Nara, sebenarnya apa yang barusan membuat Willdan berteriak?" tanya Bu Resy karena ia masih saja penasaran dengan sikap Wildan barusan.
"Hhee itu karena aku menerimanya sebagai kekasihku, Bu," ucap Nara tersipu malu.
"Wah, anak gadis ayah habis di tembak lagi nech. Asik dech kali ini mendapatkan seorang dosen, hebat kamu Nara bisa menggaet seorang dosen," puji Ayah Bimo seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Hem, sebaiknya aku katakan atau tidak ya? jika sebenarnya Mas Wildan itu seorang pengusaha? ah sebaiknya jangan dulu dech," batin Nara mengurungkannya niatnya untuk memberi tahu pada orang tuanya tentang jati diri Wildan yang sebenarnya.
"Syukur Alhamdulillah, ibu dan ayah ikut senang mendengarnya. Ibu yakin kalau Nak Wildan itu berbeda dengan Tara dan Ara. Ia lebih dewasa dan pasti hubungan kalian akan langgeng," ucap Bu Resy ikut bahagia.
"Ayah berdoa supaya hubungan kalian bukan hanya sekedar pacaran paku putus tetapi lanit hingga ke jenjang pernikahan," ucap Ayah Bimo.
Semua meng aminkan begit juga dengan Nara.
__ADS_1