Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Paket Rahasia


__ADS_3

Setelah mengetahui Kakung yang di kenakan oleh Nara adalah pemberian dari Willdan, Bu Resy tak bertanya lagi.


Hanya saja ia sempat berpikir, kenapa pula Wildan begitu loyal. Bu Resy kadang merasa tak enak dengan kedua orang tua dari Willdan.


"Memang senang juga jika Wildan memperlakukan Nara dengan sangat baik. Tetapi kadang aku merasa tak enak hati juga, khawatir jika orang tua Wildan berpikiran macam-macam tentang Nara," batinnya.


"Bu, kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?" tanya Ayah Bimo.


"Begini, ayah. Tadi Ibu tak sengaja melihat Nara memakai kalung berlian katanya pemberian dari, Willdan," jawab Bu Resy.


"Lantas kenapa jika Nara memakai kalung pemberian dari, Willdan?" tanya Ayah Bimo lagi.


"Ibu tak enak pada orang tua Wildan, ayah. Ibu khawatir mereka berpikir bahwa Nara ini yang meminta macam-macam pada, Wildan," ucap Bu Resy.


"Itu hanya pemikiranmu saja, ayah rasa orang tua Wildan bukanlah orang tua yang seperti itu. Ayah bisa melihat dari sikap kedua orang tuanya terhadap Nara. Jika Nara memakai kalung berlian dari Willdan, itu sudah wajar jika seseorang kekasih ingin memberikan tanda kasihnya kepada orang yang ia sayang."


"Sudahlah Bu, tak usah berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang berpikirlah yang positif saja yang baik-baik saja supaya hasilnya juga baik."


Setelah mendengar saran dari suaminya, Bu Resy pun sudah tidak berpikiran negatif kepada orang tua Willdan.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa pikiranku negatif terhadap orang lain ya? apa yang dikatakan oleh suamiku memang benar adanya," batin Bu Resy.


Selagi asyik duduk di depan teras rumah, tiba-tiba ada kurir datang mengirimkan sebuah paket.


"Selamat sore, Pak-Bu. Apa benar ini rumahnya, Mba Nara?" tanya sang kurir.


"Sore juga Pak, iya benar sekali ini memang rumah Nara," jawab Ayah Bimo.


"Saya datang kemari untuk mengirimkan sebuah paket untuk Mbak Nara, pak."


Kurir tersebut memberikan paket kepada Ayah Bimo.


"Maaf, Pak. Ini dari siapa ya, kok tidak tertera nama pengirimnya?" tanya Ayah Bimo curiga seraya membolak-balik bingkisan paket tersebut.


"Saya juga tidak tahu, Pak. Saya hanya mendapatkan tugas dari kantor untuk mengirimkan paket tersebut ke rumah Mbak Nara," ucap sang kurir.

__ADS_1


"Apa mungkin Nara memesan sesuatu dari jual beli online ya, Ayah?" tanya Bu Resy memicingkan alisnya.


"Kalau memang Nara membeli sesuatu atau memesan sesuatu dari pelayanan jual beli online pasti di paket ini juga tertera nama tokonya, bu. Tapi kan ini sama sekali tidak ada yang tertera nama toko ataupun nama pengirimnya," ucap Ayah Bimo.


"Ya sudah Pak, kalau begitu terima kasih ya," ucap Ayah Bimo pada sang kurir.


Namun terlebih dahulu, kurir meminta tanda tangan pada Ayah Bimo untuk bukti bahwa paket tersebut telah di terima.


"Sebentar ya ayah, biar Ibu panggil Nara suruh keluar."


Sejenak Bu Resy bangkit dari duduknya melangkah masuk ke rumah menuju ke kamar Nara.


Bu Resy memberitahukan pada Nara bahwa ada seseorang mengirim paket untuk dirinya tetapi tidak ada nama pengirimannya sama sekali.


Nara pun ikut penasaran setelah ibunya mengatakan hal itu, ia pun melangkah keluar mengikuti langkah kaki ibunya menuju ke teras halaman.


Nara membolak-balik paket tersebut dia pun heran seraya memicingkan alisnya.


"Nara, apa kamu benar-benar tidak tahu ada seseorang yang akan mengirimkan paket untukmu atau ada temanmu mungkin yang memberitahukan bahwa dirinya mengirim paket untukmu?" tanya Ayah Bimo menjadi semakin penasaran.


"Coba kalau begitu dibuka paketnya, ayah dan ibu kok menjadi penasaran seperti ini dengan isi paket tersebut yang tidak ada nama pengirimnya sama sekali," perintah Ayah Bimo.


"Aku kok mendadak takut, ayah. Khawatir isinya itu adalah sebuah bom," ucap Nara terkekeh.


"Hust....kalau mau ngomong itu loh sembarangan;" tegur Bu Resy manyun.


"Hehehe... bercanda kok Bu," ucap Nara terkekeh.


Saat itu juga Nara membuka paket dengan secara perlahan-lahan. Ia pun juga penasaran dengan pengirim paket tersebut.


Pada saat paket tersebut telah berhasil dibuka ada secari kertas berisikan tulisan mengucapkan selamat ulang tahun pada, Nara.


[Nara, selamat ulang tahun semoga panjang umur sehat selalu dan bahagia selalu di dalam hidupmu. Aku minta maaf untuk segala kesalahanku di masa lalu semoga kamu mau menerima pemberianku ini sebagai kenang-kenangan sebagai tanda kasihku padamu karena selama ini aku masih menyayangimu selalu.]


Isi paket tersebut adalah beberapa buah novel karangan dari pengarang yang sangat difavoritkan oleh Nara.

__ADS_1


"Siapa Nara, pengirimnya?"tanya Ayah Bimo.


"Sama sekali tidak ada nama dalam surat ini, ayah."


Nara memberikan surat tersebut pada ayahnya, bahkan ia tidak suka ayahnya untuk membacanya.


"Kalau menurut Ibu sih paling kalau bukan Ara, Tara atau Andre. Di antara tiga pemuda itu yang mengirimkan paket itu padamu," ucap Bu Resy.


"Entahlah Bu, aku juga tidak tahu karena ketiganya memang tahu kalau aku suka membaca novel," ucap Nara.


"Sudahlah tak usah dipusingkan Nara, bawa saja novel-novel tersebut. Lumayan kan bisa buat hiburan kamu yang memang gemar sekali membaca novel," ucap Ayah Bimo.


"Iya juga sih Nara, apa yang dikatakan ayahmu memang benar. Anggap saja itu rezeki buatmu," ucap Bu Resy.


Hingga pada akhirnya Nara pun membawa tiga buah novel tersebut masuk ke dalam rumah. Dia pun tidak ingin memusingkan siapa sebenarnya pengirim paket tersebut, yang terpenting isi paketnya tidak berbahaya untuk dirinya maupun untuk keluarganya.


"Alhamdulillah, mendapatkan tiga buah novel yang memang sudah sejak lama aku ingin membelinya tetapi aku belum sempat membelinya karena aktivitasku begitu padat," batin Nara tersenyum riang.


Nara membawa tiga buah novel tersebut ke dalam kamarnya.


Sementara di teras halaman kembali lagi datang kurir untuk mengirimkan paket.


"selamat sore, Tante-Om. Mohon maaf mengganggu apakah benar ini rumah dari, Non Nara?" tanya kurir yang agak gaul dengan memanggil Tante, Om, Sera Non Nara.


"Selamat sore juga, iya memang benar ini rumah Nara," jawab Ayah Bimo.


"Ada paket untuk, Non Nara."


Kurir tersebut memberikan paket itu pada Ayah Bimo.


Dan lagi-lagi tidak ada nama pengirim yang tertera di paket tersebut. Hanya ada kata Pengagum Rahasia.


Kembali lagi Bu Resy memanggil Nara keluar. Nara sempat heran karena sudah dua kali ada yang mengirimkan paket tanpa ada nama pengirimnya yang jelas.


Kembali lagi Nara membuka paket tersebut dan isinya lagi-lagi novel. Akan tetapi kali ini empat buah novel dengan satu pengarang yang sama, tetapi judul berbeda.

__ADS_1


__ADS_2